in

Cara SMB II Sindir Perilaku Penjajah Belanda Melalui Indahnya Syair Sinyor Kosta

BP/IST
Syair Sinyor Kosta

Palembang, BP

BP/IST
Ketua Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja

PADA masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Kesultanan Palembang Darussalam dicanangkan sebagai pusat studi Islam dan sastra, terutama setelah kemunduran kerajaan Aceh pada tahun 1750-1800. Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II, juga banyak muncul ulama ternama yang mengembangkan pemikiran Islam.

Sultan Mahmud Badaruddin II juga dikenal sebagai ahli dalam diplomasi, strategi perang, serta terkenal sebagai sultan yang berwawasan luas dan suka belajar, sehingga dia mempunyai perpustakaan pribadi.

Sultan Mahmud Badaruddin II mempunyai perhatian yang luas terhadap berbagai bidang ilmu pengetahuan khususnya bidang sastra, sebagai contoh Sultan Mahmud Badaruddin II juga mengarang Pantun Sultan Badaruddin dan Syair Perang Menteng, dimana pantun Sultan Badaruddin merupakan pantun yang ia sampaikan ketika akan menikahi puteri dari Kemas Muhammad, salah seorang kerabat kraton. Sedangkan syair perang menteng adalah sebuah syair yang ia sampaikan kepada para prajuritnya untuk memberi semangat dalam berperang melawan Belanda pada tahun 1819.

KARYA  yang tak kalah menakjubkan dan sangat indah bahasanya dari Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang adalah  syair Sinyor Kosta .

Menurut zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja menilai , Syair Sinyor Kosta  dibuat oleh Sultan Mahmud Badaruddin II  antara di Palembang dan di pengasingannya di Ternate

“ Kalau Syair Burung Nuri itu dibuat Sultan Mahmud Badaruddin II di pengasingannya di Ternate,” katanya, Kamis (24/4). Syair Sinyor Kosta sendiri  menurutnya seperti cerita dul muluk.

Syair Sinyor Kosta,   menurut Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja merupakan cerita sindiran kepada orang Belanda yang menyenangi wanita  pribumi.

“ Orang Belanda ini ingin memiliki wanita pribumi ini tapi tidak bisa karena ada pertentangan  baik dari adat, budaya , “ katanya sembari mengatakan kalau syair Sinyor Kosta sangat di sukai sastrawan melayu seperti dari negara Malaysia.

Sedangkan Syair Sinyor Kosta  dinilai R.O Winstedt , seorang direktur pendidikan di British Malaya yang membentuk pendidikan di Melayu dan menghasilkan sebuah badan tentang tulisan-tulisan di Melayu, menilai syair Sinyor Kosta sebagai syair realistic,seakan menjadi penghubung antara ‘syair-syair percintaan’ dengan ‘syair-syair sejarah’.

“…Gaya dan topiknya hidup dan baru,benar-benar merupakan satu dari sedikit karya-karya melayu yang asli”(Winstedt 1991:135).

Syair Sinyor Kosta atau Syair Silambari sendiri  digubah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 (Drewes 1977:225-226).

Sultan Mahmud Badaruddin II dalam syair ini melukiskan kehidupan sehari-hari,alam pikiran dan adat istiadat kebiasaan para saudagar di tengah masyarakat Melayu.

Larik Syair ini  masing-masing terdiri 8 suku kata, suatu hal yang tidak biasa untuk genre ini. Bahasa Syair mirip bahasa percakapan,lazim digunakan di Bandar perniagaan. Bahasanya sangat kaya, tak lain merupakan stilisasi literer ala bahasa percakapan.

Syair Sinyor Kosta menggambarkan sebuah bandar  di sebuah negeri Melayu yang dikuasai  Belanda atau Batavia akhir abad ke-18 permulaan abad ke-19 diduga kota Palembang kala itu.

Sultan Mahmud Badaruddin II dalam syair tersebut  melihat sebuah  kota dikelilingi istana; gedung batu dan rumah beratap genting ,kedai tukang emas, para pembeli yang royal menghamburkan uang untuk perhiasan bagi gundik mereka, berbagai macam pasar,pasar ikan paling banyak disebut, Bandar dengan sampan berdayaung banyak “bagaikan jari-jari lipan”, berulang-alik dari kapal dagang ke pantai dan sebaliknya.

Pelakunya tinggal dikota Melayu yang dihuni berbagai Bangsa, Sinyor Kosta saudagar Portugis, Lela Mayang ,keturunan Burma ,suami Lela Mayang ,saudagar Cina dan Jaruman janda tua asal Bali.

Perhatikan tingkah jaruman ,ketika bertemu Sinyor Kosta pertama kali:

“Milam manis mulut jalak,

Main tipu sangat bijak,

Satu kata dua sajak,

Orang datang sulang arak

Dan berikut mereka berpisah:

“lalu jalan milam balu,

Buang lambai sambil lalu,

Angkat tabik teleng ulu,

Bagai merak kirai bulu

Cerita percintaan Syair Sinyor Kosta

Sinyor Kosta datang berniaga di sebuah kota Bandar. Ketika sedang berjalan makan angin, ia melihat Lela Mayang yang cantik duduk di jenang jendela. Ia gunding saudagar cina Ce Koa.

Sinyor Kosta menutup payungnya,membenarkan letak topinya dan berdiri menatap Lela Mayang . seketika ia jatuh hati.

Tetapi Lela Mayang selintas terpikir ,si pesolek “kaus kancing intan pudi” jauh lebih tampandari suaminya. Namun ia segera melupakannya.

Sinyor Kosta menemui “milam balu”, janda tua dikenal sebagai Jaruman. Dimintanya memberikan Lela Mayang sebutir “intan harga tujuh ratus” dimaksud 700rial, meminta bertemu dengannya. Gundik saudagar Cina yang cantik, benar tertarik kepada Sinyor Portugis tampan.

Tetapi enggan membalas perasaannya. Agak kesal juga ketika balu tua meninggalkannya. Sinyor Kosta merasa kepedihan siksa cinta hampa. Semangatnya bergairah kembali ,ketika Jaruman Bali menghidangkan “arak api” ia menjadi “mabuk sungguh-sunguh”, serta bermain mata mencumbu-rayu pelanyan kecil molek.

Rindu dendamnya menyala, disuruhnya balu tua menemui kekasihnya. Jaruman membawa “karang bunga sena” yang diperciki “ubt guna-guna” dan “sapu tangan bunga sulam” yang menyimpan bau tubuh Sinyor Kosta, porsi besar obat guna-guna yang sama.

Usaha kedua berhasil. Jelita balu tua member cincin bertatah permata lebih mahal,membujuknya agar mau melarikan diri bersama saudagar Portugis. Setuju Lela Mayang mengirim sapu tangan, tidak kurang harumnya, berjanji menyembuhkan sakit asmaranya.

Adegan pertemuan Lela Mayang dengan Jaruman, “gambar”  demi “gambar” mencerminkan gerak dan air-muka si cantik,sesuai pasang surutnya perasaan hatinya.

“Shot” 1 : Lela Mayang duduk membelakangi janda yang cerdik sambil menciumi harum bunga yang dibawanya. Ia hampir tidak mengindahkan kata-kata jaruman, ‘hanya sekali-sekali dilemparnya kerlinganya padanya. Tetapi fasih lidahnya tidak sia-sia, seperti halnya harum obat pekasih itu.

“Shot” 2 : Lela Mayang duduk makan sirih dengan kepala tunduk. Ia merasai nafsu birahi mulai mambakar hatinya. Jaruman yang segera tahu keberhasilan sahanya, seketika itu juga merangkai kata-kata bujuk rayu dengan fasinya.

“Shot” 3 : Lela Mayang tetap tertunduk . tetapi tampak menarik napas yang panjang,matanya berlinang-lingan dengan air mata membayangkan penderitaan  asmara Sinyor Kosta .

“Shot” 4 : Lela Mayang pertama kalinya tersenyum dan menyatakan kesediaannya melarikan diri bersama Sinyor Kosta.

“Shot” 5 : Lela Mayang tertawa gembira, mendengar seloka-seloka yang dirangkai janda tua dengan fasihnya. Di sini adegan dua tokoh ini berakhir.

“Shot” 6 :  Jaruman melalui pasar ikan,hendak membanggakan hasil usahanya dan memberikan kepada Sinyor Kosta.(“penonton film” Melayu pertama), diberi “gambar dekat” (close-up) janda tua dihias terlalu banyak bunga,tampak menggelikan seperti “tajuk bunga.

Perjamuan di rumah saudagar Cina seperti adegan film atau wayang kulit:

“Siti balik bidai jarang,

Milam pasang dian terang,

Lalu kerling sinyor bujang,

Rupa wajah Lela Mayang,

Sinyor kerling nyata-nyata,

Siti bagai gamabar peta,

Kena sianr dian pelita,

Putih kuning tidak leta,

Joget bangkit lalu tari,

Sinyor Kosta tarik nyanyi,

Bijak sungguh sinyor dendi,

Suara bagai bangsi nuri,

Sinyor duduk atas bangku,

Joget tari turut lagu,

Dekat Sinyor lalu pangku,

Sangat manis barang laku…

Malam jauh dari petang,

Keluar arak berapa baling,

Cina banyak minum sulang,

Main tipu sinyor gilang,

Cina mabuk tubuh lembut,

Habis basah hujung janggut,

Sinyor sulang turut-turut,

Mata cina kelam kabut”.

Seorang penari dipangku Sinyor Kosta, menyanyi bersama pemain music. Jamuran memasang dian dibalik tirai,Lela Mayang melihat tarian dan memperhatikan kekasihnya. Saudagar Portugis melihat Lela Mayang di balik tirai tipis “kena sinar dian pelita”.

Pengarang membuktikan bakatnya, penggambaran dua kekasih melarikan diri. Menghabiskan piala arak menenangkan hati, Lela Mayang bertudung kain kasa berwarna biru berjalan paling depan.

Sinyor Kosta mengikuti juga pengiringnya dari Bandan yang setia.

Berjalan membungkuk karna mengusung peti berisi “mas kawin”, Lela Mayang tidak melupakan walau di mabuk cinta. Bergegas mereka meninggalkan kampong cina padat penghuni. Para pelaku naik sampan yang membawa mereka ke atas kapal.

Indra pencium terangsang bau harum bunga, terdapat pada setiap halaman kisah. Indra pendengar melukiskan macam bunyi riuh dan bising,gerisik dan kersik,tinggi-rendah, kasar-lembutnya suara.

Menciptakan  struktur fonis yang sangat komplek dan kaya. Sebagai contoh aliterasi kutipan :

“Milam masuk muka pintu…”

“Buang lambai sambil lalu…”

“Milam sulang sinyor senyum…”

“Lalu kata milam balu…”#Dudy Oskandar

What do you think?

Written by Julliana Elora

Kedeputian Kemaritiman Setkab Gelar Sosialisasi Perpres Nomor 9 Tahun 2019 di Padang

Tidak Diperhitungkan, Sri Kustina Justru Ungguli Suara Sumsel 2