Beranda Nasional Inge Inkiriwang, Wasekjen DPP Partai Amanat Nasional

Inge Inkiriwang, Wasekjen DPP Partai Amanat Nasional

414
0
BERBAGI

Dari Olah Raga Terjun ke Politik

Setinggi-tingginya terbang bangau, pulangnya ke kubangan juga. Pepatah itu nampaknya dihayati betul oleh Inge Inkiriwang, atlet balap sepeda perepmpuan asal Sumbar sukses hingga tingkat nasional.

Perempuan asal Batang Anai, Padangpariaman yang lahir di Jakarta dan besar di Padang ini sudah malang melintang di berbagai iven nasional dan internasional serta menjadi pengurus banyak organisasi di tingkat nasional dan internasional.

Setelah menjelajahi 45 negara di dunia, Inge Inkirawang menyatakan pulang ke Sumatera Barat untuk berbuat sesuatu bagi daerah asalnya yang sudah membesarkan namanya. Politik adalah jalan yang dipakai Inge Inkiriwang untuk pulang ke Sumatera Barat. Saat ini dia dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) sekaligus Panwil Sumbar.

Meski memutuskan untuk berpolitik, Inge menegaskan, tujuan utamanya bukanlah untuk menjadi calon bupati atau calon legislative. Namun semata-mata memberikan sesuatu untuk Sumbar yang dulu membesarkan namanya saat dia menjadi atlet. 

Seperti apa pemikiran Inge Inkirawang tentang Sumatera Barat? Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial dengan Wasekjen Partai Amanat Nasional Inge Inkiriwang di sela-sela kesibukannya menyelenggarakan triathlon di Pariaman, kemarin (4/11).

Anda adalah mantan atlet balap sepeda yang tetap mengurus olah raga ini mesti sudah pensiun sebagai atlet. Sekarang anda terjun ke politik, apa motivasi anda?

Sebenarnya hanya mimpi sederhana. Saya terjun ke politik tidak untuk jadi bupati, tidak jadi caleg, tapi ingin pulang ke Sumbar, dan memberikan sesuatu untuk Sumbar. Saya dulu adalah atlet Sumbar. 

Sumbar sudah membesarkan nama saya. Saya merasa sudah saatnya saya berbuat sesuatu untuk Sumbar. Politik adalah salah satu jalannya. Di sisi lain, saya ingin membuktikan perempuan bisa berpolitik tanpa jadi anak atau istri politikus. 

Mungkin kita kilas balik ke belakang, saat anda memulai karir di Sumatera Barat sebagai atlet balap sepeda putri pertama asal Sumbar, bagaimana ceritanya hingga akhirnya Anda bisa terjun ke dunia balap sepeda ini?

Saya terjun ke dunia balap sepeda sejak tahun 1985. Dulu saya sekolah di SMP Yos Soedarso. Ketika itu saya hobi main bola. Lalu saya cedera patah tulang tangan dan menyebabkan orangtua saya melarang saya main bola lagi. 

Ada salah seorang teman ayah saya yang merupakan mantan pebalap sepeda, yaitu Frans Tupang. Beliau adalah peraih medali emas Sea Games tahun 1978. 

Saya minta kepada beliau untuk mengajak saya main sepeda. Dia kemudian mempersilakan untuk datang latihan. Awalnya hanya latihan fisik, lalu dikasih sepeda dan ikut kejuaran Polda Sumbar sebagai peserta eksebisi. Ternyata saya bisa mengimbangi laki-laki.

Kemudian, Om Frans Tupang menyampaikan kepada orangtua saya bahwa saya memiliki potensi di bidang balap sepeda ini dan mengirimkan saya di kejuaran nasional.

Akhirnya saya jadi atlet Sumbar perempuan pertama di balap sepeda dan ternyata langsung juara dua. Akhirnya saya diambil untuk ikut Pelatnas persiapan Sea Games 1987.

Lalu apakah dengan terjun ke politik anda meninggalkan dunia olahraga yang telah membesarkan anda?

Saya masih mengurus olah raga. Saya terlibat dalam Tour de Singkarak, terlibat dalam triathlon yang diselenggarakan di Pariaman. Kebetulan saya wanita Indonesia pertama yang memiliki licence sebagai wasit triathlon. Saya juga menjadi pengurus beberapa organisasi olahraga. Saya juga sering dipercaya sebagai salah seorang panitia di berbagai iven di Indonesia. 

Menurut anda, apa kiat agar sukses dalam berorganisasi?

Jika organisasi ingin maju, maka semua komponen harus menjalakan fungsinya masing-masing. Semua itu diperlukan integritas, loyalitas, sportivitas, dan kapasitas. Bukan mencari makan atau numpang tenar di organisasi. Kalau semua itu dijalankan, saya yakin organisasi yang dibina bisa maju.

Bagaimana Anda melihat poten si Sumbar di bidang olah raga?

Sumbar memiliki potensi yang besar dan sebenarnya bisa bersaing di tingkat nasional. Saat ini ada Eva Desiana atlet triathlon asal Pariaman. Saat ini dia sangat diperhitungkan di tingkat nasional. Ada juga Fauzi, atlet Sumbar asal Bukittinggi yang juga diperhitungkan. Umurnya belum samai 17 tahun, dan dia berasal dari Bukittinggi.

Namun, di sisi lain saya melihat dulu banyak atlet Sumbar berprestasi. Sekarang potensi banyak, namun minim prestasi. Misal saat Tour de Singkarak (TdS), iven bear itu adalah milik Sumbar, namun tidak ada atlet yang disiapkan. 

Saya menilai, kita harus intens dan fokus pengembangan atlet dan punya komitmen. Atlet akan punya masa depan baik kalau pemerintah terlibat.

Apa keuntungan Sumbar jika fokus membina atlet?

Sumbar adalah daerah yang memiliki paket wisata paling lengkap. Mulai dari gunung, sungai, lautan, dan spot-spot lainnya. Saat ini sport tourism sedang menjadi tren di dunia. Ini yang harusnya kita kemas. Semua olahraga berkaitan dengan alam, kawinkan antara olahraga dengan pariwisata dan jadikan destinasi wisata. 

Yang diperlukan hanyalah komitmen pemerintah. Sport tourism sedang dilirik dunia internasional. Kalau ada atlet dari luar negeri datang berlomba, pasti akan bawa bawa keluarga, pasti aka nada penonton. Artinya kan mendatangkan wisatawan untuk Sumbar.

Harus ada komitmen mempersiapkan atlet. Supaya pengembangan olahraga, atlet dan pariwisata sama-sama berkembang. TdS iven kita, perjuangkan ivennya, persiapkan juga atletnya. Jangan sampai kita jadi penonton di daerah sendiri. (*)

LOGIN untuk mengomentari.