in

Kilas Balik Peringatan Hari Bela Negara

Drs. Faisal Adri
Guru IPS UPTD SMPN
3 Bukit Barisan

Masih ingatkan kejadian pemberontakan G 30 S PKI di Madium tanggal 19 September 1948 lalu. Ya, itulah latar belakang pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hancurnya ibu kota Indonesia yang pada saat itu berada di Yogyakarta oleh Belanda dengan Agresi Militer kedua bulan November hingga Desember.

Serangan itu dilakukan pada pagi hari Jam 06.00 yang merupakan serangan terakhir. Sebelum petinggi Indonesia ditawan oleh Belanda, mereka melakukan sidang kabinet dengan keputusan memberikan mandat melalui telegram yang dikirimkan kepada Menteri Kemakmuran yaitu Syafruddin Prawiranegara.

Tepatnya pada menit-menit terakhir sebelum Soekarno-Hatta ditangkap, yang isinya agar segera membentuk PDRI. Pada 19 Desember 1948, Belanda menyerang dan menduduki Kota Yokyakarta, presiden dan wakil presiden Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, ketua KNIP dan sejumlah pimpinan ditahan dan diasingkan ke Bangka dan Brastagi, lalu Prapat (mulai Januari semuanya disatukan di Bangka).

Pagi-pagi hari tanggal 19 Desember 1948 tersebut, Presiden dan wakil presiden segera mengirim “surat kawat” dan mandat kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara agar segera membentuk Pemerintahan Darurat Repulblik Indonesia (PDRI) meskipun surat mandat itu tidak pernah diterima.

Bukittinggi diserang dari udara oleh pasukan besar Belanda yang bergerak serentak yang melewati garis renville. Tetapi baru sampai di Bukittinggi pada 21 Desember malamnya.
Maka sejak tanggal 19 Desember 1948, dalam waktu yang singkat paraktis semua kota di Jawa dan Sumatera sudah dikuasai oleh Belanda.

Peranan PDRI antara lain agar PDRI dapat berfungsi sebagai mandaris kekuasaan pemerintah RI dan berperan sebagai kunci dalam mengatur arus infommasi. Sehingga mata rantai komunikasi tidak terputus dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Keesokan harinya tanggal 23 Desember 1948 Syafruddin Prawiranegara berpidato, “ …

Belanda menyerang pada hari Minggu, hari yang biasanya dipergunakan oleh kaum Nasrani untuk memuja Tuhan. Mereka menyerang pada saat tidak lama lagi akan merayakan hari Natal Isa As, Hari suci dan perdamaian bagi umat Nasrani.

Justru karena itu semuanya, maka lebih–lebih perbuatan Belanda yang mengakui dirinya beragama Kristen, telah menunjukkan lebih jelas dan nyata sifat dan tabiat Bangsa Belanda, liciknya, curangnya dan kejamnya karena serangan tiba-tiba itu mereka berhasil menawan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Mentri dan beberapa pembesar negeri lainnya.

Dengan demikian mereka menduga menghadapi suatu keadaan negara Republik Indonesia yang dapat disamakan dengan Belanda sendiri pada suatu saat negaranya diduduki oleh Jerman dalam Perang Dunia ke II, ketika rakyatnya kehilangan akal, pemimpinya putus asa dan negaranya tidak dapat ditolong lagi.

Akan tetapi perhitungan Belanda Meleset. Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Soekarno – Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Semangat Patah tumbuh hilang Baganti.

Kepada seluruh Angkatan perang Negara RI kami serukan: bertempurlah, gempurlah Belanda dimana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh,”

Sejak itu PDRI menjadi musuh nomor satu Belanda. Mr. TM. Hasan yang menjabat sebagi wakil ketua PDRI, merangkap Menteri Dalam Negeri, Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, menuturkan bahwa rombongan mereka sering tidur di Hutan belukar, dipinggir sungai Batanghari dan sangat kekurangan bahan makanan.

Merekapun harus menggotong radio dan berbagai perlengkapan lain. Kondisi PDRI yang selalu bergerilya keluar masuk hutan itu diejek radio Belanda sebagai pemerintah dalam rimba Indonesia.

Perlawanan bersenjata dilakukan oleh tentara Nasional Indonesia serta berbagai laskar di Jawa, Sumatera serta beberapa daerah lainnya. PDRI menyusun perlawanan di Sumatera tanggal 1 Januari 1949, PDRI membentuk 5 Wilayah pemerintahan Militer di Sumatera yaitu di Aceh, Tapanuli Sumatera Timur bagian Selatan, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.

Setelah satu bulan selesai Agresi Militer Belanda, dapat terjalin komunikasi antara pimpinan PDRI dengan keempat Menteri yang berada di Jawa. Mereka saling bertukar usulan untuk menghilangkan dualisme kepepimpinan di Sumatera dan Jawa.

Selama Agresi Militer II, Belanda terus menerus mempropgandakan bahwa pemerintahan di Indonesia sudah tidak ada lagi. Propaganda itu dapat digagalkan oleh PDRI. PDRI berhasil menunjukkan pada dunia Internasional bahwa Pemerintahan dalam tubuh Republik Indonesia masih berlangsung, bahkan pada tanggal 23 Desember 1948 PDRI mampu memberikan Instruksi lewat radio kepada wakil RI di PBB.

Isinya pihak Indonesia bersedia menghentikan tembak-menembak dan berunding dengan Belanda. Tindakan PDRI itu berhasil mengangkat wibawa Indonesia sekaligus mengundang simpati dunia Internasional.

Atas keberhasilan itulah, para pemimpin PDRI sempat kecewa dengan tindakan para pemimpin RI di Bangka yang mengadakan perundingan dengan Belanda, tanpa sepengetahuan mereka. Mereka juga tidak menyetujui hasil perundingan Roem–Royen yang cendrung melemahkan wibawa Indonesia di mata dunia.

Para pemimpin PDRI yakin bahwa kedudukan Indonesia telah kuat sehingga mampu menuntut lebih banyak kepada Belanda. Untuk menyelesaikan perbedaan pandangan tersebut, maka berlangsunglah pertemuan antara para pemimpin PDRI dan pemimpin RI yang pernah di tawan di Bangka.

Pertemuan itu berlangsung pada 13 Juli 1949 di Jakarta. Dengan menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya, PDRI menyerahkan keputusan mengenai hasil Perundingan Roem Royen kepada Kabinet, Badan Pekerja KNIP, dan pimpinan TNI. Dan pada hari itu juga Syafruddin Prawira Negara menyerahkan mandat secara resmi kepada Wakil Presiden Muhammad Hatta.

Peristiwa ini merupakan titik balik perjuangan tentara PDRI kala itu dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)di mata dunia. Barulah pada tanggal 15 Januari 1949 pada pukul 9 pagi, beberapa pasukan dari Bataliyon Singa Harau yang dipimpin oleh Letnan Dt, Paduko Malano, dan beberapa prajurit yang sedang mendengar berita dan juga sedang bergerilya di daerah tersebut, bergegas mencari medan pertempuran untuk menghadang Belanda yang pada saat itu, hendak menghancur leburkan pusat PDRI.

Dengan cara membumi hanguskan Payakumbuh sebelum bergerak ke Kototinggi. Itulah sedikit kisah perjuangan yang saya torehkan dalam kesempatan kali ini. Saking heroiknya pertempuran tersebut, Belanda menjuluki “Battle of Saipan in Indonesia” …. .

Saya menulis cerita ini, karena begitu banyak para anak muda dan khususnya para pelajar saat ini yang tak ingat, bahkan tidak tahu sama sekali arti perjuangan pemerintahan PDRI terutama di daerah kita Limapuluh Kota dan Payakumbuh.

Cerita ini berdasarkan kisah yang saya dan saya dengar dari salah seorang sejarawan kita Mestika Zet dan para ahli sejarah tentang PDRI serta beberapa sumber catatan dari buku sejarah. (***)

What do you think?

Written by Julliana Elora

Instagram Luncurkan Notes, Fitur Baru Berbagi Pemikiran di Media Sosial

Awas, Perda Soal Peredaran Miras Bakal Terbit