in

Desainer Italia ingin kolaborasi ciptakan busana batik

London (ANTARA News) – Duo desainer Italia Mimo dan Alessandra mengungkapkan keinginannya berkolaborasi dengan desainer Indonesia untuk menciptakan busana batik dengan desain yang lebih tanggap pasar Italia.

Hal itu terungkap dalam acara talkshow Indonesia: La vita a colori / Indonesia: Kehidupan dalam ragam warna yang diadakan di kediaman resmi Duta Besar Indonesia di Roma, Senin sore.

Counsellor Pensosbud KBRI Roma, Charles F. Hutapea kepada Antara London, Selasa mengatakan acara talkshow diadakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Roma sebagai upaya promosi wastra Indonesia dalam rangka Pekan Budaya Indonesia di Italia berlangsung dari tanggal 21- 29 September.

Kegiatan yang dihadiri perempuan pendamping korps diplomatik internasional, sosialita serta pelaku mode di Roma ini, juga ditujukan untuk menyambut peringatan Hari Batik Nasional pada tanggal 2 Oktober mendatang.

Dalam paparannya desainer Novita Yunus menyebutkan batik sebagai wastra nusantara paling dikenal dan memperoleh pengakuan global sebagai produk budaya Indonesia, bukan hanya dikenakan dalam kesempatan istimewa tetapi dengan desain kontemporer dan penyesuaian material yang digunakan dapat dikenakan berbagai suasana serta setiap musim.

Ketua DWP KBRI Roma Junie Artati Alwi mengatakan batik yang mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia 2 Oktober 2009 lalu, dapat lebih dikenal oleh publik di Roma. Berbagai warna dan motif pada setiap helai kain tradisional merepresentasikan keragaman budaya Indonesia.

Para tamu yang hadir terlihat antusias mengikuti rangkaian acara diawali dengan tarian Mappadendang dari Sulawesi Selatan oleh anggota DWP, Ade Arvianti Asrarudin.

Maria Valdiserri, jurnalis majalah mode Italia, mengaku sangat tertarik dengan keunikan ragam desain batik yang diperagakan dan berencana menulis perkembangan batik di majalahnya.

Dima Kashour, Presiden UNWG (United Nations Women’s Guild) Roma, memuji inisiatif desainer Indonesia yang mempromosikan sekaligus melestarikan kekayaan budaya bangsa melalui industri fashion. Dima bersemangat ketika didaulat untuk menjadi model dan mencoba padu padan kain batik.

Sementara itu Sofia Kis, istri Dubes salah satu negara sahabat berujar, mi sono innamorata di Indonesia, yang artinya saya makin jatuh cinta dengan Indonesia.

Ketua Pelaksana acara ini, Lona Hutapea menyatakan kegembiraannya atas kehadiran dan antusiasme undangan. “Batik sangat unik, klasik sekaligus kontemporer, sehingga banyak tamu undangan yang tertarik mengetahui lebih jauh bahan maupun cara penggunaannya,” tutur Lona.

Teknik membatik di Italia diketahui sejak awal tahun 1900-an dibuktikan dengan koleksi lukisan batik di salah satu sudut Musium Salvatore Ferragamo di kota Florence dan juga di Museum milik salah satu ikon fesyen dunia dipajang lukisan batik sogan dengan motif khas Italia karya Franco Nava dibuat tahun 1934.

Dubes RI untuk Italia, Esti Andayani, menyatakan upaya promosi batik yang telah diakui sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia di Italia sebagai salah satu pusat mode dunia, diharapkan dapat memperluas jejaring desainer nasional agar semakin diakui di tataran industri mode global.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

What do you think?

Written by Julliana Elora

70 Persen Dosen Pariwisata dari Praktisi

Dua film Indonesia tayang di Festival Film Internasional Tokyo 2017