Beranda Nasional Semarak Lebaran di Amerika Serikat

Semarak Lebaran di Amerika Serikat

121
0
BERBAGI

Shalat Pakai Tiket, Khutbah Seperti Kuliah 

Seperti di Indonesia, Idul Fitri di Amerika Serikat (AS) dirayakan pada 25 Juni lalu. Seperti apa suasananya? McCORMICK Palace Chicago, Illinois. Di Minggu pagi 25 Juni lalu masih sepi. Mungkin karena hari libur. Puluhan orang sedang memarkir mobil, puluhan lagi yang umumnya mengenakan busana muslim bergegas ke dalam gedung. 

“Assalamu’alaikum,” sapa seorang wanita asal Saudi Arabia. “Are you going to Ied prayer?” Sambil naik eskalator, kami menuju lokasi shalat. Terlihat segera akrab. Para jamaah perempuan usai mengucapkan salam langsung berangkulan. Jamaah pria juga begitu. 

Di banyak tempat di AS, Shalat Ied dilaksanakan dua sesi. Sesi I pukul 10.00, sesi II pukul 11.00. Ada juga yang menyelenggarakan sesi I pukul 08.00, sesi II pukul 09.00. 

Di beberapa tempat, jamaah membayar tiket masuk. Buat panitia menyewa tempat dan operasional lainnya. Umumnya tiket masuk USD5 (serata Rp 66.500) jika dipesan via online. Jika registrarsi di tempat, tiket masuk USD7, setara Rp 93.100. Ada juga kegiatan pengumpulan zakat, sedekah dan infak sebelum Shalat Ied dimulai. 

Saya memesan tiket online untuk Shalat Ied di McCormick Palace. Tiket ini sudah termasuk melihat pameran dan bazar, juga menikmati fasilitas lainnya yang disediakan seharian selama kegiatan Ied Celebration. Umumnya Shalat Ied di AS dirangkaikan dengan “one day Ied celebration.” 

McMormick Place langganan salah satu lokasi Shalat Ied warga muslim Chicago. Ini termasuk gedung pertemuan dan pameran terbesar di Amerika Utara.

Gedung yang terletak di 2391 South Lake Shore Drive ini tiap tahun jadi tempat Chicago Auto Show (Februari), International Home and Housewares Show (Maret), dan National Restaurant Association (Mei). 

McCormick Place di tepi Danau Michigan, menempati area seluas 24,8 hektare. Shalat Ied dilaksanakan di Hall B bagian utara gedung. Lokasi yang dijadikan tempat shalat seukuran lapangan sepakbola. 

Dari kejauhan gema takbir bersahut-sahutan. Di pintu masuk setiap jamaah harus menunjukkan tiket. Setelah diverifikasi, panitia memberi tanda dengan membubuhkan cap di lengan. Untuk memudahkan kontrol dan pengamanan. 

Menjelang pukul 10.00, jamaah sudah memenuhi area shalat. Seribuan jamaah yang mengikuti Shalat Ied sesi I dan sesi II di McCormick Place. Saya mengikuti Shalat Ied di sesi I.

Imam dan khatibnya Prof Sherman A Jackson PhD, pakar agama, kajian Amerika dan etnik, serta Direktur Pusat Pemikiran dan Kebudayaan Islam di University of Southern California.

Dia juga penulis ratusan buku dan artikel tentang sudut pandang Islam terhadap masalah-masalah hukum, teologi, sejarah dan muslim modern di Amerika.

Buku-bukunya diterbitkan oleh Universitas Oxford dan Yale University. Prof Sherman satu dari sepuluh ahli terkemuka tentang Islam di AS, dan masuk daftar 500 pemikir muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Islamic Strategic Studies Center in Amman, Jordania. 

Prof Sherman seorang pemikir dan pembaharu. Saat menyampaikan khutbah Idul Fitri, dia tak menggunakan mimbar. Alat pengeras suara (mike) digenggamnya. Dia berdiri bebas di panggung yang disediakan buat imam memimpin shalat. 

Mengenakan setelan jas abu-abu, seperti sedang memberi ceramah pada pertemuan ilmiah. Selama menyampaikan khutbah, dia bergerak dinamis di area panggung. Tangan kanan dan kirinya bergantian menggenggam mike. 

Tanpa teks. Di tangannya hanya selembar catatan yang (sepertinya) berisi ayat-ayat Al Quran. Saat membaca ayat-ayat itu, dia menggunakan kacamata. Usai itu, kacamatanya hanya digeser ke atas kepalanya. 

Sesekali dia meneguk air mineral yang disediakan di lantai panggung. Lalu, “tradisi lama” dia dobrak: sesekali mengajak jamaah berinteraksi. Beberapa kali dia melontarkan pertanyaan, dan meminta respons jamaah seketika. 

Seperti sedang memberi kuliah, atau ceramah di sebuah seminar. Gaya dan intonasi kata-katanya begitu hidup, ekspresif dan melibatkan emosi dan pikiran jamaah. Materi khutbahnya kaya data, informasi dan argumentasi.

Sesekali dia melontarkan kata-kata yang mengundang tawa spontan jamaah. Prof Sherman menjadikan khutbah bukan wahana untuk memutlakkan pendapat. Dia memberi ruang berbeda pandangan. “Ini pendapat saya. Mungkin Anda punya pandangan yang berbeda,” katanya sebelum mengakhiri khutbah. 

Imam dan khatib pada Shalat Ied sesi kedua, Dr Mohammad Kaiseruddin. Pakar rekayasa nuklir ini salah satu pendiri dan mantan Chairman di Council of Islamic Organizations of Greater Chicago (CIOGC). Dr Kaiseruddin juga berkhutbah tanpa mimbar. 

Di Chicago Shalat Ied dilaksanakan di lebih dari lima lokasi. Warga Indonesia Shalat Ied di Wisma Indonesia, 614 Pine Line, Winnetka. “Shalatnya mulai jam 10.00,” kata staf KJRI Chicago di balik telepon. Lokasi lain di Islamic Center Chicago, atau di taman terbuka. 

Paling ramai Shalat Ied di Toyota Park Stadium Chicago. Markas Chicago Red Star, salah satu peserta Major League Soccer (MLS), liga utama sepakbola AS, ini terletak di 7000 Harlem Avenu, Bridgeview, sekitar 12 mil dari pusat kota.

Warga muslim dari berbagai bangsa Shalat Ied di stadion berkapasitas 28.000 tempat duduk ini. The Huffington Post (HuffPost) melaporkan, sekitar 25.000 jamaah mengikuti Sholat Ied di Toyota Park Stadium.

Walau tradisi buka puasa bersama yang dilaksanakan sejak (mantan) Presiden Bill Clinton di Gedung Putih (Istana Presiden AS) tidak diteruskan oleh Presiden Donald Trump dan tradisi Syawalan tahun ini tak dilaksanakan di Departemen Luar Negeri AS, tapi warga saling menghargai dan memiliki toleransi yang tinggi. 

Di berbagai lokasi Shalat Ied di tempat-tempat terbuka berlangsung aman dan damai. Aparat keamanan berjaga-jaga, tetapi tidak mencolok. Di Angel Stadium of Anaheim, California, ribuan jamaah memadati markas Angeles Baseball, tim Los Angeles yang berkompetisi di Major League Baseball (MLB) —kompetisi divisi utama baseball AS. Umumnya, pengamanan lebih banyak dilakukan oleh panitia penyelenggara. Di Angel Stadium, panitia mewajibkan setiap jamaah melewati X-ray di pintu gerbang. 

Toleransi dan penghargaan pemerintah lokal terlihat di berbagai tempat. Wali Kota New York Bill De Blasio dan Fist Lady New York Chirlane McCray berbaur bersama ribuan warga muslim yang Shalat Ied di Bensonhurst Park Brooklyn. Chirlane dan Bill berpidato usai Shalat Ied, meluangkan waktu bersilaturahmi dengan warga muslim New York di taman di tepi sungai Hudson itu.

Islamic Center New York of University juga melaksanakan Shalat Ied. Di State Island dan sejumlah tempat menjadi lokasi Shalat Ied di New York. Di Des Moines, Ibu Kota Negara Bagian Iowa, Shalat Ied antara lain dilaksanakan di Islamic Centre Darularqam. 

Di Cedar Rapids, kota kedua terbesar di Negara Bagian Iowa, warga muslim sepanjang Ramadhan dan saat Idul Fitri shalat di Mother Mosque of America. Disebut “Ibu masjid Amerika” karena inilah masjid tertua di AS, diresmikan pada 16 Juni 1934.

Masjid ini menyimpan banyak benda dan dokumen berharga bagi sejarah muslim di AS. Pemerintah AS menetapkan masjid tua ini sebagai salah satu situs yang dilindungi, muslim heritage di Amerika.

Imigran asal Lebanon dan Syiria tiba di Cedar Rapids pada 1895. Kuburan muslim pertama di Amerika Utara berada di kota ini, terbentang di lahan 4,9 hektare, hibah H Yahya William Aossay pada 1948. 

Tidak hanya di bulan puasa dan Lebaran muslim di Cedar Rapids ramai dengan berbagai kegiatan. Banyak yang mengakui, keberadaan muslim di kota ini memainkan peranan penting bagi sejarah Islam di Amerika.

Muslim dari Cedar Rapids yang jadi pionir untuk sertifikat makanan halal di AS. Di Cedar Rapids sertifikat halal sudah sejak 1975, jauh sebelum Indonesia mewajibkan sertifikat halal pada produk makanan, minuman dan obat-obatan. 

Posisi politik warga muslim AS mulai punya daya pikat. Calon Gubernur New Jersey Phil Murphy berbaur dengan warga muslim yang Shalat Ied di South Brunswick Township, New Jersey City. Usai berpidato singkat, Phil bersilaturahmi dengan warga muslim di kota tetangga New York itu. (*)

LOGIN untuk mengomentari.