in

Ajak Pentahelix, Kemenpar Otak-Atik Market MICE di Bali

Denpasar – Gerak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam mendongkrak MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) semakin cepat. Tak hanya rajin menggelar even MICE internasional di Indonesia, Forum Group Discussion (FGD) pun dilakukan untuk membedah pasar yang punya potensi spending besar itu. FGD MICE yang siap digelar di Aston Denpasar Hotel & Convention, Bali, 11-13 Mei 2017 itu memang dikhususkan mencari terobosan terkini, untuk menggoyang pasar tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti yang didampingi Plt Asisten Deputi Strategi Pemasaran Nusantara, Hariyanto, mengatakan, MICE saat ini merupakan bisnis dengan high-quality dan high-yield. Kontribusinya sangat tinggi terhadap perekonomian karena dalam pelaksanaannya menggunakan fasilitas pariwisata. “Selain berkonstribusi secara ekonomi, perkembangan Industri MICE memberikan peluang untuk berbagi pengetahuan (knowledge sharing), pengembangan jaringan (networking), dan pengembangan kapasitas (capacity building). Ini membuat MICE dapat dijadikan alat pendorong bagi pengembang intelektual dan meningkatkan kerjasama regional (UNWTO, 2012)” ujar Esthy yang diamini Plt saat Asisten Deputi Strategi Pemasaran Nusantara, Hariyanto, Rabu (10/5).

Dan Esthy tak asal bicara. Dari data statistik profil wisatawan nusantara yang dirilis Pusat Data dan Statistik Kementerian Pariwisata 2014, rata-rata pengeluaran perjalanan wisatawan nusantara yang mengadakan pertemuan, kongres, dan perjalanan bisnis mencapai Rp. 6.729.950 dari total pengeluaran wisnus sebesar Rp. 12.245.250. Market, size, spread, spending dan sustainabilitas-nya sangat besar. “Karenanya banyak pihak yang sudah mulai melirik destinasi MICE di Indonesia. Punya alam yang indah, dan paket yang menarik dengan kombinasi aktivitas MICE dan tourism,” ujarnya.

Namun, dalam implementasi pemasaran pariwisata, wisata MICE masih perlu dikembangkan. Masih perlu dirancang penerapan strategi yang tepat sasaran. “Ini yang harus dikejar sehingga target pergerakan wisatawan nusantara sebanyak 275 juta perjalanan di tahun 2019,” ujarnya. Nah, untuk mematangkan semuanya, seluruh stakeholder pariwisata yang berjumlah kurang lebih 50 orang di Bali ikut diundang ke acara tersebut. Unsur Pentahelixnya lengkap. Goverment-nya, diwakili Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, BPS kota Denpasar, BAPPEDA kota Denpasar, Polda Metro Jaya Provinsi Bali serta Badan Promosi Pariwisata Bali, semuanya ikut dilibatkan.

Unsur bisnisnya Industrinya diwakili KADIN kota Denpasar, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Group, Citilink, HPI, INCCA, ASITA, PHRI, ASPERAPI dan DPD Bali. Akademisinya, diwakili Sekolah Tinggi Pariwisata Bali dan Universitas Udayana. Sementara komunitasnya ada SIPCO (Society of Indonesia Professional Convention Organizer,red). “Satunya lagi media nasional,” tambahnya. Unsur Pentahelix ini ikut digandeng untuk menjaring masukan, ide, dan gagasan seputar pengembangan pariwisata MICE. “Harapannya, menghasilkan rekomendasi atau pedoman strategi pemasaran pariwisata nusantara yang komprehensif dan aplikatif,” ujarnya.

Menpar Arief Yahya juga sepakat dengan rencana even ini. “Bali memiliki jenis wisata yang paling lengkap. Kulturnya kuat, naturenya hebat, dan man made-nya juga kreatif, termasuk di dalamnya MICE, meetings, incentives, conferences and exhibitions,” kata Arief Yahya. Khusus MICE itu, yang terbaik di Indonesia adalah Bali Nusa Dua. Yang punya convention hall yang mampu menampung lebih dari 5.000 orang, dan memiliki hotel dan resort terintegrasi dalam satu kawasan. “Jadi kalau FGD MICE di Bali sudah sangat pas. Bali adalah tourism hub yang tidak mudah dikalahkan, dan sudah mendunia pamornya,” kata Arief Yahya.

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Sisi Lain Dwiarso Budi Santiarto, Hakim Kasus Ahok

Kemenpar dan Kadin Gelar Batam Tourism Bisnis Forum 2017