Beranda Nasional Kampanye Kreatif dan Poros Pemuda pada Pilkada Padang

Kampanye Kreatif dan Poros Pemuda pada Pilkada Padang

497
0
BERBAGI

Gelanggang telah dibentangkan, genderang telah ditabuh. Hitungan bulan saja (2018) warga masyarakat Kota Padang akan disuguhi perhelatan demokrasi dalam rangka memilih pemimpin untuk daerah yang terkenal dengan sebutan “Kota Bengkuang” ini. 

Tidak lupa jejak pendapat dan nama-nama yang mulai mengapung mengisi media dan cerita-cerita senggang di sela menjelang istirahat malam. Sebut saja petahana Mahyeldi Ansharullah, Emzalmi, kemudian ada nama Andre Rosiade, Adib Alfikri, Badrul Mustafa, Hendri Septa, Faldo Maldini dan sebagainya. Semua berasal dari latar belakang berbeda, ada yang sebelumnya sudah pernah terjun ke dunia politik, namun juga ada yang benar-benar pemain baru.

Selanjutnya, tidak boleh kita lupakan tentang perdebatan yang muncul dalam bentangan spanduk dan baliho. Boleh dikata tidak jauh berbeda dengan perhelatan Pilkada dimanapun tempat, semua berbicara citra dan bergaya dalam media untuk marketing politic. Hal yang dalam hemat penulis, sama sekali tidak mencerahkan, semua beradu slogan dengan minimnya solusi dan dialektika. Sejauh pengamatan penulis ada beberapa tagline yang muncul dari bakal calon yang mulai mengapung, dari “Untuk Semua”, dan ada juga yang menyebut sebagai “Padang Serahkan pada Ahlinya”, begitu juga dengan sosialisasi, layaknya “Sudahi Mem-bully (perundungan)” . Slogan tersebut hampir berseliweran memnuhi sekitaran jalan protokal di Kota Padang.  

Bila dipahami secara semiotis, kata-kata demikian tidak lah berdiri sendiri, semua memiliki kontekstual dan makna yang mesti digali. Bukan hanya sekadar kata-kata indah, pemanis disetiap menjelang perhelatan pilkada dimulai. Memang tidak ada yang salah untuk beradu sloga, namun akan menjadi apriori apabila kata-kata ini tidaklah diwujudkan secara kongkret sebatas hanya dimanfaatkan sebagai strategi untuk medulang suara. Walaupun relatif tidak efektif sebagai strategi kampanye ditengah pemilih yang relatif tradisional, setidaknya slogan dari bakal calon kepala daerah yang muncul apabila sering dibaca dan dilihat oleh masyarakat juga akan mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat sehingga secara tidak sadar slogan tersebut sudah memiliki ruang dalam memori berpikir masyarakat. Sama halnya dengan mars Perindo, akibat terlalu sering diputar, anak-anak umur 6 tahun pun sudah hafal dengan lancar mars partai ini.

Kreativitas dan Pemuda

Terkesan tidak ada kemajuan bila pola-pola demikian tetap dipertahankan. Harusnya kegiatan sosialisasi atas visi misi maupun latar belakang calon kepala daerah mesti menyesuaikan dengan etika zaman. Di tengah era yang lumrah disebut sebagai era milenial, di mana akses kepada sumber informasi berseliweran di mana saja hanya dengan menggunakan media internet, seharusnya berimplikasi pada kegiatan sosialisasi yang lebih visioner dengan audio visual yang menarik dan tidak membosankan. 

Peran anak muda sebagai pengguna utama sangat dibutuhkan dalam proses ini. Sebab merekalah pengguna terbesar dari media internet. Ide-ide kreatif akan mudah dituangkan dan proses sosialisasi pun akan semakin menarik minat masyarakat. Apalagi di tengah masyarakat yang terkategori pemilih tradisional, gambar-gambar visual akan lebih mudah dipahami dan diterima ketimbang, deskripsi panjang dalam bentuk tulisan. 

Sehingga bukan tidak mungkin kedepannya ketimbang bergabung pada salah satu poros atau calon kepala daerah yang ada. Kelompok pemuda dengan ide kreatif ini punya posisi tawar yang kuat untuk membentuk poros tersendiri yang bersifat independen dan tidak terafiliasi kemana pun. Memang murni di bentuk dan dikembangkan oleh pemuda. 

Mengapa hal ini perlu ?

Sebab mengutip pernyataan Soekarno, “Kalau pemuda sudah berumur 21, 22 sama sekali tak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa…pemuda yang begini baiknya digunduli saja kepalanya”. Untuk itu, pemuda mesti terjun dan melebur untuk mengolah lumpur kotor yang disebut oleh Gie sebagai citra dari politik yang diterapkan kini, menjadi lahan subur produktif tempat di mana potensi untuk perubahan muncul dan bersemai. Bukan hanya menjadi pengekor dan mengikut kepada kelompok kepentingan, yang seringkali digunakan hanya sebagai batu loncatan untuk meraih keuntungan bagi diri pribadi.

Senada dengan kutipan dari Myron J. Taylor, “muda atau tua tidak bergantung pada tanggal dalam suatu masa, tapi keadaan jiwa. Tugas kita bukan menambah usia pada kehidupan, tapi menambah kehidupan pada usia”. 

Pemuda dengan segudang ide kreatif adalah poros potensial yang bisa menjadi pembeda sekaligus sintesa dari “kemuakan” pada sistem politik yang terlanjut berupa wajah buruk dan tidak baik. Peran pemuda tidak bisa dinafikan, selain memiliki ide segar dan revolusioner, pemuda juga merupakan kelompok dengan idealisme yang masih cukup baik (setidaknya begitu menurut Tan Malaka). 

Oleh karenanya, pemuda tak ayal harus menghimpun diri, membentuk poros independen, untuk ikut serta dalam menggalang dan menjadi tonggak perubahan. Bukan hanya sekadar sekrup pendorong agar mesin itu hidup, namun pemuda itulah sebagai mesin yang akan menghidupkan dan menggerakkan menuju perubahan. (*)

LOGIN untuk mengomentari.