Beranda Nasional Media Cetak Dipercaya karena Anti-Hoax

Media Cetak Dipercaya karena Anti-Hoax

18
0
BERBAGI

Generasi Milenial Pembaca Tertinggi 

Nielsen Consumer & Media View (CMV) mempublikasi hasil survei kuartal III pada 2017 kemarin (6/12). Dalam survei tersebut menunjukkan bahwa media cetak terutama koran masih memiliki taring.

”Kami survei di sebelas kota di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Nielsen Media Hellen Katherina. Ada 17 ribu responden di Pulau Jawa dan luar Jawa yang mengikuti survei tersebut. Hasilnya, 4,5 juta orang masih aktif membaca media cetak. Sebanyak 83 persen dari pembaca tersebut memilih membaca koran. Pembaca media cetak sebesar 36% merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk.

Hellen menuturkan, alasan terbesar orang membaca koran adalah karena konten yang dimuat masih dapat dipercaya. Angkanya mencapai 65 persen pembaca mempercayai kalau koran tidak mengandung hoax. ”Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya. Sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust misalnya produk perbankan dan asuransi,” ujar Hellen.

Selain itu, headline koran dianggap lebih menarik. Sehingga pembaca masih mempercayai koran untuk dibaca sehari-hari. ”Faktor lainnya adalah karena adanya berita olahraga khususnya bola, serta berita yang up to date,” tuturnya. 

Jika selama ini mengira pembaca media cetak adalah orang tua, lewat survei Nielsen hal itu terbantahkan. Sebab dari survei tersebut para pembaca media cetak justru mereka yang berusia produktif. Generasi milenial yang berusia 20 hingga 34 merupakan pembaca tertinggi, yakni 38 persen. Selanjutnya mereka generasi x yang berusia 35-49 tahun menempati angka kedua mencapai 36 persen. ”Pembaca media cetak ini berkualitas,” ungkap Hellen. 

Hal itu ditunjukkan dari 54 persen pembaca media cetak adalah kelas menengah ke atas. Sementara pekerjaan mereka sebagian besar adalah white collar atau para pekerja kantoran.

Adanya internet memang mempengaruhi pola pembaca, terutama di Jawa. Namun hal unik ditemukan, jika mereka yang mengikuti survei di Surabaya masih membaca media cetak. Menurut Hellen hal itu bukan berarti penetrasi internet tidak tinggi. ”Saya rasa karena habbit. Sebab penetrasi internet juga cukup tinggi,” tuturnya.

Sementara di luar Pulau Jawa, media cetak juga cukup merajai. Apalagi media yang memuat berita-berita lokal. Hellen pun optimistis jika media cetak tidak akan mati. ”Kabar kalau media cetak akan mati itu sejak munculnya radio. Namun sampai sekarang masih ada kan?” ungkapnya. 

Tiga dari empat pembaca media cetak mengakui tidak keberatan saat melihat iklan karena iklan adalah salah satu cara untuk mengetahui produk baru. Dilihat dari sisi belanja iklan, meski jumlah pendapatan belanja iklan turun 11 persen dari tahun 2013 ke tahun 2017, namun total pendapatan iklan koran yang masih tetap berada di angka Rp 21 triliun adalah gambaran bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan. (*)

LOGIN untuk mengomentari.