in

Hari Jadi Provinsi Sumbar, Ironi, Penetapan Hari Jadi Terlambat

PADANG, METRO – Terkait hari jadi Provinsi Sumbar yang jatuh pada hari ini, 1 Oktober 2019, salah satu staf ahli DPRD Sumbar Shofwan Karim berharap pemerintah bisa menciptakan generasi emas untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah. Hal tersebut diungkapkannya saat menggelar jumpa pers, Senin (30/9) dikatakan, pada era globalisasi setiap program yang digagas pemerintah daerah harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga inovasi wajib dilakukan.

“Pada hari jadi Sumbar mesti dimaknai dengan proses evaluasi untuk perkembangan daerah, apa yang harus dilakukan dan apa yang menjadi program prioritas dimasa akan datang,” kata Shofwan.

Dia mengatakan, perencanaan program yang disusun mesti merujuk terhadap evaluasi apa yang menjadi kekurangan daerah. Proses pembangunan tidak bisa diberatkan hanya kepada pemerintah melainkan seluruh unsure. Sumbar menargetkan pada tahun 2024 akan lahir generasi yang andil terhadap kamajuan nusa dan bangsa. “Kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang positif, namun ketika tidak bijak, bisa menjadi mudarat,” kata Shofwan.

Dilanjutkan, banyak potensi yang bisa dimafaatkan guna memajukan Sumbar termasuk banyaknya perantau yang telah mendulang kesuksesan. Untuk para perantau , lanjutnya, terus memiliki kepudulian terhadap Sumbar. “Meski berada jauh dari kampung halaman, keminangan dalam jiwa perantau tidak akan memudar,” ujar Shofwan

Dia merincikan untuk saat ini jumlah penduduk Sumbar lebih dari lima juta jiwa, hal itu belum masuk warga yang berdomisili di perantauan, jika ditotalkan akan mencapi 13 juta jiwa.

Dengan banyaknya perantau merupakan suatu potensi, mereka yang diluar mesti mengetahui bahwa hari ini Sumbar merayakan hari jadi provinsi. Proses penetapan hari jadi Sumbar telah dibahas secara komperensif dengan melibatkan banyak unsur. “Cuma Sumbar satu-satunya provinsi yang memiliki biro rantau yang menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” kata Shofwan.

Shofwan Karim yang juga ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Muhamadiyah Sumbar mengatakan, penetapan hari jadi Sumbar merupakan gagasan yang telah dibuat pada era dirinya menjadi anggota dewan pada tahun 1992-1997 dan baru terlaksana pada tahun 2019 dengan pembahasan yang cukup panjang.

Banyak tokoh yang mengagas lahirnya Sumbar sebagai sebuah provinsi sejak Indonesia mardeka dianntaranya Muhamad Djamil yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit. Tidak hanya Muhamad Djamil , namun juga ada nama Rasuna Said dan Tuanku Syafii .

Terkait ini DPRD bersama pemerintah provinsi (Pemprov). Bahkan, rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang Hari Jadi Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 1945 pada paripurna DPRD Sumbar, Senin (22/7).

Ranperda Hari Jadi Sumbar merupakan inisiatif DPRD melalui hak usul prakarsa. Pembahasannya mengalami proses panjang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari akademisi, sejarawan, budayawan dan tokoh-tokoh masyarakat.

Ide penetapan hari jadi ini sudah ada sejak anggota DPRD periode 2004-2009, namun baru terealisasi pada periode ini. Sungguh ironis, daerah yang telah menunjukkan peran dan eksistensi yang sangat besar tetapi belum menetapkan hari jadi. (heu)


What do you think?

Written by virgo

Saksikan Pelantikan Anggota MPR/DPR/DPD RI Periode 2019-2024

Pembukaan Festival Film Busan dibatalkan akibat topan