in

Rumah Gadang Salo Payakumbuh, Bermalam Di Jejak Kejayaan Minangkabau

Jejak-jejak kejayaan Minangkabau tempo dulu, terbentang di Rumah Gadang Salo, Payakumbuh. Berusia lebih 400 tahun, rumah gadang di atas lahan seluas 3.000 meter persegi itu, bisa menjadi pilihan bermalam yang nyaman dengan biaya murah, bagi keluarga atau rombongan besar.

RUMAH Gadang Suko Salo Pasukuan Ampek Niniak Koto Limbukan, terletak di Jalan Chatib Soelaiman, RT 002/RW 001, Kelurahan Limbukan, Kecamatan Payakumbuh Selatan. Jarak rumah gadang seluas 1.500 meter persegi ini dengan pusat Kota Payakumbuh, hanya sekitar 6 hingga 7 kilometer. Dapat ditempuh dengan kendaraan jenis apapun.

Menurut Yeni Ghazali, 72, bundo kanduang yang mengurus Rumah Gadang Salo Limbukan, rumah gadang ini pada mulanya adalah tempat tinggal keluarga kaum Datuak Paduko Alam.

Sehubungan dengan telah berkembangnya kaum masing-masing yang telah membentuk rumah secara pribadi, rumah gadang ini lebih difungsikan sebagai tempat bermusyawarah mufakat, baralek (pesta) anak-kemenakan, baralek pangulu, dan prosesi kematian.

“Di Rumah Gadang Salo Limbukan, pernah digelar prosesi adat yang dihadiri Raja Negeri Sembilan, Malaysia. Selain itu, juga pernah digelar acara pencak silat se-Minangkabau. Sebelumnya, juga pernah ada prosesi Batagak Pangulu yang dihadiri Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Pagaruyuang,” kata Yeni Ghazali kepada Padang Ekspres, Kamis (6/10).

Belakangan ini, menurut Yeni Ghazali, fungsi Rumah Gadang Salo Limbukan yang memiliki 36 tonggak asli, diperluas menjadi tempat pelatihan adat dan pusat belajar bagi masyarakat Limbukan.

Tidak itu saja, rumah gadang yang dilengkapi dengan 6 tonggak barando (beranda) ini juga menjadi tempat menerima tamu dari luar daerah. Sekaligus homestay atau penginapan bagi wisatawan.

Untuk wisatawan yang ingin bermalam di Rumah Gadang Salo Limbukan dengan jumlah besar atau rombongan beranggotakan 35 hingga 75 orang, pengelola mematok tarif erbilang murah meriah. Yakni, hanya sebagai Rp1,5 juta sehari. Itupun, masih bisa negoisasi.

“Kalau untuk keluarga atau wisatawan yang datang dalam jumlah kecil, biaya penginapan di Rumah Gadang Salo, Limbukan, bisa disesuaikan,” kata Yeni Ghazali yang mengelola Rumah Gadang Salo Limbukan bersama putrinya, Cut Henilisa Damaya Prima.

Yeni Ghazali menyebut, Rumah Gadang Salo Limbukan termasuk Bangunan Cagar Budaya yang sudah ditetapkan oleh Pemko Payakumbuh. Pada tahun 2019 lalu, Rumah Gadang Salo mendapatkan bantuan perbaikan dari dana Revitalisasi Desa Adat anggaran Kemendikbud RI.

Secara adat, Rumah Gadang Salo  termasuk aset Nagari Limbukan. Tapi secara fisik, kini dikelola Kaum Salo Datuak Marajo Bosa Nan Putiah. Karena termasuk asset nagari, Rumah Gadang Salo dengan pekarangan luas yang ditumbuhi rerumputan hijau, juga menjadi tempat bagi masyarakat, melaksanakan shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha, dan berbagai kegiatan Islami.

Rumah Gadang Salo Limbukan yang memiliki 3 jendela di anjungan depan, 4 jendela di ruang tengah, dan 3 jendela di masing-masing kamarnya, diyakini sudah berdiri sejak tahuh 1617. Jika dihitung, usia rumah gadang ini, sudah lebih dari 400 tahun.

“Rumah Gadang Salo ini sudah lima kali kepemimpinan. Mulai dari Rajo Batengen Dat Paduko Alam tahun 1617, Rajo Pamenan Datuak Paduko Alam tahun 1829-1900, Ahmad Sahar Dt Paduko Alam tahun 1901-1941,  Syahruddin Datuak Paduko Alam tahun 1941-2001, dan Edrizal Datuak Paduko Alam tahun 2001 sampai 2007,” kata Yeni Ghazali.

Saat ini, menurut Yeni, Pangulu Suko Salo sedang digantung atau belum digantikan karena belum ada penerusnya yang diangkat kembali. “Rencana kami, dalam waktu  dekat ini atau beberapa waktu ke depan, akan ada musyawarah,” kata Yeni Ghazali yang merupakan kakak kandung Yanuar Ghazali alias An Udo, anggota DPRD Payakumbuh dari PDI-Perjuangan.

Menariknya, meski belum ada pengulu yang saat ini memimpin Rumah Gadang Salo Limbukan, namun berbagai peninggalan sejarah masa lalu, masih dapat ditemukan di rumah gadang tersebut.

Seperti, meriam, gong, pemukul gong dan meja marmer, tiga payung, peti bunian, dulang bakaki, tanduk rusa, cermin hias, dulang menengah, carano tutuik tangkai, dan beraneka piring masa lalu.

Seluruh artefak atau peninggalan sejarah yang menyimbolkan kejayaan Minangkabau tempo dulu itu, dapat dilihat masyarakat umum atau wisatawan yang datang ke Rumah Gadang, Salo, Limbukan. “Di rumah gadang ini, kami juga menyediakan paket makan bajamba untuk wisatawan,” kata Yeni Ghazali.

Menurut Mr Buddy, Ketua PHI Sumbar, paket wisata makan bajamba di Rumah Gadang Salo Limbukan, Payakumbuh, terbilang menarik bagi wisatawan. Sebab itu pula, PHI ikut mempromosikan paket wisata makan bajamb ini kepada rombongan wisatawan yang datang ke Sumatera Barat. (***)

What do you think?

Written by Julliana Elora

Limbukan, Jantung Wisata Kuliner Siang Payakumbuh

Miris, IRT Meninggal Diduga Korban Tabrak Lari