Beranda Nasional Pusat Pemerintahan Masih Terisolir

Pusat Pemerintahan Masih Terisolir

127
0
BERBAGI

Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan Diminta Jolok Dana Pusat

Pembangunan pusat pemerintahan di Kepri, khususnya di Pulau Bintan, yakni Kantor Gubernur Kepri di Dompak, Kantor Wali Kota Tanjungpinang di Senggarang maupun Kantor Bupati Bintan di Bintan Buyu belum maksimal. Meski dibangun dengan dana miliaran dan triliunan rupiah, tapi daerahnya masih terisolir. 

Tanjungpinang – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepri, Naharuddin, mengatakan Pemprov Kepri sudah merancang lengkap pembangunan lanjutan Pulau Dompak yang menjadi kawasan pusat pemerintahan Provinsi Kepri.

”Membangun Pulau Dompak tidak bisa sim salabim abrakadabra,” ujar-nya kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (17/11).

Artinya, dalam perencanaan sah-sah saja seorang kepala daerah bermimpi akan mewujudkan apa yang ingin dicapainya setinggi langit. Hanya saja semua rencana ini perlu didukung penuh masyarakat.

Di samping itu, harus didukung dengan anggaran. Masalahnya, tahun 2015 lalu sampai saat ini, Pemprov Kepri dilanda masalah defisit anggaran.

”Masih banyak gedung yang perlu dibangun antara lain ruang pertemuan untuk tamu kenegaraan, bahkan ada rencana akan membangun wisma. Karena saat ini masih mengandalkan gedung daerah yang sempit, itu semua masuk dalam perencanaan,” jelasnya.

Bahkan jalan raya median jalan, bundaran jalan akan terus dibangun, meski membutuhkan anggaran yang cukup besar. Walau pun belum tahu kapan perencanaan itu, terealisasi, tapi dia menyebutkan, semuaya sudah masuk dalam rencana jangka menengah daerah di pemerintahan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun.

”Pembangunannya tentu tidak bisa sekaligus, harus bertahap. Kita juga sedang mengupayakan melibatkan pihak swasta untuk membangun kawasan tersebut,” tambahnya.

Tidak bisa sim salabim abrakadabra, lanjutnya, pembangunan Pulau Dompak akan mulai kembali pada 2017. Artinya, pengerjaannya bertahap dan diangsur. ”Tidak bisa sekaligus,” ujarnya.

Misal seperti Jembatan I Dompak akan dibuka untuk umum. Jembatan I Dompak diharapkan memangkas rentang kendali dan memudahkan pelayanan masyarakat di pusat pemerintahan Pulau Dompak. Di samping itu, Jembatan I Dompak diharapkan menjadi ikon wisata baru di Tanjungpinang.

”Kalau Batam ada Jembatan Barelang, nah Tanjungpinang punya Jembatan I Dompak,” tambahnya.

Karena itu, sebelum dibuka untuk umum, Jembatan I Dompak perlu dipoles semenarik mungkin sehingga masyarakat senang ketika mengunjungi ikon baru Tanjungpinang ini.
Rencana besar Pemprov Kepri ke depan, adalah membangun stadion dan gelanggang olahraga secara bertahap akan mulai jalankan lagi.

”Saat ini penamaan jalan dan bangunan yang akan dibangun sudah dibuat, bahkan ada rencana bundaran jalan yang akan dikelola bersama pihak swasta juga akan mulai dibangun. Kami akan melibatkan perban-kan, pengusaha lainnya agar sama-sama bisa memajukan pusat pemerintahan Pemprov kepri ini,” tegasnya.

Tentu bukan hal yang mudah. Butuh anggaran triliunan jika hal itu dihitung satu per satu dan kalau semua beban anggaran diberatkan ke pemerintah, tentu akan sangat memberatkan.

Hanya saja secara keseluruhan, Naharuddin tidak bisa memaparkan berapa besaran anggaran yang terse-rap untuk pembangunan kawasan Pulau Dompak. Karena tugas dan tangungjawab-nya melibatkan beberapa instansi lainnya.

”Saya tidak mau salah menyebutkan besaran anggarannya, karena sebagian besar teknisnya juga ada di PU,” tambahnya.

”Membangun itu perlu proses, perencanaan dan kemampuan anggaran dan dilaksanakan bertahap. Tidak bisa sim salabim abrakadabra,” tukasnya.

Sementara itu, dosen Stisipol Raja Haji Tanjungpinang Shahril Budiman, mengatakan, memang untuk membangun kawasan Pulau Dompak maupun Senggarang bukan hal yang mudah. Pulau Dompak dan Senggarang sama-sama masuk dalam kawasan pembangunan dan industri.

”Memang sampai hari ini kita masih nantikan eksennya, padahal Bappeda sudah membuat alur investasinya. Satu lagi kalau kita mengandalkan anggaran pemerintah daerah, butuh waktu yang tidak cepat, akan lambat,” jelas Shahril kepada Tanjungpinang Pos.

Untuk membangun kawasan ini, pemerintah harus melakukan inovasi. Sedangkan inovasi yang dibuat saat ini dari pemerintah daerah masih minim. Seharusnya pemerintah melakukan kerja sama dengan menjolok anggaran pusat atau misalnya memanfatkan sektor swasta.

”Didukung juga infrastruktur yang harus memadai. Sementara pesatnya pertumbuhan properti, namun kondisi listrik masih kacau balau,” tambahnya.

Di Musrenbang nanti, katanya, merupakan langkah mendorong agar pembangunan sejalan.

”Biasanya lewat aspirasi masyarakat di Musrenbang itu akan muncul masukkan. Tinggal bagaimana pemerintah mengakomodir aspirasi yang disampaikan di musrenbang,” tambahnya.

Nanti Januari sudah dimulai pembahasan Musrenbang. Agar aspirasi masyarakat terserap, maka perlu dukungan DPRD.

”Cita-cita Presiden membangun dari pinggiran, ini harus dicontoh pemerintah daerah. Kawasan pesisir harus dibangun, tapi tidak menghilangkan ciri khas. Lalu, mengedepankan inovasi dan kerja sama dengan perguruan tinggi dan sektor swasta maupun industri. Tanjungpinang memiliki posisi strategis, karena berbatasan langsung dengan Singapura maka harus dimanfaatkan,” tuturnya.

Masih katanya, pembangunan membutuhkan anggaran yang sangat besar. Namun, pendekatan ke masyarakat, dalam pembangunan harus dilakukan.

Dompak dan Senggarang yang dijadikan pusat pemerintah, juga harus mempromosikan ikon-ikon di sana agar masyarakat semakin kenal.

”Misalnya kuliner khas di sana apa, ya pemerintah harus terus gaungkan,” katanya.

Semua ini, katanya, memang butuh proses dan kerja yang solid. Namun, Pemprov dan Pemko serta dibantu pihak swasta dalam hal ini Batam Pos Group sudah sukses menggelar event bertaraf internasional, yang digelar baru-baru ini.

Membangun kawasan
Pemerintahan Perlu Sinergis
Masyarakat Dompak, Kelurahan Dompak menilai pemerintah provinsi maupun kota harus bersinergi mencari cara, agar kawasan Dompak sebagai pusat pemerintahan lebih maju dan berkembang cepat.

Plt Lurah Dompak Susanto, melihat kawasan Pulau Dompak merupakan pusat perkantoran dan hilir mudik kendaraan mewah yang membawa tamu kehormatan baik antar kabupaten kota maupun luar provinsi.

Malu ketika, kawasan yang sudah dirancang dan bangun beberapa gedung pemerintahan justru tidak di dukung dengan pembangunan bahkan pertumbuhan ekonomi maupun bisnis yang melejit.

”Sebaiknya pemerintah provinsi maupun kota bersinergi, tidak mengkotak-kotakkan karena kepentingan politik,” jelasnya.

Pria yang juga mengakui, bahwa potensi pulau Dompak saat ini cukup tidak kalah bagus dibandingkan daerah lainnya yang ada di kabupaten dan kota di provinsi Kepri.

”Terlihat garing lantaran, tidak banyak yang memperhatikan,” tambahnya.

Potensi yang terdapat di Pulau Dompak misalnya ada pantai Tanjungsiambang, pelabuhan Tanjungmoco, berbatasan dengan kawasan wisata Pulau Bintan, menghadap ke laut lepas, bahkan sudah tersambung Jembatan I Dompak yang sudah bisa dilalui masyarakat umum.
Sektor bisnis, seperti pelabuhan Dompak sangat mendukung untuk kemajuan pulau Dompak di masa mendatang.

Tidak bisa menunggu waktu lama, minimal melibatkan masyarakat umum atau pun LSM dan mahasiswa serta pelajar untuk sementara melakukan penghijauan di kawasan ini. Sehingga ke depan Pulau Dompak ini tumbuh dan berkembang.

Seorang masyarakat Batu 8, Rahmat menuturkan pertumbuhan Pulau Dompak di mata masyarakat hanya sebatas kawasan ekslusif pemerintahan. Bukan kawasan umum atau kawasan wisata yang baik untuk dikunjungi.

Hal ini menurutnya, sebaiknya pemerintah mendorong agar kawasan di Pulau Dompak ini yang dulunya sebagai kawasan pengelolaan bauksit, harus bisa diubah mainset-nya menjadi wilayah yang ramah dan wajib untuk di kunjungi.

”Mungkin bisa dibangun gedung megah, namun tidak terlepas dari ikon wisata. Sehingga siapa yang datang berkunjung kagum. Memang butuh kerja keras, namun impian itu bisa di capai apabila ada usaha bersama,” sarannya.

Tidak jauh dari Pulau Dompak ada satu mal yang sudah dibangun. Ke depan menurutnya, keberadaan mal ini akan bersinergi apabila pembangunan Pulau Dompak, bisnis maritim serta kawasannya sudah mulai aktif.

”Ini akan menjadi aset dan mahal,” pungkasnya.

Membangun Ibu Kota
Kepri Lewat Pariwisata
Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepri saat ini menjadi sorotan penting pelaku usaha penerbangan maupun perhotelan dan rumah makan, dalam rangka menunjang tingkat kunjungan wisatawan.

Jumat (18/11) kemarin Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar serta Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang Juramadi Esram hadir dalam pertemuan pelaku usaha tour and travel, maskapai penerbangan, Angkapura II, pengusaha hotel dan rumah makan, bloggers dan fotografer serta media masa cetak dan elektronik.

Melalui pertemuan itu, hal yang paling penting dipersoalkan tentang bagaimana membangun Ibu Kota Provinsi Kepri melalu sektor pariwisata.

General Manager Garuda Indonesia (GI), Rudi menyampaikan dalam waktu yang tidak lama Kota Tanjungpinang akan menjadi kota hilir mudik para wisman asal Tiongkok. Kesiapan dari beberapa pelaku usaha maskapai saat ini, menurutnya, sudah cukup prima.

Tinggal bagaimana pemerintah kota maupun provinsi memoles beberapa pusat destinasi wisata sebagai daya tarik wisman, selama berwisata ke Ibu Kota Tanjungpinang yang kental dengan sejarah kemelayuannya ini.

”Saya pernah ditanya dengan salah satu wisman asal Tiongkok, kalau seandainya mereka ambil paket 5 hari di Tanjungpinang, apa saja yang bisa dilakukan, kemudian ngapain saja. Ya, baik lah Kepri nomor satunya pantai, namun apakah hanya laut yang hanya bisa dipromosikan,” tanya Rudi kepada Buralimar dan Juramadi pada waktu itu.

Bahkan, Distrik Manager Sriwijaya Air Tanjungpinang Presley pun menimpal bahwa beragam event yang biasa dilakukan provinsi lain, misal di bulan Desember atau penghujung tahun. Mungkin pelaku pariwisata Tanjungpinang bisa onprogess untuk membuat event wisata khusus di bulan Desember itu.

”Dengan beragam event, kami berharap pengunjung yang datang tidak hanya melalui Tiongkok, melainkan juga dari Jakarta,” saran Presley sambil mengharapkan bahwa perjalan via udara, ke depan tidak lagi selalu dilakukan di Kota Batam, melainkan di Kota Tanjungpinang pun sangat prefresentatif.

Berbeda dengan Frans Yosef perwakilan dari Manager Angkasa Pura II Tanjungpinang. Dia menuturkan bahwa saat ini kesiapan runway bandara RHF sudah panjang lebih kurang 2.255 meter.

Dari sebelumnya, hanya 2.006 meter. Hal ini artinya, Bandara RHF sangat siap, apabila banyak para maskapai yang ingin mengembangkan rute penerbangan baik itu berstandar nasional maupun itnernasional untuk Ibu Kota Tanjungpinang.

Hanya saja yang menjadi persoalan saat ini, para wisman yang datang baik dari Ibu Kota Jakarta maupun mancanegera di bandara selalu merasa kebingunan ketika tiba di Tanjungpinang untuk mencari pusat destinasi wisata.

Karena menurutnya, belum disediakan peta atau petunjuk arah seperti di kota maju yang pernah ia kunjungi.

Ketika tiba di negara tersebut, setiap pengunjung bebas mendapatkan peta dan penunjuk arah ke mana mereka harus berwisata. Nah, hal ini menurutnya harus juga diperhatikan Pemerintah Provinsi Kepri maupun Kota Tanjungpinang.

”Adanya penunjuk arah ini, akan semakin baik dan akan memudahkan para wisman untuk datang ke Kepri,” timpalnya.

Berbagai kritik dan masukkan yang disampaikan pemerintah daerah, Buralimar berjanji dirinya bersama pemerintah provinsi dan Pemko Tanjungpinang akan membangun Kota Tanjungpinang dengan pariwisata.Majunya suatu pariwisata, menjadi nilai yang cukup baik bagi perkembangan ibu kota itu sendiri.

”Berbagai event seperti Festival Bahari Kepri, sudah menjadi tranding topik. Tidak hanya di dalam daerah melainkan di luar Kepri sendiri. Nah ini membuktikan, pembangunan wisata di Kota Tanjungpinang harus terus kita dorong, dan perlu kerja nyata di lapangan bersama-sama,” tambahnya.

Ke depan event bercirikan budaya dan moderen akan terus digencarkan. Bahkan untuk kemajuan pariwisata nantinya, beberapa kawasan destinasi wisata seperti Tepilaut, harus menjadi pusat landmark, supaya menjadi pusat tujuan wisata baik lokal maupun mancagera.

”Nanti di sana kita siapkan ber-bagai pertunjukkan mungkin bisa tari-tarian, atraksi budaya bahkan kuliner lokal dan kerajinan ekonomi kreatif,” tukas Buralimar. (TIM REDAKSI)