Beranda Nasional “Busway” Layang dan Kenangan yang Melayang

“Busway” Layang dan Kenangan yang Melayang

235
0
BERBAGI

Bulan Juni nanti, katanya ada bus Transjakarta melayang di jalan atas , jurusan Ciledug–Blok M–Tendean. Rute yang menguntungkan kalau saya diundang ke studio CNN seperti selama ini di akhir pekan.

Artinya, dengan sekali jalan, hanya dengan 25 menit bisa sampai tujuan. Jalan layang sepanjang 9,3 kilometer yang dikerjakan menghabiskan bea sebesar 2,5 triliun rupiah ini memberi kesempatan penumpang naik—dan turun di 12 halte. Jalan layang itu sendiri berdiri di atas tanah setinggi 18–23 meter.

Cukup untuk disebut melayang. Dengan fasilitas, sebagian denganb lift dan eskalator, memudahkan penumpang—meskipun masih ada keluhan sana sini. Yang jelas, sebagai satu-satunya pengguna jalan, bus Transjakarta tak perlu salip-menyalip, atau ngetem berkepanjangan.

Saya termasuk yang antusias ingin menjajal. Selama ini cukup sudah penderitaan. Bagi kami yang biasa melalui jalan Ciledug–Kebayoran Lama–Baru sampai Tendean merasakan kesengsaraan yang menghimpit dada.

Saat pembangunan jalan layang, jalan di bawahnya bagai adukan kue besar yang menyesakkan. Bahkan, tanpa tambahan banjir atau hujan pun, siksaan tak terampunkan. Bukan hanya mereka yang melalui jalanan itu, melainkan juga penghuni sepanjang jalan itu.

Para pemilik kios, toko, kantor, rumah, atau tukang parkir pun terkena gangguan. Ada beberapa kios yang tutup, atau mangkrak karenanya. Pedagang asongan pun—seperti halnya “pak ogah” pengatur lalu lintas amatir, tersisih sementara. Pembangunan yang menuntut banyak pengorbanan, baik material, moral, dan kesabaran untuk tidak stres karenanya.

Saya mengingat dan mengingatkan bahwa sesungguhnya pengorbanan untuk lahirnya jalan layang bukanlah hal kecil. Saya mengingatkan bukan untuk meminta gratisan ketika pertama kali diresmikan.

Saya mengingatkan bahwa jalan busway layang (elevated) adalah hasil kebersamaan: akan kesadaran bersama, pengorbanan jangka waktu panjang, dan juga harapan. Harapan bahwa jalan layang nantinya bisa lancar, bisa tepat waktu. Bisa tetap bersih, tanpa coretan yang memalukan.

Coretan tanda frustasi, kecewa, dan tak pernah jelas—seperti yang liar di lorong-lorong. Harapan termasuk tidak menjadi tempat pacaran anak muda, seperti yang terjadi di tempat penyeberangan orang yang melintasi jalan tol—dalam atau luar kota.

Harapan berbangga bahwa pada akhirnya masyarakat Ibu Kota ini bisa memiliki yang pertama kali. Dan membuktikan kita bisa menjaga, merawat, dan karenanya bisa bersikap baik—atau lebih baik.

Saya merasakan karena mengenali jalan Ciledug–Cipulir sebelum dipotong dengan jalan JORR yang saya tuliskan beberapa kali, yang saya kenali sudut-sudutnya ketika dibangun, termasuk saya ingat di mana saya pipis.

Banyak lagi kenangan dari banyak orang yang merasakan langsung pembangunan jalanan itu lebih dari satu tahun. Lebih dari satu tahun termacetkan atau terbuntu atau terkunci dalam arti sebenarnya. Jalanan tahu-tahu ditutup satu arah, dan harus saling menunggu.

Atau crane yang terbakar Atau benda berat yang jatuh mengagetkan. Juga percikan kerikil yang menggores kaca mobil atau helm—tanpa bisa diprotes.

Saya mengingat semua pengorbanan ini , terutama untuk tujuan, inilah hasil dari perjuangan kita sendiri. Mereka yang melalui jalan itu, juga keluarganya, juga teman yang berkunjung, yang semuanya pernah mengalami disusahkan karenanya.

Juga pengorbanan besar para pekerja yang lembur, dan tetap bekerja di saat libur, yang diomeli dan paling tidak dikesalkan saat kita melewati.

Saya mengingatkan bahwa jalan layang busway ini adalah jalan kemenangan kita atas penderitaan, atas pengorbanan sebelumnya.

Selayaknya dimanfaatkan dengan baik, dinikmati sebaik mungkin, dan karena jalan di bawah menjadi lancar, dan pedagang yang terpuasakan rezekinya, kini menemukan harapan lebih baik dibanding sebelumnya. Kita semua berhak bangga dan menjaga kebanggaan ini.