Beranda Nasional Meksiko Ogah Bayari Tembok Trump

Meksiko Ogah Bayari Tembok Trump

271
0
BERBAGI

Soal Aborsi, Jerman Siap Gantikan AS Jadi Donatur

Keputusan Presiden Donald Trump membangun tembok sepanjang 1.609 kilometer di perbatasan Amerika Serikat (AS)-Meksiko membuat Presiden Enrique Pena Nieto berang. Agenda pertemuan dua pemimpin pun terancam batal. Sementara itu, Trump kian bersemangat mewujudkan slogan barunya, America First.

’’Saya menyesalkan dan mengecam keputusan AS untuk melanjutkan pembangunan tembok (di perbatasan) yang selama bertahun-tahun justru membuat (hubungan) kami semakin jauh,’’ kata Pena Nieto dalam pidato yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru Meksiko pada Rabu malam (25/1).

Dia juga kembali menegaskan bahwa Meksiko tidak akan pernah membiayai pembangunan tembok. Bersamaan dengan itu, parlemen Meksiko mendesak Pena Nieto untuk membatalkan rencana pertemuannya dengan Trump pada Selasa pekan depan (31/1).

Rencananya, pemimpin 50 tahun tersebut menemui penguasa baru Gedung Putih itu pada akhir bulan. Tapi, legislasi eksekutif Trump soal tembok di perbatasan itu membuat parlemen tersinggung dan memaksa Pena Nieto membatalkan agendanya.

Kemarin (26/1) Pena Nieto tidak langsung merespons usul parlemen tersebut. Dia akan menunggu laporan delegasi tingkat tinggi Meksiko yang saat ini berada di Washington.

Jika pekan ini laporan yang masuk positif, dia tetap melanjutkan agenda untuk bertemu dengan Trump. Namun, jika hasil laporannya negatif, Pena Nieto mungkin membatalkan agendanya.

’’Saya akan berkonsultasi lebih dulu dengan seluruh anggota delegasi tingkat tinggi, para gubernur, dan para legislator sebelum melangkah lebih lanjut,’’ tandas Pena Nieto tentang pembangunan tembok pembatas yang konon bakal menjulang setinggi 16 meter itu.

Pernyataan yang sama dipaparkan Menteri Luar Negeri Luis Videgaray yang memimpin delegasi Meksiko di Washington. Sementara itu, Trump mendeklarasikan moratorium program penampungan pengungsi kemarin. Rencananya, pembekuan program itu berlangsung selama empat bulan.

Selain itu, dia menghentikan sementara penerbitan visa untuk warga dari tujuh negara Islam. Yakni, Syria, Iraq, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman. Itu menjadi langkah awal AS menuju penerapan aturan imigrasi yang lebih ketat.

’’AS melarang seluruh pengungsi dari Syria masuk wilayahnya,’’ bunyi draf keimigrasian baru versi Trump. Untuk enam negara yang lain, pembekuan itu berlangsung selama empat bulan. Dalam masa itu, AS bakal menyusun daftar negara-negara muslim, mulai yang berisiko tinggi menghasilkan teroris sampai yang paling tidak berisiko.

Terkait dengan kebijakan tersebut, Trump memberikan waktu 90 hari kepada Pentagon untuk merancang pembangunan zona aman alias zona suaka di dekat Syria.

Nanti warga sipil yang ingin menghindari kecamuk perang bisa berlindung di zona aman tersebut tanpa harus hijrah ke Eropa atau Amerika. Zona aman itu bakal menjadi semacam tempat penampungan bagi para pengungsi.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengatakan bahwa larangan masuk bagi pengungsi asal Syria dan negara-negara Islam lainnya bersifat wajib.

Sebab, dunia sudah tidak aman. Teror bisa muncul kapan pun dan di mana pun. Tapi, dia membantah tuduhan antimuslim meski semua negara yang masuk daftar larangannya adalah negara-negara Islam.

’’Bukan, ini bukan larangan (negara-negara) muslim, tapi lebih pada negara-negara yang berpotensi menciptakan teror,’’ lanjutnya. Dalam kesempatan itu, dia juga mengkritik kebijakan Jerman tentang pengungsi.

Menurut dia, keputusan menampung jutaan pengungsi asal Syria atau Iraq dan Afghanistan itu bukan ide bagus. Sebab, dengan menampung banyak pengungsi, Jerman sedang menumpuk masalah.

Trump memang beberapa kali melontarkan komentar tidak menyenangkan tentang Jerman. Tapi, dia tetap menyebut Kanselir Angela Merkel perempuan hebat.

Sementara itu, AS berhenti menjadi donatur organisasi non pemerintah di bidang medis terkait dengan legislasi baru soal aborsi, sebaliknya dengan Jerman. Negara yang dipimpin Merkel itu mengaku siap menggantikan posisi AS sebagai donatur.

Terpisah, Trump yang sukses menempatkan James Mattis dan Mike Pompeo sebagai menteri pertahanan dan direktur CIA kembali menegaskan dukungan terhadap waterboarding.

’’Kita harus melawan api dengan api,’’ ujarnya. Dia juga mengatakan bahwa teknik interogasi kontroversial yang banyak diterapkan di Penjara Teluk Guantanamo tersebut terbukti efektif dan bermanfaat. (*)

LOGIN untuk mengomentari.