Beranda Nasional Cerita Mustafa Abubakar tentang Irwandi Yusuf (3)

Cerita Mustafa Abubakar tentang Irwandi Yusuf (3)

114
0
BERBAGI

ADA banyak kenangan indah bagi Mustafa Abubakar saat memimpin Aceh. Salah satu kenangan yang masih diingatnya tentang Irwandi Yusuf adalah saat ia mengakhiri tugas sebagai pelaksana tugas harian sebagai gubernur Aceh.

“Saat saya dihantar ramai-ramai ke bandara, dan saat tiba di dalam badan pesawat ternyata Irwandi ada di dalam pesawat,” kisah Mustafa dalam perjalanan menuju Meulaboh untuk menghadiri Sharing Experiance di Universitas Teuku Umar, Minggu (5/11).

Pak Mus, sapaan akrabnya mengaku kaget melihat Irwandi ada di dalam pesawat, dan sempat bertanya apakah Irwandi juga mau ke Jakarta.

Ternyata Irwandi menyampaikan sesuatu yang membuat saya terharu dan melihatnya sebagai hal mulia. “Saya ingin ketika saya mengakhiri tugas nanti sebagai gubernur Aceh juga dihantar seperti bapak dihantar hari ini,” kata Pak Mus mengutip pernyataan Irwandi.

Kenangan kedua yang masih diingatnya adalah ketika Irwandi Yusuf menyatakan salut pada cara Pak Mus melakukan tes CPNS bebas KKN. Saat itu istri Irwandi Yusuf disebut menjadi salah seorang peserta yang ikut tes, dan ternyata tidak lulus.

“Saat itu Irwandi bilang jika istrinya lulus sementara dirinya masih sebagai salah seorang dari GAM, apa kata dunia,” cerita Pak Mus sambil tertawa mengingat kenangan yang menurutnya sebagai kenangan yang sangat membekas. Pak Mus juga mengaku bahwa Irwandi Yusuf menyampaikan tekadnya untuk meneruskan kebijakan tes CPNS bebas KKN sebagaimana telah dimulainya.

Kenangan lain adalah ketika ia menghantarkan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar melalui “magang” sebelum resmi memimpin Aceh sebagai gubernur dan wakil gubernur. Mustafa mengaku sering mengikutsertakan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar dalam beberapa hal menyangkut penyelenggaraan pemerintahan.

Kenangan indah sekaligus mendebarkan diakuinya saat Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar terpilih sebagai Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur Aceh melalui pemilihan langsung dan serentak. Dihadapan mahasiswa, dosen, rektor dan tamu undangan yang hadir, termasuk Sulaiman Abda dari DPRA, ia mengaku jika saat itu ada pihak yang menyampaikan nada komplein atas kemenangan pasangan calon dari GAM.

“Saat itu saya sempat bertanya dalam hati apakah saya telah melakukan kesalahan?” ungkap Pak Mus, apalagi pada saat itu ada juga yang meminta dirinya untuk bertanggungjawab karena yang menang dari Pilkada adalah kader dari GAM.

Pak Mus mengaku tidak bisa tidur malam itu, apalagi ketika tidak ada satupun telepon dari jakarta, baik dari Mendagri apalagi dari presiden.

“Besoknya sekitar pukul 10 – 11 pagi barulah datang telepon dari Jakarta yang justru menyampaikan ucapan selamat. Selamat Pak Gubernur, pilkada kita diakui di dunia, paling demokratis, dan hasilnya juga memuaskan, siapapun yang terpilih itu adalah pilihan rakyat, kita harus dukung, alhamdulillah,” sebut Pak Mus mengkisahkan kelegaan hatinya usai mendapat telepon, termasuk telepon dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. []

Komentar