Beranda Nasional Hal Lumrah Pemimpin Memarahi Bawahan, Prof Djo Tanggapi Video Kemarahan Presiden Jokowi

Hal Lumrah Pemimpin Memarahi Bawahan, Prof Djo Tanggapi Video Kemarahan Presiden Jokowi

51
0
BERBAGI

Pakar otonomi daerah, Prof Djohermansyah Djohan atau yang akrab disapa Prof Djo turut berkomentar terhadap video Presiden Joko Widodo yang menampilkan kemarahannya pada sejumlah menteri, mengancam reshuffle kabinet, hingga pembubaran lembaga, dalam rapat terbatas para menteri 18 Juni silam. Pihak Istana baru merilis video tersebut sepuluh hari kemudian, 28 Juni 2020.

Guru Besar IPDN ini mengatakan kemarahan seorang pimpinan kepada bawahannya hal yang biasa saja.

“Sebetulnya, lurah, camat, bupati/walikota, gubernur, dan presiden sekalipun biasa saja bila marah kepada anak buah. Adapun yang tidak biasa bila para pemimpin pemerintahan marah kepada rakyat yang memberikan pendapat dan nasehat. Karena sejatinya rakyatlah atasan dari pemimpin pemerintahan,” ungkap Prof Djo pada dinding akun Facebooknya, Senin (29/6/2020).

Menurut Prof Djo kemarahan seorang pemimpin marah karena ada penyebabnya. Salah satunya karena bawahannya tidak bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan pemimpinnya.

“Pemimpin marah lazimnya karena anak buah tidak bekerja dengan baik. Ancaman Covid-19 yang membahayakan 267 juta jiwa rakyat Indonesia tidak ditangani anak buah dengan tepat, cepat, dan seksama. Lain yang diminta presiden, lain pula yang dikerjakannya. Lain yang gatal, lain pula yang digaruknya. Atau kalau ada yang dikerjakan, pekerjaan itu jauh dari target dan harapan pimpinan. Atau ketika regulasi sudah jadi, perintah diturunkan berkali-kali, tapi eksekusinya berjalan lamban sekali. Melihat kelakuan anak buah kayak begini, mana ada pemimpin yang tidak ‘angry’ (berang),” tutur Prof Djo.

Namun menurut Prof Djo lagi, kendati emosi, Presiden Jokowi masih mampu mengendalikannya. “Untunglah Presiden Jokowi marahnya masih terkendali, tidak sampai memaki-maki. Banyak pemimpin di dunia pemerintahan yang kalau marah dengan gampang melontarkan nama-nama fauna di kebun binatang,” tutur Prof Djo.

Presiden Jokowi katanya harus berani mengambil langkah tegas. Ia harus memilih orang-orang yang mampu mengerjakan tugas sesuai dengan apa yang diinginkan pemerintah.

“Sesudah marah reda apa tindak lanjutnya? Kalau anak buah tidak juga berubah, pemimpin harus menindaknya dengan tegas, alias dicopot saja. Bukankah mutasi perkara biasa dalam suatu organisasi birokrasi? Bisa saja dia dipindah ke tempat lain, yang lebih sesuai kemampuannya. Atau diberhentikan tapi dicarikan jalan penyelamatan, seperti di-Dubes-kan dan di-Dekom-kan. Pilihan terakhir dilepaskan tanpa jabatan dengan risiko mereka akan jadi oposan,” tandas Prof Djo.

Prof Djo berpesan agar Presiden Jokowi ke depan berhati-hati dan selektif memilih para menterinya yang nantinya akan menentukan keberhasilan kerja pemerintah ke depan. “Ke muka hendaknya hati-hati memilih anak buah.  Jangan sampai salah meletakkan orang dalam jabatan. Tukang kayu tidak bakal mungkin bisa menjadi tukang batu yang baik.
Jangan pula kita keliru memberi hadiah kursi jabatan tinggi se level menteri pada orang yang pernah memberi konstribusi sehingga kita jadi petinggi, padahal dia tidak berisi atau kapasitasnya belum mumpuni,” tukuk Prof Djo.

Netizen menanggapi beragam komentar Prof Djo ini.

“Blu, trjbak sdri dlm status quo tata kelola sistem pemerinthnnya di tengah pandemi. Tdk disadari, smpe hari ini diliputi komplksitas sistem yg dibiarkan ststus quo mnghdpi Covid 19. Semua regulasi yg dikluarkan tdk mndobrak status quo tsb, sadar atau tdk Prof Djohermansyah Djohan..Tampak gregetan jadinya. Asal bukan pengalihan isu yah, karena ini tentu sangat menarik perhatian. Wallahu alam bishawab. Salam.sehat.!” tulis Guru Besar Ilmu Administrasi UI, Prof Irfan Ridwan Maksum.

“Menterinya jalan sendiri2 dgn kepentingannya masing2 jadikan Covid 19 utk menjadi hero masing2 utk namanya masing2.” Komentar Frans Maniagasi, Tokoh dan Pemerhati Otsus Papua.

“Akibat dr rekrutmen pejabat yg terlalu kental nilai politisnya,” tulis birokrat Pemda Tabanan, I Nengah Wisnu Wardana. (rel)