Beranda Nasional Ujung Berung, Tiga Dekade Konsisten Memasok Band-band Beraliran Metal

Ujung Berung, Tiga Dekade Konsisten Memasok Band-band Beraliran Metal

84
0
BERBAGI

Pilih Bikin CD, taka Mau Manfaatkan Internet

Sikap berani lapar dengan tidak menghamba pada industri menjadi kunci band-band beraliran metal di Ujung Berung menjaga konsistensi. Hal itu juga memupuk fanatisme penggemar yang menjadi pondasi militansi.

Tak ada kesan kawasan metal saat koran ini berkunjung ke Ujung Berung, Bandung, Jumat lalu (3/11). Meski melahirkan ratusan band metal, di wilayah di Bandung Timur tersebut malah sama sekali tak ada simbol musik cadas. “Keseharian di sini sama saja kayak umumnya,” kata Muhamad Rohman, vokalis Jasad, saat ditemui di Extend Studio.

Jasad merupakan salah satu band metal Ujung Berung yang sudah mendunia. Selain itu, ada nama-nama tenar lainnya. Mulai Burgerkill, Forgotten, Beside, hingga Disinfected.

Meski kampung Ujung Berung terlihat biasa, aktivitas musik—khususnya metal—tak pernah mati. Setiap hari selalu ada anak-anak band yang berlatih atau sekadar berkumpul. Sebuah rutinitas yang berlangsung sejak akhir 1980-an.

Saat ini ada tiga studio yang menjadi jantung seniman metal bermusik sekaligus nongkrong di wilayah tersebut. Yaitu, Pieces Music Studio, Extend Music Studio, dan Rooms Music Studio.
 
Dari perkumpulan dan nongkrong bareng itulah, proses regenerasi berjalan turun-temurun. Ya, meski band underground di sana menjamur sejak tiga dekade lalu, tidak pernah ada proses formal dalam perjalanannya. Semuanya mengalir.

“Kita alamiah saja. Kalau formal jadi kayak ormas,” seloroh Man Jasad, sapaan akrabnya. Kalaupun ada komunitas bernama Ujung Berung Rabels, wadah tersebut pun sebatas membahas sejumlah acara yang digelar bersama. 

Ameng, vokalis Disinfected yang juga salah seorang pentolan generasi awal Ujung Berung, menambahkan bahwa regenerasi di sana terbangun melalui relasi pertemanan. Biasanya, ketertarikan untuk bermusik muncul karena komunikasi yang intens. “Orang bawa teman ke sini, ngobrol-ngobrol. Lama-lama tertarik, jadi main,” terangnya.

Bahkan, kata Ameng, tidak sedikit pula di antara pelaku musik metal di Ujung Berung yang bermula dari coba-coba. Salah satu contohnya adalah Diaz yang kini merupakan gitarisnya. “Dia awalnya utak-atik gitar,” ujarnya. Dalam proses informal itu, semua saling berbagi. Tak melulu soal teknis bermusik, pengalaman dan nilai-nilai yang harus dimiliki seniman—khususnya pemusik cadas—pun terus ditransformasikan kepada mereka yang baru bergabung.

Man Jasad menceritakan, eksisnya musik metal di Ujung Berung saat komunitas serupa di kota lain seperti Jogjakarta ataupun Malang mulai redup bukanlah tanpa alasan. Dalam survei internal, pada 2010 ada sekitar 140 band serumpun seperti metal, death metal, grindcore, hingga heavy metal di Bandung. Mayoritas ada di Ujung Berung.

Pria kelahiran Cimahi itu menyebutkan, kunci eksistensi adalah sikap berani lapar yang terus dijaga kawan-kawannya. Man mengklaim, meski tidak semua, banyak band metal di tempatnya yang masih kukuh memegang prinsip tersebut. Dalam praktiknya, prinsip itu ditunaikan dengan cara bermusik yang tidak menghamba pada pemodal ataupun sponsor. “Kita kalau ada sponsor syukur, kalau tidak ada, jalan sendiri,” tutur pria 39 tahun tersebut.

Uniknya, meninggalkan cara-cara industrialisasi musik mainstream justru membuat Ujung Berung semakin kuat. Jasad, misalnya, berdiri sejak 1990-an hingga kini tetap eksis dan digandrungi penggemarnya. Sebuah capaian yang sulit didapat band-band yang mengikuti pola industri musik mainstream. Dengan tidak menghamba pada industri mainstream, militansi dan fanatisme di kalangan para penyukanya justru menjadi pondasi yang kukuh bagi Ujung Berung.

“Kalau mainstream tidak ada sponsor tidak manggung. Kita mah tetap manggung meski kecil-kecilan,” kata pria berkumis itu. Meski demikian, tidak berarti Ujung Berung antiindustri. Hanya, mereka lebih suka membangun industri sendiri daripada mendompleng ke label tertentu. Nyatanya, saat ini semua yang berkaitan dengan produksi (baik CD maupun merchandise), distribusi seperti distro, hingga publikasi media dibangun mereka sendiri. “Industri mainstream penjualan sudah dimonopoli label. Kita jalan seadanya,” katanya.

Kukuhnya kesetiaan para penggemar juga tidak terlepas dari cara Ujung Berung dalam mendidiknya. Dalam memproduksi karya, cara manual tapi bermartabat dengan membuat kaset atau CD terus ditanamkan. Maka jangan heran, segurem apa pun band metal di sana, semuanya memiliki CD. Sebab, Ujung Berung meyakini, cara produksi memengaruhi pola pikir konsumennya.

Mereka tidak sepakat dengan pola musisi sekarang yang mulai memanfaatkan internet seperti YouTube atau portal-portal musik. Menurut Man, cara tersebut sama saja dengan membodohi konsumen. Dia menilai, mengakses karya seorang seniman tidak layak dilakukan dengan cara sembrono seperti mengunduh di situs atau menonton di YouTube. “Itu cara yang zalim. Di balik proses produksi kan ada perut-perut yang harus diisi makanan, ada senar yang harus dibeli,” kata lulusan STM itu.

Sebaliknya, dengan cara bermartabat, akan terjadi ikatan saling menghargai antara seniman dan penggemar. Selain itu, koleksi yang tampak secara fisik jauh memiliki nilai lebih. Bukan hanya sejarah. Melainkan juga keuntungan ekonomi. Biasanya, semakin jadul sebuah CD, semakin mahal nilai ekonominya.

Diakui, walau jumlah penikmatnya nanti tidak sampai puluhan juta seperti viewer klip video beberapa musisi di YouTube, Man yakin para penyukanya memiliki kesetiaan yang lebih dalam. “Yang sekarang naik daun di YouTube paling sekilas saja,” guraunya. Meski demikian, dia tidak terlampau risau jika ada oknum-oknum yang membajak karyanya. Sebab, para penggemarnya tetap akan membeli produk yang resmi. Karena pola itulah yang sudah dibangun selama puluhan tahun.

Nah, kini semangat itu pula yang terus ditanamkan kepada para adik-adiknya di Ujung Berung. Hanya dengan cara itu, Ujung Berung sebagai entitas musik metal tidak terjerembap pada kemunduran. Tapi, diakui, proses transformasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebab, ada saja kelompok yang salah menerjemahkan nilai-nilai tersebut. 

Dalam menggelar acara, misalnya, mulai muncul beberapa kelompok di kalangan generasi baru yang gila popularitas. “Mulai manja. Kalau bikin acara pengin diliput media mainstream, pengin ada sponsor,” kata dia. (*)

LOGIN untuk mengomentari.