in

Rumah Apung, Inovasi yang Ramah Lingkungan

Pemerintah memberi perhatian khusus pada pengembangan kawasan pantai di Kota Semarang. Hal tersebut terlihat saat Tambaklorok dijadikan kampung bahari. Peresmian perdana prototipe rumah apung dilakukan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M Basuki Hadimuljono, baru-baru ini.

Pembangunan kampung bahari merupakan salah satu wujud program Nawacita. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan negara, dengan memperkuat jati diri sebagai negara maritim (bahari). Konsep bangunan apung yang diusung Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR untuk Kota Semarang disebut dengan Sistem Modular Wahana Apung (Simowa).

Bangunan dengan memanfaatkan gaya apung air ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian ponton dan struktur atas. Ponton terdiri dari foam, besi bertulang, dan beton. Sementara struktur bangunan atas menggunakan kombinasi baja berat, baja ringan, dan bahan lokal seperti bambu yang sudah diawetkan.

Strukturnya yang berlantai dua ini dengan konsep bangunan ramah lingkunan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan. Lantai bawah dan atas dirancang dengan konsep menyatukan kebutuhan pertemuan warga, perpustakaan hingga penyampaian informasi pemerintah di kawasan tersebut.

Peremajaan Kawasan Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto, mengatakan konsep pembangunan kampung bahari memfokuskan pada tiga hal. Ketiga hal tersebut adalah peremajaan kawasan, pemberdayaan masyarakat, dan sumber daya lokal.

“Wahana apung ini akan dimanfaatkan untuk rumah baca bagi warga, pariwisata, promosi, dan sosialisasi untuk mengubah mindset warga dari landed house ke wahana apung. Ke depan bila masyarakat setuju, wahana apung ini bisa dikembangkan menjadi hunian apung untuk warga Tambaklorok,” ujar Adi.

Basuki menyatakan rumah apung ini menjadi bangunan apung pertama di Indonesia yang diharapkan akan menjadi etalase atau percontohan untuk bangunan-bangunan apung lainnya. “Kami mengetahui lokasi Tambaklorok rentan dengan penurunan tanah yang cukup tinggi, 10-13 cm per tahun sehingga inovasi ini diharapkan dapat meminimalisasi problematika tersebut,” ungkapnya.

Dia berencana membuat sekitar 300 rumah apung untuk relokasi warga yang kena pembangunan tanggul. Basuki mengklaim bangunan ini bisa bertahan hingga 100 tahun karena dari bahannya yang ramah lingkungan dan murah. Jika ada banjir, rumah apung ini akan ikut naik, juga sewaktu kena pasang surut air laut. henri pelupessy/N-3

What do you think?

Written by virgo

Pencemaran Nama Baik

Walhi Sebut Banjir di Aceh Akibat Alih Fungsi Lahan