Beranda Nasional Mengunjungi Desa-Desa ”Hantu” di Sekitar Sinabung

Mengunjungi Desa-Desa ”Hantu” di Sekitar Sinabung

149
0
BERBAGI

Tetap Bertahan di Rumah kendati Dekat Jalur Lahar Dingin 

Di kawasan zona merah letusan Gunung Sinabung, warga tetap berani mengunjungi rumah, bercocok tanam, atau sekadar memancing. Pilih belanjakan uang bantuan untuk beli bibit ketimbang sewa rumah. 

RUMPUT tumbuh setinggi lutut. Di kanan dan kiri berbaris bangunan kosong yang ditinggalkan penghuninya. Gereja, masjid, puskesmas, dan balai desa rusak serta diselimuti debu. Ditumbuhi tanaman ilalang hingga ke atap.

Menginjakkan kaki di Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), Kamis pekan lalu (20/10) tak ubahnya memasuki desa “hantu”. Yang tersisa tinggal bangunan-bangunan bisu yang dilatarbelakangi Gunung Sinabung. Tak berpenghuni. 

Kamis siang lalu itu terkadang memang terdengar adanya aktivitas di antara rumah-rumah kayu tersebut. Tapi, setelah dihampiri, ternyata hanya suara atap seng ataupun pintu rumah yang diempas-empaskan angin. Tak ada manusia satu pun. Anjing-anjing liar pun tak tampak. 

Sukanalu termasuk satu di antara sepuluh desa hantu di kawasan zona merah letusan Gunung Sinabung, Karo. Total ada 18 desa yang masuk zona tersebut. Tiga di antaranya (Bekerah, Simacem, dan Suka Meriah) bahkan sudah musnah tak tersisa. 

Dengan kondisi seperti itu pun, Sukanalu bisa dibilang masih lebih beruntung. Bangunan-bangunan tetap tegak berdiri meskipun koyak di sana sini. Bandingkan dengan dua desa di lereng atasnya, Bekereh dan Simacem, yang sudah musnah ditelan lautan pasir. Cuma salib di pucuk gereja yang tampak menyembul di antara timbunan pasir putih. 

“Kawasan putih di atas itu Desa Bekerah,” kata Donny Aditra, kontributor televisi lokal Medan yang menemani Jawa Pos menjelajah zona merah di sekitar Sinabung. 

Sinabung mulai menggeliat pada Agustus 2010. Ada asap dan abu vulkanis. Tapi, letusan besarnya baru terjadi September 2013 yang disertai hujan kerikil api. 

Sampai sekarang gunung setinggi 2.451 meter di atas permukaan laut itu masih terus batuk. Otomatis ribuan warga di kawasan zona merah harus mengungsi meninggalkan kampung halaman. 

Beberapa hari belakangan letusannya maksimal tiga kali sehari. Dengan semburan abu 500 hingga 1.000 meter ke angkasa. Kepulan asap cuma bisa dilihat maksimal 15 menit. Setelah itu ia tenang kembali. Menurut laporan BPBD dan posko pemantauan, saat ini kubah lava sudah terbentuk sekitar 2,2 juta meter kubik. “Kalau sudah 2,7 atau 2,8 (meter kubik, Red), pasti muntah awan panas,” ucap Donny. 

Ketika Koran ini ke Sukanalu, Sinabung bisa dibilang tengah dalam kondisi tenang, Namun, gunung satu itu tidak bisa diprediksi. Bisa meletus sewaktu-waktu. 

Menyusuri jalan kampung semakin ke selatan, rumah-rumah sudah mulai jarang. Di depan hanya ada rumput dan ilalang. Donny bercerita, di balik rerimbunan ada sebuah bendungan yang tidak sengaja membentuk danau karena aliran lahar. 

Kalau melihat Sinabung dari arah Kabanjahe atau Berastagi, akan tampak jalur luncur utama lahar yang berbentuk seperti ular berwarna hitam. Meliuk sampai ke mulut kawah. Bendungan di depan kami tepat berada tegak lurus dengan lidah ular tersebut. Kami memutuskan untuk tidak meneruskan langkah. Kemungkinan kabur jika sewaktu-waktu ada letusan bisa sangat tipis. 

Donny mengungkapkan, petugas BPBD bahkan tidak berani berlama-lama di situ. Kalau sewaktu-waktu muntahan awan panas keluar dari kawah, orang bisa celaka. Kecepatan rata-rata awan panas mencapai 3.000 km per jam. Pakai Ferrari pun tidak mungkin lolos.

Putar balik, kami kembali masuk ke perkampungan. Ada suara datang dari kejauhan. Kali ini memang benar-benar manusia. Seorang bapak berusia 50-an tahun datang dengan sepeda motornya. Kami bertegur sapa. Namanya Agus Sembiring Melalah. Dia datang ke Sukanalu karena ingin menengok rumahnya. 

Rumah Agus terletak tepat di belakang balai desa. Berbeda dengan rumah lain yang jendela dan pintunya dibiarkan menganga, Agus masih mengunci rapat pintu rumahnya. Dia mempersilakan kami masuk. Perabotan dalam rumah masih utuh. Ada lemari, kasur, kereta dorong, cangkul, dan alat-alat pertanian. 

Sehari-hari Agus dan keluarganya tinggal di posko pengungsian Gereja Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo. Sekali-sekali dia pergi ke Sukanalu untuk menengok rumahnya. Warga Sukanalu belum mendapatkan hunian tetap di Siosar. 

Siosar dulunya area hutan yang lantas disulap menjadi kawasan penampungan pengungsi Sinabung. Di sana warga diberi bantuan uang sewa rumah dan lahan. “Daripada buat sewa rumah baru,” kata Agus, lantas bergerak menuju tumpukan papan kayu di halaman rumahnya. 

Agus mulai memindah-mindahkan kayu ke tempat yang lebih lapang dan sedikit ditumbuhi rumput. “Kami bikin gubuk di ladang, buat tinggal sementara,” katanya sembari terus sibuk memindah-mindahkan kayu. 

Kami berpamitan. Sekali-sekali kesunyian Desa Sukanalu pecah oleh suara kayu yang dibanting Agus. Kami bergerak menuju Danau Lau Kawar. Akses ke Sinabung berakhir di danau itu. Dilanjutkan jalur pendakian ke puncak. 

Tujuh tahun setelah gelegak vulkanis pertama, warga kini mulai terbiasa dengan Sinabung. Mereka tidak lagi khawatir untuk masuk dan beraktivitas di zona-zona merah. Mereka rata-rata ingin mengunjungi kampung lama atau kembali berladang. Sepanjang akses Lau Kawar, beberapa rumah masih berpenghuni. Beberapa toko juga masih buka. 

Kawasan simpang Kutagugung bahkan relatif ramai dengan anak-anak yang bermain serta penjual es keliling. Padahal, dari perempatan itu mulut Sinabung terlihat jelas. 

Di kesunyian Danau Lau Kawar, Supriman Sembiring, salah seorang warga, juga kedapatan tengah asyik menunggui mata pancingnya. Dia tengah mencari ikan-ikan air tawar untuk santap malam. Desanya di Sigarang Garang juga sudah terisolasi dan berubah menjadi desa hantu. “Saya cuma ingin cari hiburan,” ucapnya. 

Ada juga pasangan petani Aris Mayanto Sitepu dan Lastriya Bru Ginting. Mereka juga tengah menebar benih cabai dan terong di sebuah lereng di Kutagugung. Jarak ladang mereka dengan puncak Sinabung cuma 3 kilometer. 

Aris dan Lastriya juga berasal dari Sigarang Garang. Rumah mereka menempati peringkat ketiga terdekat dengan kawah. Beberapa bulan lalu mereka berdua menerima bantuan sewa rumah dan sewa lahan dari pemerintah Rp 6,4 juta. 

Harapannya, mereka membangun kehidupan baru di luar zona merah. Tapi, mereka memilih kembali ke zona merah. “Uang Rp 6 juta sayang kalau dipakai semua. Mendingan buat modal beli bibit,” kata Aris. 

Mereka berdua bukannya tidak takut. Tapi memang didesak kebutuhan untuk menyambung hidup. Lastriya sendiri menghafalkan tanda-tanda bahaya dari Sinabung. “Kalau sudah bau belerang atau udara dingin sekali, besoknya pasti meletus besar,” ungkap Lastriya. 

Yang lebih nekat mungkin Lusi Bru Ginting. Perempuan itu tinggal di gerbang Desa Sigarang Garang yang sudah amburadul diobrak-abrik lahar dingin. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari lintasan lahar dingin. “Saya nggak pernah pindah ke posko sejak tahun 2013. Waktu letusan besar,” katanya. 

Lusi mengaku tidak takut. Selama ini dia merasa aman di rumahnya. Selain itu, dia tidak melewatkan kesempatan untuk membantu memunguti batu-batu vulkanis yang tercecer sepanjang gerbang Sigarang Garang. “Satu truk bisa dapat Rp 150 ribu,” ucapnya. 
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karo Natanail Perangin-Angin mengatakan, pihaknya tidak kuasa untuk mencegah warga bermain dan beraktivitas di zona-zona merah. Area terlampau luas, sedangkan jumlah petugas terbatas. (*)

LOGIN untuk mengomentari.