in

Rumah Singgah Itu Ibarat Hotel

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Sebuah rumah besar berstruktur beton dan berlantai satu berdiri di Jalan Cumi-cumi Lamprit, Banda Aceh. Pagi itu, Minggu (21/5), tiga orang perempuan dan seorang laki-laki duduk di bangku yang berjejer di terasnya.

Semua mereka telah lanjut usia. Wajah-wajah mereka tampak lesu, tapi tetap menebarkan senyum ketika disapa. Seorang laki-laki terlihat di lehernya penuh dengan lilitan perban putih. Dia menggoyang-goyang telapak tangannya, isyarat tidak bisa berbicara.

Di dalam rumah itu terdapat delapan kamar ukuran standar. Pada pintu setiap kamar diberi nama dengan nama perempuan. Ada kamar Humaira, Maryam, Khadijah dan lain-lain.

Di dalam kamar Maryam terdapat sepasang suami istri lansia sedang beristirahat. Suami duduk di kursi roda, sementara sang isteri duduk di pinggir ranjang tidur.

“Saya Simpang Peut, Nagan Raya. Sudah enam malam tinggal di sini. Saya menderita penyakit diabetes,” kata T. Abdul Wahab (85) didampingi isterinya, Cut Putri (79), sambil memperlihatkan luka di kaki kanannya.

Saat pertama sekali datang ke RSUZA, Abdul Wahab tidak mendapatkan kamar. “Malam pertama datang kami harus tidur di bawah tangga rumah sakit. Besoknya anak kami mengantar kami ke rumah singgah ini,” cerita Cut Putri.

Abdul Wahab harus menjalani pemeriksaan laboratorium secara bertahap sebelum diputuskan tindakan medis selanjutnya. Ditemani isteri tercinta, setiap hari dia pergi dengan becak ke RSUZA untuk menjalani pemeriksaan.

Bagaimana perasaan Abdul Wahab dan Cut Putri mengenai rumah singgah ini? “Alhamdulillah, rumah ini sangat bagus, sempurna. Jauh melebihi rumah kami di kampung. Rumah kami di kampung terbuat dari kayu,” jawab Wahab dibenarkan sang isteri dengan mata berlinang.

Rumah singgah milik BFLF ini tergolong lengkap, sehat dan memenuhi standar penginapan. Untuk masyarakat miskin seperti Abdul Wahab barangkali rumah ini sudah setara dengan hotel.

“Kami bersyukur sekali dapat tinggal di rumah ini. Mau masak tinggal hidupkan kompor gas aja. Semua ada, beras, minyak dan lain-lain. Tinggal beli ikan saja sesuai selera,” ungkap Cut Putri.

“Kami kehabisan kata-kata untuk mengucapkan terima kasih kepada Pak Michael yang telah menyediakan rumah ini untuk kami. Alhamdulillah, Ya Allah limpahkanlah rahmatmu kepada Pak Michael, keluarganya dan semua donatur yang telah menyumbang,” ucap A. Wahab dan isteri sambil menadahkan tangan ke atas dan mata berlinang.

Ketua BFLF, Michael Octaviano, menempatkan dua orang petugas untuk menjaga pasien. “Seorang perawat dan seorang bidan. Kami juga memiliki ambulance serta sopir yang standby”, kata Michael. []

Komentar

What do you think?

Written by virgo

Melihat Rumah Singgah Pasien Miskin di Banda Aceh

USAID PRIORITAS Latih Sekolah Perkebunan