Beranda Nasional Pengelolaan Sumber Air Baru di Kota Wisata Berastagi Dibangun

Pengelolaan Sumber Air Baru di Kota Wisata Berastagi Dibangun

638
0
BERBAGI

TirtaPDAM Tirtanadi juga menyerahkan dana CSR kepada masyarakat Desa Sempa Jaya (Peceren) Kecamatan Berastagi. Dana CSR tersebut diserahkan oleh Kepala Cabang PDAM Tirtanadi Berastagi Asnan Daulay menyerahkan dana CSR PDAM Tirtanadi untuk masyarakat Desa Sempa Jaya (Peceren) diterima Kepala Desa Sempa Jaya, Meliala Purba di Aula Kantor Camat Berastagi, Selasa (26/4). (Berita Sore/ist )

BERASTAGI (Berita): Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tahun 2017 ini akan membangun pengelolaan sumber air baru yakni di Desa Peceren. Sebab selama ini, Desa Peceren paling sulit mendapatkan air bersih disebabkan tingkat elevasi paling tinggi di Berastagi.

Direktur Air Minum PDAM Tirtanadi Ir Delviyandri, MPsi mengatakan hal itu saat acara “Sambung Rasa Pelanggan Sosialisasi Penyesuaian Tarif Air” di Aula Kantor Camat Berastagi, Selasa (26/4).

Menurut Delvi, “Masalah paling berat adalah sumber air. Memang disini (Berastagi-red) memiliki mata air, tapi letaknya di lembah yang rawan longsor. Selama ini sumber air yg ada dari Lau Melas kapasitas 50 liter per detik, setengahnya dikirim ke Kabanjahe dan 50% lagi ke Berastagi,” kata Direktur Air Minum Ir. Delviandri, M.Psi saat acara Sambung Rasa Pelanggan Sosialisasi Penyesuaian Tarif di Aula Kantor Camat Berastagi, Selasa (26/4) pagi.

Hadir di sana Dewan Pengawas PDAM Tirtanadi Ahmad Taufan Damanik, Nurdin Lubis, Direktur Administrasi dan Keuangan Ir. Arif Haryadian, Msi, Ketua Tim Tarif Zulkifli Lubis, Kepala Cabang PDAM Tirtanadi Berastagi Asnan Daulay, Pemerhati Sosial Irvan Simatupang, Camat Berastagi Mirton Ketaren S Sos, Kepala desa, Kepala lingkungan, tokoh masyarakat Berastagi serta para undangan. Sosialisasi ini merupakan penutup dari rangkaian kegiatan sosialisasi yang gencar dilakukan oleh PDAM Tirtanadi mulai dari 5 April 2017.

Delviyandri menambahkan, menara air milik PDAM Tirtanadi tidak sanggup menyuplai air ke Desa Peceren dikarenakan letak geografis yang tinggi. Beda dengan daerah Sibolangit yang airnya bisa mengalir secara gravitasi. “Untuk menambah pasokan air kepada masyarakat Kota Berastagi, maka dibangun pengelolaan sumber air baru di desa Peceren kapasitas 37 liter per detik,” katanya.

Tentu ini memerlukan biaya maka kami harus melakukan penyesuaian tarif air. Karena untuk menyuplai air harus menggunakan pompa listrik, dimana kita sama-sama tahu tarifnya naik. Dan juga penggunaan bahan-bahan kimia seperti kapur untuk menetralkan tingkat keasaman air.

Sementara itu Direktur Administrasi dan Keuangan Ir Arif Haryadian, Msi menambahkan, bahwa pertemuan kali ini paling istimewa dikarenakan seluruh jajaran turun untuk memberikan paparan langsung di depan masyarakat. “Pertemuan kali ini paling istimewa. Mulai dari Dewan Pengawas, Direksi, Tim Tarif, Kepala Cabang dan elemen masyarakat turut turun menyampaikan sosialisasi,” katanya.

Dijelaskan Arif, pihaknya menyadari bahwa sampai saat ini belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan, termasuk pelanggan yang ada di Berastagi. “Melalui sambung rasa kami meminta kritik dan saran dari masyarakat untuk segera kami benahi. Untuk itulah kami turun kemari,” ujarnya.

Arif juga menuturkan bahwa saat ini Pemkab Karo dan PDAM Tirtanadi sudah berkomitmen untuk memperindah taman dan tugu wisata yang ada di depan Kantor Cabang Tirtanadi yang ada di Berastagi.

Pada kesempatan itu, PDAM Tirtanadi juga menyerahkan dana CSR kepada masyarakat Desa Sempa Jaya (Peceren) Kecamatan Berastagi. Dana CSR tersebut diserahkan oleh Kepala Cabang PDAM Tirtanadi Berastagi, Asnan Daulay dan diterima Kepala Desa Sempa Jaya, Meliala Purba sebagai kompensasi penggunaan sumber air di Desa Sempa Jaya yang nantinya akan digunakan untuk berbagai kepentingan Desa Sempa Jaya.

Ketua Tim Tarif Zulkifli Lubis menjelaskan bahwa sesuai dengan Permendagri No 71 Tahun 2016, untuk menaikkan tarif air minum harus mendapat persetujuan dari Kepala Daerah. Selama ini banyak terjadi Kepala Daerah yang tidak menyetujui kenaikan tarif, sehingga PDAM menjadi tidak sehat dan akhirnya perlahan mati.

Ia mengatakan seperti tahun 2012, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggelontorkan dana Rp200 Miliar untuk investasi pembangunan IPA Sunggal dan IPA Martubung. Dibutuhkan dana yang besar pula untuk merealisasikan program pengembangan tahun 2017 yakni up rating IPA Sunggal clerator no 2 dan 4, up rating IPA Deli Tua no 1, Pembangunan di Medan Denai, serta IPA paket Pancur Batu. “PDAM Tirtanadi berorientasi kepada sosial bukan bisnis. Jadi kami tidak bisa sewenang-wenang menaikkan tarif untuk mengejar keuntungan,” katanya.

Bahkan pernah tahun 2013, PDAM menjual air di bawah biaya produksi. “Itu semua kami lakukan demi melayani masyarakat,” jelas Zulkifli. Dewan Pengawas PDAM Tirtanadi Taufan Damanik yang turut hadir dalam acara sosialisasi tersebut mengajak para warga untuk berpartisipasi dalam kesejahteraan bersama. “PDAM Tirtanadi tidak akan menjadi swasta, kecuali ada faktor tertentu yang memaksa,” ujarnya. (wie)