in

Balapan di ketinggian, GP Meksiko tawarkan tantangan tersendiri

Itu akan memiliki dampak serius terhadap aerodinamika dan performa mesin mobil

Jakarta (ANTARA) – Trek Autodromo Hermanos Rodriguez yang akan menggelar Grand Prix Meksiko akhir pekan nanti terletak di ketinggian sekitar 2.250 mdpl, merupakan yang tertinggi di antara sirkuit lainnya yang berada di kalender Formula 1.

Hal itu akan sangat berpengaruh terhadap performa mobil mengingat semakin tinggi suatu wilayah maka konsentrasi oksigen akan semakin rendah, atau bisa disebut, udara semakin tipis.

“Di daerah bertekanan rendah di ketinggian, molekul udara lebih menyebar sehingga udara tak terlalu padat. Mexico City sekiranya akan 25 persen kurang padat dari udara yang berada di sirkuit, katakan lah, Bahrain,” ungkap Mark Hughes, kontributor teknis di laman resmi Formula 1.

“Hal itu akan memiliki dampak serius terhadap aerodinamika dan performa mesin mobil.”

Baca juga: Meksiko tetap di kalender F1 hingga 2022

Hughes menyebut sayap dan lantai mobil akan menghasilkan downforce yang lebih rendah karena tingkat kerapatan udara yang rendah. Itu berarti mobil yang menggunakan sayap besar seperti di Monako hanya akan menghasilkan daya tekan ke bawah yang tak jauh berbeda dengan mobil yang digunakan di Monza dengan sayap tipis mereka.

Downforce yang rendah juga akan mengurangi potensi pengereman dan manuver mobil di tikungan.

Namun, udara yang tipis mengurangi drag atau hambatan mobil ketika melaju sehingga mereka di lintasan lurus akan memiliki kecepatan lebih tinggi dari pada mobil yang sama yang digunakan di sirkuit yang lebih dekat dengan permukaan laut.

Setiap tim memiliki karakter mobil yang berbeda misalnya Red Bull yang memiliki mobil dengan downforce tinggi seperti halnya Mercedes, sedangkan SF90 milik Ferrari lebih memilih drag yang lebih rendah.
 

Baca juga: Perebutan gelar masih terbuka, Bottas tak akan menyerah

Di sisi performa mesin, udara tipis tak terlalu mempengaruhi mesin yang memiliki turbocharger, berbeda dengan mesin naturally-aspirated yang membutuhkan pasokan udara alami untuk dibakar di ruang pengapian.

Mesin mobil F1 sekarang tak akan mengalami kesulitan pembakaran udara seperti mobil-mobil era sebelumnya karena aliran udara akan dipasok ke ruang pengapian oleh turbo.

Udara tipis memungkinkan turbo untuk berputar lebih cepat untuk menyediakan tekanan udara yang sama seperti dengan kondisi normal.

Setiap mesin memiliki burst point atau batas maksimal kecepatan turbin yang dipandang aman sehingga tak menyebabkan kerusakan.

Hughes mengungkapkan tingkat putaran per menit turbo mesin F1 juga tidak boleh melebihi batas yang telah diatur oleh FIA sehingga akan berimplikasi terhadap kecepatan maksimal mobil di Meksiko nanti.

Kompresor juga harus memastikan rasio yang tepat antara udara dan bahan bakar di ruang pengapian.

Semakin besar turbo, semakin kecil burst point. Mercedes memiliki turbo terbesar sementara Renault lebih memilih desain paling kecil dan biasanya outfit asal Prancis itu memiliki mesin paling kompetitif di antara pesaingnya ketika turun di Meksiko.

Baca juga: Formula Satu capai kesepakatan untuk gelar Miami Grand Prix

Teknisi juga akan dibuat pusing dengan masalah pendinginan, terutama untuk mesin dan rem.

Empat mesin pabrikan berbeda yang dipakai tim membutuhkan tingkat pendinginan yang berbeda pula oleh karena itu bukaan aerodinamika di badan mobil akan memiliki peran penting.

Rem juga akan bekerja keras saat mobil yang melaju lebih cepat dari biasanya harus melaju lebih lambat di tikungan agar rem bisa bertahan lama. Suhu cakram dan kaliper rem akan tinggi oleh karenanya namun hanya ada sedikit udara untuk mendinginkannya.

Belum lagi suhu aspal trek yang bisa mencapai 50 derajat Celcius ketika suhu udara berkisar 25 derajat jika cuaca cerah. Itu akan menghadirkan masalah bagi ban ketika para pebalap turun di GP Meksiko, Minggu waktu setempat atau Senin dini hari WIB.

Baca juga: Williams turunkan Latifi di tiga sesi latihan bebas

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

What do you think?

Written by Julliana Elora

Soal kabinet baru, Iszur Muchtar: Indonesia butuh penyegaran

Kisah para pengungsi di film pendek sutradara Suriah-AS Akram Shibly