Beranda Nasional Menuju ”Mini” ataukah ”Mega” La Nina?

Menuju ”Mini” ataukah ”Mega” La Nina?

316
0
BERBAGI

Bencana banjir di sebagian besar wilayah Indonesia akhirnya memperoleh perhatian setelah menerpa sejumlah wilayah di ibu kota Jakarta. Sebelumnya banjir itu menggenangi banyak kabupaten di Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, bahkan Papua secara silih berganti sejak Oktober 2016. Fenomena meluasnya banjir sebenarnya sudah diprediksi saat masih terjadi kekeringan akibat El Nino pada 2015/2016.

Pemerintah didukung lembaga meteorologinya berasumsi bahwa pada 2017 ini mungkin hanya terjadi fenomena La Nina sedang saja, sehingga tak perlu persiapan khusus untuk menghadapinya. La Nina adalah fenomena kebalikan El Nino, merupakan anomali iklim yang diawali ketika El Nino mulai melemah.

Uap laut panas Samudra Pasifik di pantai Peru sampai Ekuador bergerak ke arah barat (Indonesia). Anomali iklim itu memicu reaksi berantai, menimbulkan efek di atmosfer yang dirasakan di seluruh dunia.

Perjalanan uap air laut panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Memicu peningkatan presipitasi dan badai pembawa hujan di daratan Asia (Tiongkok, Filipina, Vietnam), sebagian besar wilayah Indonesia, dan bahkan Australia Utara. Wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum).

Semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia, memicu tumbuhnya awan-awan hujan lebat terjadi meluas di Samudra Pasifik Barat, daratan Asia, Asia Timur, Indonesia, dan Australia Utara. Kehadiran La Nina bisa menguntungkan karena membawa massa air yang biasanya meningkatkan produksi komoditas pertanian di kawasan Asia seperti tebu, bit gula, kelapa sawit, dan padi-padian. Namun, La Nina bisa pula berdampak buruk dan menimbulkan kerugian, serta mengancam stok, juga merusak infrastruktur dan distribusi pangan.

Sampai pertengahan Februari 2017, ternyata fenomena La Nina dengan “hujan berlebih” diikuti banjir dan longsor masih dipicu angin timur dari Lautan Pasifik dan Lautan Hindia utara Australia. Beberapa fenomena badai tropis di dua lautan tersebut turut memperparah intensitas hujan di pesisir bagian selatan Indonesia seperti wilayah Bima, NTB, serta di pesisir utara sekitar Manado.

Para meteorolog kita selama ini selalu optimistis fenomena badai tropis tidak akan berpengaruh signifikan di wilayah Indonesia. Namun, rupanya optimisme bahwa Indonesia adalah wilayah aman dari badai tropis harus mulai dikoreksi. Melihat dampak “ekor badai tropis” dari Australia Utara di Bima atau badai tropis dari Pasifik Barat di Manado ternyata sangat parah. Karena itu, asumsi bahwa pada 2017 ini La Nina yang terjadi terkategori lemah (mini) sampai sedang (moderat) sehingga tidak perlu dikhawatirkan perlu dikoreksi.

Melihat fakta-fakta itu, para meteorolog dan klimatolog sebenarnya belum bisa menyimpulkan kategori La Nina periode ini. Mereka saat ini masih bingung dengan kondisi perubahan iklim yang sedang terjadi.

Fakta yang pasti, NOAA dan hampir semua badan meteorologi dunia mencatat bahwa El Nino 2015/2016 tercatat sebagai “Godzilla” El Nino yang memecahkan rekor El Nino 1997/1998 dengan anomali suhu permukaan laut Pasifik mencapai 3 derajat Celsius. Sedangkan pada El Nino 1997/1998 hanya 2,8 derajat Celsius.

Apa artinya? Prakiraan bahwa La Nina 2017 ini hanya berkategori sedang atau lemah bisa saja meleset. Sebaliknya, sangat mungkin terjadi “Mega La Nina” atau “Super La Nina” yang dahsyat dan berkepanjangan. Mengapa? Secara logika, iklim di bumi ini mengikuti pola kesetimbangan. Bila sebelumnya suhu permukaan laut mengalami “maksimum panas”, secara logika akan diikuti dengan “maksimum dingin”.

Fakta-fakta di level global, pada beberapa bulan terakhir, iklim dunia benar-benar berubah dari kondisi normalnya. Salju turun di Timur Tengah; permafros-tanah es abadi Greenland di kutub mulai musnah. Angin kencang pembawa suhu “superdingin” atau “jet stream” mengalir deras ke arah subtropis, bahkan mendekati tropis seperti Teluk Liaodong, Provinsi Shandong. Pantai timur Tiongkok membeku, menjebak ribuan kapal di perairan tersebut.

Meteorolog Eropa bahkan menyatakan bahwa saat ini kita menghadapi curah hujan paling luar biasa dalam 248 tahun terakhir. Kondisi cuaca belakangan tak bisa ditebak, cenderung hujan terus-menerus.

Badan Meteorologi Inggris mengaitkan cuaca ekstrem di Eropa dan Amerika Utara dengan “gangguan” dalam aliran sistem cuaca di Atlantik Utara dan Pasifik –sebagian berasal dari perubahan pola cuaca di Asia Tenggara dan berhubungan dengan suhu yang lebih tinggi daripada biasanya di wilayah ini. Kondisi anomalis perubahan musim saat ini merupakan dampak perubahan iklim di bumi sebagai konsekuensi antropogenik atau akibat “ulah manusia” berupa akumulasi gas rumah kaca yang terdiri atas gas karbon dioksida, metana, dan lain-lain.

Konsentrasi gas rumah kaca tersebut akan meningkatkan radiative force tenaga matahari sebagai sumber energi naik sebesar 90 watt per meter persegi. Peningkatan radiative force (daya radiasi) matahari itu dipastikan mengubah keseimbangan iklim di bumi.

La Nina memicu hujan dahsyat yang mengakibatkan genangan (limpahan) air di area yang biasanya kering. Indonesia memiliki lebih dari 5.000 sungai besar dan kecil, 30 persen di antaranya melewati kawasan padat penduduk. Itu tentu mempunyai potensi terhadap terjadinya banjir pada wilayah permukiman di daerah aliran sungai (DAS) tersebut.

Dikhawatirkan, La Nina menggeser musim hujan lebih dahsyat dan lebih lama dengan puncak musim hujan terjadi berkali-kali. Dampak banjir akibat La Nina kali ini di berbagai daerah sudah dirasakan. Banyak jembatan yang roboh, sawah tergenang, panen gagal, serta sistem transportasi dan komunikasi yang terganggu.

Berapa kerugian akibat bencana banjir dan longsor di Indonesia tahun ini sampai sekarang belum dihitung. Namun, berdasar riset UNESCAP, kerugian Indonesia akibat banjir rerata USD 4,6 miliar atau sekitar Rp 61,6 triliun per tahun. Seperti dampak El Nino 2015/2016 dengan kerugian mencapai USD 23 miliar, tampaknya La Nina 2017 ini juga akan merugikan secara materiil dan nonmateriil cukup besar. Ke depan, pemerintah dan masyarakat harus lebih mempersiapkan strategi serta rencana mitigasi dan adaptasi menghadapi bencana semacam ini. (*)

LOGIN untuk mengomentari.