in

Jangan Disamakan

Rw?neka dh?tu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan ?iwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Beberapa abad yang lalu, Mpu Tantular telah menuliskan
sebuah kemungkinan untuk menyatukan serakan perbedaan dalam sebuah ikatan. Saat
itu, konteks yang melatari adalah upaya pendampingan dari umat Hindu dan Buddha
di kalangan Kerajaan Majapahit. Dalam satu bait, Sang Mpu menjelaskan bahwa
memang antara Siwa dan Buddha adalah beda. Mereka bhineka tapi tetap satu juga.
Mengapa? Karena kebenaran yang digunakan untuk mengenali adalah satu.

Ratusan tahun kemudian, sepenggal frasa yang telah
menjadi semboyan itu lebih sering berada di gantungan kaki Garuda ketimbang di
hati rakyatnya. Kita lupa, untuk mencoba mentolerir perbedaan demi menuju satu
kepentingan bersama.

Beda warna partai akan membawa (janji) tingkat
kesejahteraan yang berbeda. Beda tempat lahir dan nenek moyang bisa berakibat
diskriminasi. Beda panutan hidup dan Tuhan untuk disembah bisa jadi alasan
untuk menghabisi nyawa. Beda pemikiran dan paham bermacam –isme bisa menyebabkan berakhirnya sebuah jabatan.

Lalu pernahkah ada yang bertanya, sebenarnya tujuan
ikatan ini apa? Mereka yang dulu menumpahkan darah untuk mengikat manusia dan
alam Indonesia, lewat satu ikatan konstitusional dari Sabang sampai Merauke,
bukankah berasal dari satu tujuan dan kepentingan bersama? Jika iya, apakah
memang untuk mencapai tujuan itu harus menghilangkan berbagai perbedaan yang
ada? Seperti menganggap semua pilihan itu sama. Seperti himbauan untuk
merendahkan hati untuk tidak merasa keputusan yang dipilih adalah yang paling
benar.

Hey, bukankah tersedia berbagai pilihan karena
perbedaannya? Bukankah alasan kita mengambil keputusan karena merasa pilihan
itulah yang paling benar? Lalu jika perbedaan dan keyakinan itu dihapuskan,
masihkah perlu bagi kita mengambil pilihan?

Kembali ke abad XIV, dalam Sutasoma disebutkan bahwa yang
tetap satu itu adalah perbedaan. Semboyan itu sendiri tetap menyediakan kesempatan
untuk berbeda. Lalu mengapa, kita hidup selalu berupaya menyamakan? Menyamakan
perbedaan dengan upaya kekerasan atau memaksakan anggapan mana yang benar
dengan mereka yang dianggap memilih salah. Lalu untuk meredakan konflik itu
dengan terburu-buru, disebar logika bahwa semua sama dan semua benar.

Ah, kembali lagi, apakah ketidaksamaan itu yang menjadi
dasar terjadinya konflik, sehingga perbedaanlah yang harus dihilangkan? Jadi
jika begitu, apakah yang bisa menyatukan perbedaan, tanpa mencoba menjadikannya
sama?

Seperti upaya untuk berbesar hati, bahwa ada yang
menganggap pilihan kita salah. Seperti upaya untuk berlapang dada, bahwa
keputusan kita tidak diambil oleh sebagian orang. Seperti upaya untuk
merendahkan hati, untuk tidak memaksakan kebenaran pada mereka yang menurut
kita salah.

Selamat Hari Toleransi.

Diambil dari buku “Dialog 100:
100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei,
2013). 

What do you think?

Written by virgo

Bukit Lamreh akan Didaftarkan sebagai Kawasan Cagar Budaya

Mau Jadi Pemimpin Yang Sukses, Coba Pelajari Tips Ini