in

Playoff IBL 2017 dan ancaman kuda hitam

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 11 tim yang berkompetisi di Liga Bola Basket Indonesia (IBL) 2017 sudah menyelesaikan semua pertandingan reguler liga, dari Seri I di Surabaya sampai Seri VIII di Bandung.

Hasilnya, ada enam tim terbaik dari dua divisi yang berhak menuju babak selanjutnya, yaitu playoff. Divisi Merah diwakili oleh berurutan dari peringkat pertama: Satria Muda Pertamina, CLS Knights Surabaya, dan Bank BJB Garuda Bandung.

Sementara Divisi Putih mengirimkan tiga tim yaitu Pelita Jaya Energi Mega Persada Jakarta, W88.News Aspac Jakarta, dan Pacific Caesar Surabaya.

Peringkat pertama masing-masing divisi, yaitu SM dan Pelita Jaya Jakarta, mendapatkan hak untuk langsung melaju ke empat besar atau “final four”. Mereka nantinya melawan tim pemenang laga antara peringkat dua dan tiga di masing-masing divisi.

SM akan berhadapan dengan pemenang laga CLS Knights Surabaya, juara IBL 2016, melawan Bank BJB Garuda Bandung pada 31 Maret-3 April 2017 di Surabaya. CLS akan menghadapi tim terunggul dari laga Aspac versus Pacific Caesar yang digelar pada 7-10 April 2017 di Bandung.

Format pertandingan memperebutkan dua slot tersisa di empat besar ini adalah “best of three”.

Babak semifinal kemudian diadakan pada 21-24 April 2017 untuk Divisi Merah dan untuk Divisi Putih diadakan pada 27-30 April 2017. Keempat tim di babak ini bertanding juga dengan format “best of three”, tetapi dalam kandang-tandang.

Kedua tim terunggul dari Divisi Merah dan Putih selanjutnya akan bertanding untuk trofi IBL 2017 di babak final yang diadakan pada 4-7 Mei 2017.

Dari enam tim terbaik IBL 2017 ini, kiprah Pacific Caesar Surabaya adalah yang paling menarik. Tim yang dilatih Bisih ini bisa dikatakan kuda hitam yang berpotensi meruntuhkan prediksi banyak orang tentang tatanan kekuatan di enam besar.

Lagipula, mereka sudah menumbangkan banyak dugaan sejak IBL 2017 dimulai.

Unggul pemain asing
Para pencinta bola basket nasional pasti tidak terkejut kalau mendengar nama-nama seperti Satria Muda, Aspac, Pelita Jaya, Garuda Bandung dan CLS Knights berada di playoff.

Ketika CLS Knights menjadi juara di IBL 2016 setelah mengalahkan Pelita Jaya di final, Aspac, Garuda dan SM merupakan pengisi slot playoff yang kala itu terdiri dari delapan tim.

Lantas bagaimana dengan Pacific Caesar?. Pada musim IBL lalu, mereka hanya menang sekali dari 33 pertandingan!

Tak ayal, walau sempat menjuarai turnamen pramusim Jawa Pos Honda Pro Tournament�2016, tidak banyak yang bisa memperkirakan Pacific Caesar bisa melaju jauh di liga.

Namun, aturan baru IBL yang mewajibkan semua tim menggunakan jasa pemain asing ternyata membawa berkah untuk Pacific.

Dalam perekrutan pemain impor dengan sistem “draft”, Pacific Caesar Surabaya berhasil mendapatkan tanda tangan dua pebola basket asal Kanada Kevin Loiselle dan David Seagers, pemain dari Amerika Serikat.

Kevin dan David ternyata bermain sangat baik di laga-laga reguler. Sejak Seri I sampai Seri VIII, mereka tampil padu dan berhasil masuk 10 besar pemain dengan rataan poin tertinggi per-pertandingan.

Menjelang playoff, Kevin berhasil menorehkan rata-rata 22,13 poin pertandingan dan menjadi terbaik ketujuh dari seluruh pebola basket IBL 2017. Sementara David, menjadi terbaik kesembilan dengan rataan 21,00 poin per-laga.

Selain itu, sebagai point guard, David Seagers juga menorehkan rekor apik lain. Dia menjadi pemain dengan assist terbanyak kedua di liga dengan rataan 5,87 assist per-pertandingan, hanya kalah dari Mario Wuysang (CLS Knights) dengan rataan enam assist.

David pun berkontribusi bagus di pertahanan dengan membuat rata-rata 2,60 “steal” di setiap laga, atau terbaik kedua di liga setelah point guard Bima Perkasa Jogja, Tyrell Corbin.

Dua pemain asing inilah yang menjadi kekuatan utama Pacific Caesar. Sayangnya ini sekaligus juga menjadi kelemahan terbesar mereka.

Kekuatan tidak merata
Karena sangat mengandalkan pemain asing, Pacific Caesar sering tampak seperti dua orang saja kala bertanding melawan tim lain dan sangat sedikit dukungan dari pemain lokal.

Pelatih Pacific, Bisih, sebenarnya sudah beberapa kali mengeluhkan hal itu. Salah satu yang mendapat perhatiannya adalah Kevin Loiselle yang sering berusaha menerobos pertahanan lawan sendirian walau pemain Pacific lain terbuka untuk menembak tiga angka.

“Kami bermain jelek, terutama saat menyerang. Tidak percaya pada teman sendiri,” tutur Bisih, usai timnya dikalahkan Pelita Jaya dalam lanjutan Seri VIII di Bandung, Minggu (19/3).

Ketidakseimbangan kualitas menjadi alasan adanya ketidakpercayaan tersebut. Lihat saja statistik tim peringkat ketujuh Perbasi Cup 2016 itu sampai seri terakhir IBL.

Tidak ada satupun pemain lokal mereka yang bisa membuat lebih dari tujuh poin di setiap laga. Pemain Indonesia yang paling menonjol di Pacific hanya Nuke Saputra yang membuat tujuh poin.

Dengan keadaan seperti itu, tentu sangat riskan bagi Pacific seandainya Kevin dan David “dikunci” oleh pemain lawan.

Sebab, lima tim lainnya di playoff memiliki pebola basket lokal yang mumpuni dan berpengaruh di tim. Satria Muda memiliki skuad dengan kekuatan merata baik lokal maupun asing. Pelatih Youbel Sondakh bisa mengandalkan nama-nama seperti Arki Dikania Wisnu, Muhammad Falconi dan Avan Seputra jika dua pemain asingnya, Tyrell Jewell dan Carlos Smith “mandek”.

Kubu Garuda Bandung punya nama-mana seperti Wendha Wijaya, Galank Gunawan dan Diftha Pratama untuk mendukung kiprah Sherrard Brantley dan Chris Ware.

Di Pelita Jaya EMP Jakarta ada nama-nama Respati Ragil, Ponsianus Nyoman Indrawan yang bisa menggantikan peran Kore White dan Martavious Irving jika diperlukan.

Aspac tentu saja dihuni Andakara Prastawa dan Abraham Damar, dua anak muda pencetak poin tertinggi bagi tim Jakarta itu, selain ada pula nama Pringgo Regowo. Mereka bisa membantu kinerja pemain impor yang baru bergabung jelang playoff, Dominique Williams dan Christopher Hill.

Terakhir di CLS, bermukim nama-nama penghuni tim nasional seperti Mario Wuysang dan Sandy Febiansyakh, serta “big man” lokal Firman Nugraha. Mereka acap kali menjadi andalan menyokong para pemain asing yang kini sudah diisi sosok baru yaitu Asthon Smith dan Willard Crew Jr.

Artinya, kalau Bisih dan jajaran kepelatihan Pacific tidak bisa menemukan solusi alternatif selain dengan mengandalkan Kevin serta David, maka jalan si kuda hitam menuju puncak IBL 2017 akan semakin berat.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

What do you think?

Written by virgo

Banyuwangi luncurkan aplikasi wisata baru

Super Mario Run sudah bisa dimainkan di Android