Beranda Nasional Banjir dan, Longsor akibat Ulah Manusia

Banjir dan, Longsor akibat Ulah Manusia

61
0
BERBAGI

JAKARTA – Pembangunan kawasan permukiman dengan menguruk lahan dapat menyebabkan bencana banjir. Biasanya, yang menjadi korban adalah masyarakat miskin karena tidak memiliki kemampuan memitigasi dan melindungi diri dari bencana.

“Bagi orang kaya tidak masalah, karena dia mampu meninggikan rumahnya,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Jumat (5/1).

Sutopo mengatakan bencana yang terjadi di Indonesia, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung, lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia.

“Alam memang berpengaruh terhadap curah hujan. Namun, kalau lingkungan dan ekosistem tertata dengan baik, kejadian bencana tidak akan terus meningkat,” tambahnya.

Eksploitasi lingkungan dan sumber daya alam, perluasan penggunaan lahan dan perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan atau sawah pertanian menjadi permukiman tanpa diikuti kaidah-kaidah konservasi tanah dan air menyebabkan bencana lebih sering terjadi.

“Saat ini, hujan lebat sedikit saja sudah terjadi banjir di mana-mana karena kondisi lingkungan dan daya tampung yang sudah terlampaui, apalagi di Jawa yang paling padat. Jumlah penduduk terbanyak ada di Jawa,” kata dia lagi.

Menurut Sutopo, solusi yang paling efektif adalah masalah tata ruang. “Harus diatur betul dan ditegakkan aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Jangan semua dibiarkan,” katanya.

Dilanda Banjir

Sementara itu, musibah banjir kembali melanda kawasan Lhoksukon, Ibu Kota Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Jumat (5/1) sore. Sebanyak 19 desa terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter, sehingga warga mengungsi.

Camat Kecamatan Lhoksukon, Saifuddin, menyatakan banjir yang melanda 19 desa di Lhoksukon ini disebabkan meluapnya Sungai Keuruto sejak Kamis (4/1) malam, tetapi puncaknya pada Jumat pagi. “Terparah banjir saat ini berada di Desa Meucat, Rawa, Rayeuk dan Desa Tuha.”

Dia menambahkan, ketinggian air di pemukiman penduduk saat ini bervariasi antara 70 sentimeter hingga satu meter.

Kepala Badan Penggunggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Munawar Ibrahim, menyebutkan banjir yang melanda tujuh kecamatan di Aceh Utara rata-rata sudah surut, kecuali Kecamatan Lhoksukon yang tambah parah. eko/Ant/E-3