Beranda Nasional ANTARA Doeloe : Beginilah nasib sardjana astronomi djadi sopir taxi

ANTARA Doeloe : Beginilah nasib sardjana astronomi djadi sopir taxi

175
0
BERBAGI
Djakarta 11 Maret 1963 (Antara) – Dengan meningkatnja djumlah taxi di Indonesia maka pengendara taxi bertambah pula. Tetapi pengendara taxi jang bertitel ph.D djarang sekali, apa lagi jang bertitel Ph.D. dalam ilmu astronomi.
Hingga kini Indonesia memiliki 4 ahli astronomi, dimana satu diantaranja kini sedang bertolak keluar negeri untuk melandjutkan peladjarannja, djadi hanja tiga ahli astronomi kita ini pada waktu ini berada di posnja. 
Diantara tiga ahli astronomi, dua jang bertitel Ph.D. Pada umumnja ahli astronomi itu bekerdja pada malam hari dan tidur pada siang harinja. Mereka tinggal djauh terpentjil dibukit pegunungan Lembang. 
Hasil pentjarian jang kedua, jang lazim pada waktu ini, hampir tak mungkin. Padahal gadji jang diterima djauh tidak mentjukupi. Seorang Ph.D. dalam ilmu astronomi jang baru sadja kembali dari Amerika menerima gadji Rp.2.769,74 sebulannja dan mempunjai seorang isteri dan dua anak. 
Gadji jg diterima itu dalam waktu 5 sampai 6 hari sadja sudah lenjap. Bagaimana mereka harus hidup selandjutnja? Terpaksa ia menjupir taxi dengan autonja jang ia bawa kembali dari luar negeri dan dengan djalan ini ia bisa dapat penghasilan .l.k. Rp.3.000,- seharinja. 
Dengan penghasilan jang kedua inilah ia dapat memelihara hidup keluarganja. Tetapi bagaimana dengan pekerdjaannja sebagai ahli astronomi?
Bilamana dipandang betapa pentingja ilmu astronomi itu apalagi dikemudian hari dengan rentjana daripada “Space Travelling”, ilmu angkasa luar, maka dunia ilmu astronomi dinegara kini sangat menjedihkan. 
Mahasiswa jang kini mentjatatkan diri dibagian Astronomi di ITB hanja seorang. Dan masih diragukan apakah ia akan dapat melandjutkan peladjarannja hingga selesai. Bilamana ahli astronomi jg kita sudah miliki, kita tak dapat memilihnja, maka masa depan daripada “space travelling” ini akan sendirinja ahli2 astronomilah jang memainkan peranan jang penting.
(3P01/R03/3012/104)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017