
Oleh: Tundra Meliala
Ketua Umum Asosiasi Media Multiplatform Indonesia (AMMI) Pusat
ANAK sudah tidur. Suami masih di luar. TV di dapur lupa dimatikan.
Ibu 56 tahun itu duduk sendiri di tengah rumah di Bojongsoang. Di kepalanya berputar semua berita hari ini: MBG yang masih meracuni anak di daerah, putusan MA soal SMA Gibran yang merambat ke wacana pemakzulan, sidang ijazah Jokowi yang diributkan Roy Suryo, pidato Prabowo yang tanpa teks, sampai demo besar dan gosip kudeta presiden.
Indonesia malam itu terasa menakutkan bagi si ibu.
Lalu dia bertanya pada diri sendiri: apakah Indonesia yang menakutkan, atau caranya menonton Indonesia yang membuat takut?
Tulisan ini adalah jawaban untuk si ibu. Sebuah kacamata, agar kita tidak linglung.
1. MBG: Keributan Pertama yang Paling Lama
Makan Bergizi Gratis adalah kekisruhan pertama sejak Prabowo memimpin. Dan keributan yang paling lama.
Niatnya baik: anak jangan lapar di sekolah. Tapi pelaksanaannya membuat orang tua takut.
Pucuk Badan Gizi Nasional sudah tiga kali ganti. Dadan Hindayana, kepala pertama, dicopot 2 Juni 2026 dan sehari kemudian ditetapkan tersangka korupsi oleh Kejaksaan Agung bersama dua wakilnya. Nanik Sudaryati Deyang, kepala kedua, hanya bertahan 45 hari lalu mundur karena harus berobat jantung. Sudaryono, kepala ketiga, kini mencopot 137 kepala SPPG sekaligus.
Tapi keracunan belum berhenti. Di Sidoarjo 566 santri diduga keracunan. Di Bogor dan Cirebon lebih dari 1.000 orang. Di Batang ratusan orang.
Kenapa ganti kepala tidak cukup? Karena masalahnya bukan hanya orang, tapi sistem.
Pertama, skala terlalu besar terlalu cepat. Anggaran Rp268 triliun untuk hampir 90 juta penerima. Dapur harus tumbuh ribuan dalam hitungan bulan.
Kedua, model SPPG rawan jual-beli titik. Dapur mitra itu nilainya besar. Yang dapat titik bukan yang paling siap soal higienitas, tapi yang paling bisa membayar atau paling dekat dengan pejabat. Di Sidoarjo ditemukan 31 SPPG belum berizin tapi sudah beroperasi.
Ketiga, SOP dilanggar secara sistematis. Ada dapur yang membeli makanan jadi — telur puyuh kupasan, bumbu kacang siap pakai. Ada yang masak malam, dipanaskan lagi subuh, baru dibagikan siang.
Kearifan orang tua itu sederhana: kalau masakanmu membuat anak orang sakit, berhentilah dulu. Jangan paksakan tetap masak sambil bilang nanti juga sembuh. MBG tidak harus dibubarkan, tapi harus diperlambat dan dibersihkan.
2. Tiga Isu yang Dicampur Jadi Satu Rasa Takut
Setelah MBG, ada tiga isu yang selalu muncul bersamaan di TV: SMA Gibran, ijazah Jokowi, dan penyadapan presiden.
Padahal ketiganya berbeda panggung.
Soal Gibran, MA pada 30 Oktober 2026 memang membatalkan surat penyetaraan SMA-nya. MK juga menyatakan tidak menemukan ijazah SMA luar negerinya. Denny Indrayana membaca itu sebagai dasar pemakzulan. Pendukung Gibran membaca PKPU yang menyebut lulusan S1 tidak wajib lagi bukti SMA. Ini belum pemakzulan. Ini baru perdebatan tafsir hukum yang jalannya sangat panjang lewat DPR-MPR.
Soal ijazah Jokowi, pada 5 November 2026 Jokowi menunjukkan ijazahnya di PN Jakarta Timur: SD, SMP, SMA, hingga S1 Fakultas Kehutanan UGM. UGM sudah menyatakan dia lulus. Roy Suryo, terdakwa fitnah, mengatakan ijazah itu berbeda dengan yang dia pegang di Polda. Yang menentukan asli atau palsu bukan analisis foto di YouTube, tapi lab forensik dan keterangan universitas. Sidang masih berjalan.
Soal penyadapan, Bareskrim sudah menetapkan empat tersangka dari Polri, termasuk mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Sampai hari ini belum ada bukti resmi yang menyatakan Jokowi terlibat. Ada yang menyebut makar, ada yang menyebut sampai ke Solo. Itu masih opini, bukan putusan.
Kearifannya: bedakan panggung hukum dan panggung opini. Pengadilan itu panggung hukum. Medsos itu panggung opini. Jangan bawa panggung opini ke dalam kamar tidur.
3. Kenapa Semua Terasa Dibesar-besarkan? Karena 2029 Sudah Dimulai
Ada yang bilang tiga isu di atas hanyalah masalah biasa dalam pemerintahan, tapi didengungkan oleh eks pesaing yang tidak move on untuk mengamankan 2029.
Ada benarnya.
Di Indonesia, pemilu tidak pernah benar-benar selesai. Yang kalah punya kepentingan menjaga api tetap menyala sampai 2029. Yang menang punya kepentingan memadamkannya. Kita di tengah jadi penonton yang kepanasan, padahal yang bertarung sedang berhitung.
Ini kampanye abadi. Semua masalah pemerintahan diubah jadi bahan kampanye.
Maka jangan warisi pertarungan elite. Mereka bertarung untuk jabatan. Kalau kita bertarung sampai sakit jantung, mereka tidak bakal membayar obat kita.
4. Cara Agar Tidak Kena Jantungan dan Alzheimer Politik
Saya menyebutnya alzheimer politik: jantung deg-degan karena takut, pikiran lupa mana yang benar karena terlalu banyak versi.
Obatnya bukan berhenti peduli. Obatnya adalah tiga pertanyaan sebelum ikut deg-degan:
Apakah sudah ada putusan resmi? Kalau baru opini, itu masih gorengan.
Siapa yang diuntungkan kalau isu ini besar? Kalau yang diuntungkan adalah yang kalah kemarin, patut curiga ada kepentingan elektoral. Tapi curiga bukan berarti isu itu palsu.
Apakah isu ini mengubah hidup kita besok pagi? MBG yang keracunan mengubah hidup — itu wajib dikawal. Perdebatan foto ijazah tidak mengubah harga beras besok pagi.
Indonesia tidak minta diselesaikan jam 11 malam oleh seorang ibu sendirian di tengah rumah.
Tugas kita bukan menyelesaikan Indonesia. Tugas kita adalah menjaga kewarasan sampai 2029, supaya kita bisa memilih dengan jernih.
Matikan TV di dapur. Minum air hangat. Tidurlah. Besok pagi Indonesia masih ada, dan kita masih bisa mengawalnya dengan akal sehat. (***)
Berita Serupa
