Beranda Nasional Literasi Tolak Ukur Kemajuan Bangsa

Literasi Tolak Ukur Kemajuan Bangsa

74
0
BERBAGI

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan literasi menjadi tolak ukur kemajuan bangsa dan mendapatkan perhatian dunia internasional. Tinggi rendahnya literasi suatu bangsa sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa.

“Laporan terbaru menyebutkan kemampuan membaca kita masih tertinggal 45 tahun dibandingkan negara maju. Meski demikian, tidak perlu membesarkan penilaian orang lain. Jangan sampai kita merasa menjadi bangsa yang rendah. Kita bangsa yang besar, bangsa pemenang bukan bangsa pecundang,” kata Muhadjir dalam acara literasi, di Jakarta, Jumat (27/10).

Mendikbud meminta agar bangsa sendiri tidak menjelekkan bangsa sendiri. Namun, penilaian itu harus menjadi penyemangat agar pencapaian literasi semakin meningkat. Indonesia memiliki potensi yang besar, dari penduduknya yang banyak, luas wilayah dan juga sumber daya alamnya.

Mendikbud membandingkan dengan negara tetangga yang sudah maju, namun jumlah penduduknya sedikit. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Didik Suhardi, mengatakan pihaknya memberikan perhatian serius pada peningkatan literasi di daerah tertinggal. “Kami memberikan perhatian pada literasi di perbatasan. Pak Jokowi sendiri sudah menyatakan untuk gratis pengiriman buku ke daerah tertinggal pada hari tertentu,” tutur Didik.

Menjadi Filter

Secara terpisah, Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, mengatakan literasi media menjadi filter yang tepat di tengah terpaan informasi yang semakin berkembang pesat dan mudah diakses.

Literasi media sangat penting dan mendesak untuk dikampanyekan sebagai sebuah gerakan sosial kemasyarakatan guna mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami, menggunakan, dan menilai media secara benar dan tepat.

Literasi media adalah kegiatan mengedukasi masyarakat agar mampu memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi tayangan media. Ini penting agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah isi siaran media.

Deddy mengatakan penyiaran nasional masih dihadapkan pada lemahnya kesadaran serta kepatuhan lembaga-lembaga penyiaran terhadap ketentuan perilaku penyiaran dan standar program siaran.

Akibatnya, masih terdapat isi siaran yang cenderung mengabaikan kualitas serta dampak siaran yang ditimbulkan berakibat negatif pada tatanan kehidupan masyarakat.

“Di sisi lain, kemampuan masyarakat dalam bersikap kritis terhadap media penyiaran juga masih relatif rendah, apa yang disiarkan media TV sering diterima apa adanya sebagai sebuah kebenaran,” ujar Deddy. tgh/Ant/N-3