in

Pacu Codang, Permainan Pelepas Lelah Anak Nagari di Solsel

Tak Boleh Curang, Ajarkan  Kerja Keras Capai Tujuan

Anak nagari di Jorong Kampuangtarandam, Nagari Kotobaru, Kecamatan Sungaipagu, Solok Selatan  punya cara yang unik untuk melepaskan lelah. Salah satunya dengan permainan pacu codang. Permainan ini dilakukan di sungai dengan menggunakan batang pisang. Sementara untuk dayungnya pakai kaki dan tangan. 

Sejumlah warga terlihat berjubel di sungai. Di tempat itu sedang berlangsung pacu codang. Peminatnya tak sekadar warga setempat, tapi juga wisatawan dari provinsi lain di Indonesia. Getek (batang, red) pohon pisang dimanfaatkan untuk pacuan di dalam sungai. Para peserta akan berpacu dari start hingga finish. 

”Pacu codang ini alternatif permainan tradisional yang seru dan mengasyikkan. Sebab, permainan ini dapat membuat kita secara spontan tertawa dengan situasi yang dialami peserta. Permainan ini juga dapat mempererat hubungan silaturahmi antarsesama,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) daerah setempat, Riski Ilahi kepada Padang Ekspres, beberapa hari lalu.  

Pacu codang, selain kebiasaan yang dilakukan anak-anak, juga kerap dimainkan pada kegiatan peringatan hari kemerdekaan atau pada acara tertentu. Permainan tradisional ini, tak kalah hebatnya dibandingkan pacu sampan. 

Pesertanya dalam satu putaran empat orang dan satu orang per getek pohon pisang itu. Banyak hal positif yang bisa diambil pada kegiatan pacu codang. Seperti menghilangkan rasa stres dalam pekerjaan. Permainan ini sangat diminati anak-anak yang beranjak  remaja. 

”Di sana kita akan melihat adu kecepatan dengan pihak lawan. Ada yang terjatuh, ada geteknya nyasar ke pinggir sungai, dan ada yang kehabisan tenaga sebelum mencapai finish. Hal ini, tentu menarik untuk dilihat dan dipertunjukan lewat lomba,” jelas Riski..

Jenis permainannya berupa balapan yang dilakukan di atas air. Dengan menggunakan dua atau tiga batang pisang yang direkatkan, lalu peserta menaikinya dengan posisi badan tengkurap.

Permainan tradisional yang turun temurun ini, bakal lebih seru dimainkan jika pesertanya lebih banyak. Karena akan banyak hal yang dapat mengocok perut.

”Peraturannya, dimainkan dengan posisi tengkurap, maka untuk melajukan pacu codang itu hanya dibolehkan dengan menggunakan tangan atau kaki sebagai pengayuh,” papar Riski. 

Dalam permainan tersebut, peserta tidak diperkenankan berlaku curang dengan membawa alat pengayuh berupa benda, seperti papan, kayu, dan lainnya. Layaknya perahu sampan. Tapi, murni menggunakan kaki, layaknya orang berenang. Dalam hal ini kecepatan tangan dan kaki lebih diandalkan untuk menuju finish. 

”Di sinilah keseruan permainan ini, karena melalui proses melajukannya menggunakan tangan dan kaki. Kadangkala arah laju pacu codang, tidak terarah dengan baik,” jelasnya.

Kondisi di dalam air, ada codang peserta yang berputar-putar ke segala arah, atau pun yang kesulitan menyeimbangkan tubuhnya di atas batang pisang. Sehingga mereka terjatuh ke sungai dan kehilangan getek pohon pisang mereka atau terpisah dari codang. 

”Bagi peserta yang jatuh, boleh melanjutkan. Tergantung peraturan awal permain. Jika boleh, tentu akan berusaha memacu lawan dengan jarak tempuh sekitar 30 meter,” sebutnya. 

Untuk menghindari adanya perselihan paham, maka harus ada kesepakatan aturan permain, sebelum pacu coding dimulai. Peserta yang duluan sampai ke garis finish akan menjadi pemenang.

Tapi, untuk mencapai ke garis finish tidaklah mudah. Melajukan pacu codang hanya menggunakan bantuan tangan dan kaki sebagai pengayuh membutuhkan stamina ekstra.

Sangat banyak peserta kelelahan di tengah jalan. Ditambah lagi dengan sulitnya mengatur arah pacu codang untuk bergerak maju. Tak pelak, kelucuan-kelucuan tersaji dalam permainan tradisional ini.

”Banyak lelucon yang dapat mengocok perut. Permainannya tanpa mengeluarkan dana untuk sarana penunjang, namun hanya mengorbankan pohon pisang dan bisa digunakan untuk peserta lainnya,” bebernya.

Tokoh masyarakat setempat, Hendrivon Wakil Dt Nangkodo menyebutkan, pacu codang peminatnya anak usia SD, SMP dan SMA sederajat. Sebab, dimasa-masa perkembangan mereka lebih cenderung tertarik tarhadap hal-hal yang bisa menyenangkan hati mereka. 

Tentu dalam permainanan ini, tak lepas dari pengawasan semua pihak. Baik orang tua, pemuda dan pemerintah jorongan setempat. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman. Mengingat permainan pacu codang dimainkan di sungai sehingga ada peluang yang bisa membahayakan.

Maka permainan pacu codang sebaiknya diperuntukkan hanya kepada mereka yang mahir berenang. Bagi yang belum bisa berenang disarankan jangan coba-coba memainkan permainan tradisional ini. 

”Nilai positif, memberi pengajaran bagi masyarakat untuk senantiasa bekerja keras dalam menggapai tujuan. Jangan mudah menyerah, dalam menghadapi berbagai rintangan. Sebab, tidak ada keberhasilan tanpa sebuah perjuangan,” katanya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Diam-diam Rayu Vizcarra untuk Pulang

Finno Andrianas, Pemain Baru Semen Padang Asli Ranah Minang