Beranda Nasional Malaysia Tarik Dubes dari Korut

Malaysia Tarik Dubes dari Korut

245
0
BERBAGI

Han Sol, Anak Jong-nam ke Kuala Lumpur

Hubungan Malaysia-Korea Utara (Korut) memanas. Penyebabnya adalah komentar-komentar pedas Duta Besar Korut untuk Malaysia Kang Chol. Dia berulang kali mengatakan pada media jika otopsi yang dilakukan oleh Malaysia tidak sah.

Sebab, mereka tidak dilibatkan. Korut juga menampik jika jenazah yang kini ditahan oleh Pemerintah Malaysia adalah Kim Jong-nam, kakak dari Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un. 

“Ini sudah tujuh hari sejak insiden (pembunuhan) itu terjadi, tapi masih belum ada bukti yang jelas tentang penyebab kematian dan saat ini kami tidak bisa mempercayai penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Malaysia meski sampai saat ini belum ada kesimpulan yang dikeluarkan,” ujar Kang Chol, kemarin (20/2). 

Terlebih sebelumnya pemerintah Malaysia mengabarkan jika orang Korut yang tewas Senin (13/2) lalu itu meninggal dengan wajar, bukan dibunuh. Kang Chol juga menuding jika petugas kepolisian memukuli remaja belasan tahun yang merupakan putra dari Ri Jong-chol. Dia ditangkap di Kuala Lumpur Sabtu (18/2) dengan tudingan berkonspirasi membunuh Jong-nam. 

Sebelum memberikan komentar pada media, dia telah dipanggil oleh pemerintah Malaysia yang mengkomplain pernyataan-pernyataannya. Termasuk, di antaranya tudingan bahwa Malaysia telah bekerja sama dengan pihak-pihak asing yang menjadi musuh Korut.

Berang, di hari yang sama pemerintah Malaysia akhirnya memanggil pulang duta besarnya untuk Korut. Padahal, selama ini hubungan Malaysia dan Korut terbilang sangat baik. Malaysia bahkan memberlakukan bebas visa untuk warga Korut. Tapi, kini tidak lagi. 

“Kami tidak memiliki alasan mengapa kami mau melakukan sesuatu yang bisa membuat Korut tampak buruk, kami bakal objektif,” ujar Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak di hadapan para jurnalis, kemarin.

Kementerian Kesehatan Malaysia juga menyatakan jika hasil otopsi kemungkinan besar akan diungkapkan besok hari (22/2). Sejak Jong-nam dibunuh di bandara KLIA2, pihak kepolisian Malaysia langsung melakukan otopsi karena kematiannya dianggap tidak wajar.

Mereka berulang kali meminta sampel DNA dari pemerintah Korut. Namun alih-alih memberi Korut hanya menyatakan jika itu bukanlah jasad dari Jong-nam, melainkan Kim Chol sesuai dengan nama di paspor. 

Keinginan pemerintah Malaysia untuk mendapatkan sampel DNA dari keluarga dekat Kim Jong-nam kemungkinan segera kesampaian. Kemarin malam, putra dari Jong-nam yaitu Kim Han-sol dikabarkan datang ke Kuala Lumpur Malaysia. Belum diketahui apakah dia sengaja datang untuk memastikan itu jenazah ayahnya ataukah diundang oleh pemerintah Malaysia. 

Berdasarkan pesan yang diterima oleh beberapa media, Han-sol datang dengan pesawat Air Asia dan bakal tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 (KLIA2). Ada kemungkinan pemuda 21 tahun tersebut berencana mengambil jenazah ayahnya.

Kementerian Luar Negeri Malaysia sebelumnya memang menyatakan hanya akan menyerahkan jasad Jong-nam pada keluarga terdekatnya. Pemerintah Korut yang berkali-kali meminta agar jenazah Jong-nam diserahkan juga tidak digubris oleh Malaysia. 

Sementara itu, rekaman CCTV pembunuhan Jong-nam beredar di dunia maya. Yang mengungah pertama kali adalah salah satu saluran televisi di Jepang. Dalam rekaman tersebut tampak Jong-nam membawa tas ransel di salah satu tangannya dan berjalan sendirian mesin check-in otomatis.

Tiba-tiba dua perempuan mendekatinya dari belakang, satu dari arah kanan dan satu dari kiri. Mereka langsung menyerangnya. Wajah kedua perempuan tersebut tidak terlalu jelas, namun tampak salah satunya mengenakan kaos putih, rok pendek dan berambut pendek. Persis seperti ciri-ciri Doan Thi Huong, salah satu pelaku yang berasal dari Vietnam. 

Pascamelakukan aksinya, kedua perempuan yang diduga Doan dan Aisyah itu pergi ke arah yang berbeda. Jong-nam sendiri langsung berjalan ke meja informasi. Mereka lantas mengantarkannya ke petugas keamanan. Tampak Jon-nam menjelaskan bagaimana dia diserang.

Rekaman berakhir setelah pria bertubuh tambun itu masuk ke klinik bandara. Belum diketahui apakah CCTV itu asli atau tidak. Namun rinciannya persis seperti paparan kejadian dari pihak kepolisian Malaysia.

Polisi Malaysia masih memburu empat warga negara Korut yang telah melarikan diri. Pihak imigrasi Indonesia mamastikan tiga di antara terbang ke Dubai via Jakarta.

Yaitu, Ri Jae Nam, Hong Song Hac dan Ri Ji Hyon. Ketiganya terbang dari Jakarta Senin lalu pukul 22.20 menggunakan pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK0359. 

Di lain pihak, Perdana Menteri Korea Selatan (Korsel) Hwang Kyo-ahn mengungkapkan jika kemungkinan  besar pelaku pembunuhan Jong-nam adalah Korut.

“Aksi teror yang dilakukan oleh rezim Korut kian berani jadi kita harus lebih waspada,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Plt Presiden Korsel sejak Park Geun-hye dimakzulkan itu. 

Identitas Siti Ganda

Di sisi lain, tersangka pembunuhan Kim Jong Nam asal Indonesia Siti Aisyah ternyata diketahui memiliki identitas ganda. Hal itu terungkap dalam history perekaman data kependudukan yang pernah dilakukannya.

Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Zudan Arif Fakhrullah mengatakan, identitas awal Siti Aisyah dalam database kependudukan adalah yang beralamat di Serang. Hal itu dibuktikan dengan adanya perekaman KTP elektronik pada 23 April 2012.

“Yang bersangkutan juga rekam E-KTP di Serang,” ujarnya saat dihubungi.

Dari perekaman tersebut, dia mendapat NIK 3604284111890494. Dan tercatat dengan kelahiran Serang, 1 November 1989. Namun saat pindah ke Jakarta, dia diduga melakukan upaya untuk mendapat KTP ganda.

Untuk mengelabui petugas, dia mengganti nama menjadi Siti Aisyah dengan kelahiran 11 Februari 1992. Dari situ, dia mendapat KTP dengan 3173045102920010. Namun bukan E-KTP yang didapat, melainkan KTP dengan model lama.

Tak puas dengan KTP lama, dia mencoba membuat E-KTP di Jakarta dengan identitas sebagaimana tertera KTP lama. Aktivitas tersebut tercatat di lakukan pada 12 November 2014. Namun nahas, upaya tersebut gagal. Pasalnya, saat dilakukan perekaman, tanda fisiknya dinyatakan sudah tercatat dalam database.

“Statusnya duplicate. Karena dari sidik jari dan iris mata diketahui sudah pernah merekam,” ujarnya. E-KTP kedua pun gagal diterbitkan. “Dalam data E-KTP terbaru, dia terdaftar sebagai warga Serang dengan nama Siti Aisah dengan kelahiran yang 1989,” tutur Zudan.

Lantas, kenapa identitas paspor justru yang bernama Siti Aisyah? Zudan memperkirakan jika dia membuat paspor dengan KTP lama. “Dulu kan bisa dengan KTP lama,” pungkasnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.