in

Dari Pameran ”Sajamba Makan” di Galeri Taman Budaya Sumbar

Menikmati Karya-karya Romantik Para Srikandi Seni Rupa

Anggapan perupa Indonesia selama ini hanya dikenal dari kalangan lelaki semata, sementara karya-karya perupa wanita dianggap sebelah mata dalam pertumbuhan dan perkembangannya di tanah air, tidaklah benar, bahkan tak adil.

Karena, selain di tanah air sendiri, karya-karya perupa wanita Indonesia sejak puluhan tahun silam hingga kini, ternyata mampu mencuri perhatian publik di banyak negara Asia, bahkan mancanegara. 

Menganalogikan perjuangan dan semangat sosok pahlawan RA Kartini yang mempelopori kesataraan derajat antara wanita-pria di tanah air, maka semangat, perjuangan, keuletan dan kreativitas perupa wanita di Indonesia melalui karya-karya yang ditampilkan selama ini tak pernah gelap. 

Karya-karya srikandi perupa Indonesia banyak menyuarakan pesan-pesan sosial, persoalan kebudayaan, masalah lingkungan hidup, panorama keindahan alam Indonesia dan lainnya, baik melalui karya seni lukis maupun seni patung dalam kerangka artistik dan estetik tinggi sebagai vitalitas.

Setidaknya, semua itu tergambar pada pameran”Sajamba Makan” pada 20-27 April 2017, di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Jalan Dipenogoro, Padang. Pameran ini diikuti tiga daerah Indonesia, Yogyakarta, Jakarta dan Sumbar.

Titis Jabaruddin, 74, salah seorang peserta pameran menyebutkan, dalam sejarah panjang seni rupa modern Indonesia pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan dan sesudahnya banyak tokoh-tokoh perupa wanita muncul dengan karya-karya terbaik, di antaranya Kartika Affandi bergaya ekspresionisme, Maria Tjui, kemudian sang maestro pematung Rita Widagdo hingga ke angkatan muda saat ini dengan berbagai eksplorasi dan kolaborasi fisik dan psikologis karya.

“Mereka tidak hanya diakui di dalam negeri, karya-karya juga dikenal di mancanegara,” ujar  pelukis senior wanita Indonesia itu di dampingi tiga pelukis muda yang juga peserta pameran; Laila Tifah, 46, asal Yogyakarta, Kana, 44, asal Jakarta dan Afriani, 43, pelukis urang awak asal Solok yang kini bermukim dan berkarya di Jakarta kepada Padang Ekspres di sela-sela pameran, Minggu (23/4). 

Titis sendiri, di perjalanan 50 tahun berkarya seni rupa, sudah melaksanakan puluhan kali pameran tunggal dan kolektif. Hal ini diawalinya sejak berusia 24 tahun, persisnya sejak menjadi mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.

Sebanyak 11 kali di antaranya pameran tunggal di Indonesia, Jepang, serta beberapa kali di Eropa. Sebelum di Sumbar, pameran tunggal terakhirnya dilaksanakan di Galeri Nasional, Jakarta tahun 2016 lalu.

Melukis Seperti Filosifis Air

Kana, pelukis berparas cantik kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 9 Desember 1973 lulusan sarjana ISI Yogyakarta (1992) dengan sapuan warna-warna lukisannya kerkesan naïf ekspresionistik kepada Padang Ekspres menyebutkan, melukis bagi dirinya sama seperti filosofis air dalam kehidupan.

“Air merupakan sumber kehidupan di muka bumi, dan air ciptaan dan karunia dari Allah SWT adalah segalanya bagi manusia,” ujar Kana.

Begitu juga konsep melukisnya, apa yang terasa dalam pikiran dan perasaannya di alam dan lingkungannya berada, dia tuangkan dalam bentuk lukisan. Semuanya meluncur seperti air mengalir dalam ranah kreativitas estetik karyanya.

Menurut Kana, musibah banjir yang sering terjadi di mana-mana disebabkan aliran air tidak tersalur sebagaimana mestinya, akibat kerusakan hutan maupun lingkungan, serta pembangunan drainase seadanya. Akibatnya, air jadi meluap lantas tidak bersahabat hingga menyebabkan banjir bahkan banjir bandang.

“Jika semuanya tertata apik dan benar, pastilah manusia terjauh dari banjir,” ungkapnya. 

Bagitu juga jika perupa berkarya, sama seperti filosofis air yang senantiasa selalu mengalir mencari tempat-tempat yang lebih rendah, karena ada tempat dan ruang strategis.

“Pelukis atau perupa juga demikian, banyak persoalan dan dinamika di tengah-tengah masyarakat yang selama ini tidak terekspose, seperti masyarakat miskin atau masyarakat golongan bawah, maka seniman berkewajiban menyuarakan persoalan-persoalan yang bermunculan dari sana,” ujar Kana. 

Ungkapan Kana dibenarkan Laila Tifah. Dia mengaku melukis lebih fokus menyuarakan persoalan arus bawah ke permukaan kanvas sebagai konsep kekinian di lingkunganya.

Pengamat dan kurator seni rupa, Muharyadi yang dihubungi di tempat terpisah perihal kehadiran karya-karya sejumlah pelukis wanita pada pameran “Sajamba Makan” di galeri Taman Budaya Sumbar itu, menilai karya pelukis senior Titis Jabaruddin, Kana, Laila Tifah, Esti Lestarini dan Apriani, Evelyna Dianita juga dari Sumbar patut diapresaiasi secara utuh. Karena selain memiliki pengalaman berkarya yang cukup matang, isi dan kontens karya-karya mereka juga syarat makna dan nilai-nilai yang ada di dalamnya.  

“Dari 22 peserta pameran, enam di antaranya adalah wanita dengan menampilkan karya-karya terbaik,” jelas Muharyadi. Menurut Muharyadi, menilai karya-karya terbaik bukan hanya dilihat dari fisik karya semata, melainkan juga harus dilihat dari apa yang tersurat dalam karyanya.

Kemudian, menghayati yang tersirat di dalam karya, serta mampu menelusuri jalan pikiran senimannya di tengah-tengah berbagai persoalan dan dinamika yang dikemas seniman dengan berbagai kecenderungan karya. 

Dari catatan yang diperoleh Padang Ekspres melalui katalogus pameran sebanyak 22 peserta pameran seni rupa “Sajamba Makan” di galeri Taman Budaya Sumbar itu, enam di antara peserta adalah wanita. Termasuk, Esti Lestarini menantu Titis Jabaruddin dan Evelyna Dianita dengan karya-karya romantiknya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Bareskrim Jerat Spekulan Harga Sembako

”Bersilaturahmi Sambil Diskusi Ekonomi”