Beranda Nasional Mimpi Kemajuan Sektor Maritim

Mimpi Kemajuan Sektor Maritim

266
0
BERBAGI
Pelantar: Warga Kepri banyak tinggal di daerah pelantar karena wilayah ini berupa daerah kepulauan. f-dokumen/tanjungpinang pos

Oleh:Herry EkoErmanda
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas, FISIP, UMRAH

Kepulauan Riau yang sering disebut dengan gelar Bumi Segantang Lada ini punya potensi maritim yang luar biasa besarnya.

Daerah lautannya ada sekitar 96 persen dari luas wilayahnya. Daratannya Cuma 4 persen saja. Bisa dibayangkan betapa besarnya potensi kelautannya yang dimiliki jika kita mau memaksimalkan fungsinya agar bermanfaat untuk kemajuan daerah dan memakmurkan masyarakat

Sebutan sebagai Gerbang Maritim Dunia atau Poros Maritim Dunia sudah sangat sering disebut. Ini saatnya mewujudkan harapan itu. Kepri tidak hanya kaya akan sumberdaya kelautannya. Provinsi ini juga punya wilayah yang strategis karena memiliki jarak yang sangat dekat dengan beberapa negara tetangga.

Di antaranya, Malaysia, Singapura dan Philipna hingga menjadikan laut Kepri menjadi jalur dunia yang sibuk dengan transportasi laut. Hanya saja, untuk memakmurkan dan memajukan daerah ini dibutuhkan komitmen bersama termasuk pemerintahnya yang harus punya program kerja yang kreatif dan kuat. Kepri juga dibantu oleh pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk mengembangkan sektor kelautan.

DAK memang sangat dibutuhkan daerah untuk memperbarui atau meningkatkan sarana dan prasarana. Namun, fenomena yang terjadi, penyerapan dana DAK belum bisa maksimal bahkan masih jauh dari harapan.

Padahal, pemerintah pusat menggaungkan pengembangan utama di sektor Maritim dan Kepri ditunjuk sebagai poros maritim indonesia dari beebrapa daerah maritim di Indonesia.

Perhatian pada sektor maritim tentu akan menjadi peluang pertumbuhan. Karena selama ini sektor yang strategis ini belum digarap.

Padahal, potensinya luar biasa besarnya. Ada empat tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan dan pembangunan Kepri sebagai poros maritim dunia.

Masing-masing, besarnya biaya pembenahaan fasilitas insfrastruktur, mulai dari transportasi, pelabuhan termasuk biaya, pegawasan dan keamanannya.

Tantangan lainnya yakni peluang terjadi konflik di perbatasan. Kejelasan titik perbatasan negara akan sangat penting sebagai acuan luas serta sebagai dasar pembangunan sektor maritim dan untuk pemetaan kekayaan laut yang aa didalamnya.

Ini agar tidak terulang lagi lepasnya pulau terluar ke negeri orang. Lalu, tantangan ketiga yakni perlu adanya transparansi dalam pembangunan, karena pengembangan daerah sebagai poros maritime memerlukan biaya yang sangat besar hingga ketepatan penggunaan anggarans angat dibutuhkan.

Lalu, tantangan kelima, pemerintah harus melakukan evaluasi secara berkala tentang kebijakan yang dikeluarkan agar tidak berbenturan dengan pelaksanaan pembangunan yang dicanangkan.

Tentu harapan kita untuk memiliki daerah kepulauan yang digarap secara maksimal bisa terwujud kita bersama-sama melakukan tanggungjawab sesuai dengan tugas dan fungsi. Semoga ***