Beranda Kesehatan Ahli: epilepsi bukan penyakit kutukan

Ahli: epilepsi bukan penyakit kutukan

175
0
BERBAGI
Jakarta (ANTARA News) – Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Dunia (World Purple Day) yang jatuh pada tanggal 26 Maret lalu, Siloam Hospitals Lippo Village (SHLV) menggelar Seminar Awam Memperingati Hari Epilepsi dengan tema “Kupas Tuntas Mitos dan Pengobatan Epilepsi”.
Dokter Jeffry Oeswadi, MARS, vice CEO SHLV menyampaikan pentingnya menyampaikan kepada masyarakat bahwa epilepsi bukan penyakit menular dan bukan penyakit kutukan.
“Seminar ini digelar karena melihat banyak mitos beredar di masyarakat yang menganggap epilepsi sebagai penyakit kutukan dan penyakit menular,” papar dr. Jeffry Oeswadi, MARS, vice CEO SHLV.
“Padahal, sebenarnya epilepsi dapat dikontrol dengan minum obat teratur serta rutin kontrol pengobatan yang baik sesuai kondisi pasien. Penyandang epilepsy juga dapat hidup dan bekerja seperti orang kebanyakan, “ imbuh dr. Jeffry Oeswadi, MARS melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.
Tak dapat dipungkiri, sebagian masyarakat masih belum paham tentang apa itu epilepsy dan bagaimana seharusnya penanganannya, bahkan pasien dan keluarga masih malu dan menutupi bila ada anggota keluarga dengan epilepsi.
Karenanya seminar yang diadakan Siloam Hospitals Lippo Village (SHLV) turut memperlengkapi informasi kepada masyarakat awam mengenai strategi pengobatan dan motivasi agar jangan memberi stigma negatif terhadap penyandang epilepsi. 
Epilepsi merupakan penyakit neurologis atau terjadi gangguan pada otak. Sayangnya, serangan epilepsi seperti kejang terkadang dianggap bukan suatu penyakit. Kurangnya pengetahuan masyarakat, menyebabkan orang dengan epilepsi terlambat ditangani dan mendapat stigma atau pandangan negatif.
Pada kesempatan yang sama, Dr. dr.  Vivien Puspitasari, Sp.S., ahli spesialis saraf dari SHLV Mengatakan, di seluruh dunia terdapat 4 – 10 penduduk penyandang epilepsi per 10.000 penduduk pertahun. 
Sedangkan di Indonesia dari sekitar 250 juta penduduk, terdapat 1,5 juta jiwa hingga 2,4 juta jiwa penyandang epilepsi yang memerlukan pengobatan.
Proses penanganan pasien tidak cukup hanya menangani pasien saja, akan tetapi yang paling penting yaitu orang terdekat yang tinggal serumah dengan pasien, seperti orang tua, anak, keluarga terdekat.
“Penting karena mereka yang selalu ada bersama penyandang epilepsi setiap hari agar tidak panik setiap kali ada serangan terhadap pasien epilepsi,” sebut Vivien.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa serangan epilepsi dapat berbeda-beda pada setiap kasus karena tergantung pada fungsi otak mana yang terganggu, selain berupa kejang-kejang serangan epilepsi dapat pula berupa hilang kesadaraan sesaat seperti ‘bengong’, tiba-tiba menjatuhkan atau melempar benda yang dipegang.
Hal inilah yang harus dan perlu diketahui baik keluarga terdekat maupun khalayak ramai.
“Kami sebagai salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Propinsi Banten, siap melayani pasien dengan epilepsi,” demikian Vivien. 

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2017