Beranda Nasional Membidik Wisman Timur Tengah Untuk Wisata Halal Sumbar

Membidik Wisman Timur Tengah Untuk Wisata Halal Sumbar

349
0
BERBAGI

Setelah berhasil berkompetisi di ajang Wisata Halal Nasional tahun 2016 lalu, dunia pariwisata Sumbar menghadapi sebuah tantangan untuk membidik wisatawan asing, khususnya Timur Tengah sebagai segmen pasar. 

Kehadiran wisata halal yang merupakan kebutuhan dari cerukan pasar khusus, membutuhkan design khusus pula dalam membidik dan menyasar wisatawan.  
Tipe wisatawan dalam wisata halal sebagai penikmat jasa menjadikan nilai-nilai halal sebagai dasar pengambilan keputusan destinasi wisata mereka. Untuk itu, dibutuhkan design bidikan khusus. 

Tulisan berikut melihat wisatawan Timur Tengah sebagai bidikan pasar untuk wisata halal Sumbar, di samping yang sudah dikenal selama ini (wisatawan Malaysia).

Potensi Angka dan Historis

Wisatawan Timur Tengah merupakan wisatawan potensial untuk wisata  halal di Sumbar, namun belum tergarap secara maksimal. Menurut data statistik, jumlah wisman ke Sumbar melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Teluk Bayur bulan Oktober 2016 mencapai 4.980 orang, meningkat sebesar 49,59 persen dibanding September 2016 tercatat sebanyak 3.329 orang. 

Dibandingkan bulan Oktober 2015, wisman Oktober 2016 meningkat sebesar 25,88 persen. Sementara jumlah wisman Januari–Oktober 2016, juga mengalami peningkatan sebesar 1,82 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Wisman bulan Oktober 2016 ini memberikan kontribusi sebesar 0,51 persen terhadap total wisman yang berkunjung ke Indonesia (wisman nasional 980.772 orang). 

Wisman tersebut berasal dari 10 negara; Malaysia, Australia, Thailand, Perancis, Inggris, Amerika, Singapura, Jerman, Jepang, Tiongkok. Wisman dari Malaysia menempati posisi teratas yang berkunjung ke Sumbar. (BPS Sumbar, Oktober 2016). 

Data ini juga menginformasikan bahwa wisman Timur Tengah belum tergarap dengan baik sebagai target pasar dalam pengembangan wisata halal. Timur Tengah merupakan daerah penting, karena Islam mulai dari regional tersebut.  Populasi muslim terkonsentrasi sangat tinggi di Timur Tengah. Selain itu di bebepapa negara Timur Tengah diperoleh informasi bahwa populasi muslim mengalami peningkatan  yang berkelanjutan. 

Menurut Kettani (2010), tahun 1870 populasi muslim 15% dari populasi dunia, meningkat 17 % di tahun 1950, diprediksi 26 % di tahun 2020. Negara-negara yang masuk dalam kawasan Timur Tengah ini di antaranya; Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, United Arab, dan Yaman. 

Sebagai kawasan yang memiliki populasi muslim terbanyak, wisatawan Timur Tengah sangat tepat dijadikan bidikan pasar potensial dalam wisata halal.
Selain memiliki populasi Muslim terbanyak, kawasan Timur Tengah menjadi hulu kegiatan dakwah dan penyebaran Islam. Islam disebarkan oleh Nabi Muhaammad SAW berawal dari bagian barat Jazirah Arabia dan dilanjutkan ke Madinah setelah hijrah. Untuk periode ini, dua daerah yang menjadi pusat dan adidaya itu diubah Nabi Muhammad SAW sebagai pusat peradaban. 

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, keberlanjutan Islam dan dakwah Islam berada di tangan Khulafaurasyidin. Daerah ekspansi Islam meluas  ke arah Utara Syiria (636 H), Timur Persia (636 H), lanjut ke Mesir (640H), Spanyol dan Portugal (711H) ke Pakistan (711 H). 

Semua ekspansi ini tidak hanya membawa semakin luasnya teritorial dunia Islam, tapi juga membawa implikasi positif, seperti Islam memiliki kontak dan interaksi dengan orang luar dan non-Islam. Apalagi setelah arah penyebaran Islam ke bagian Eropa, Bulgaria, Albania, Bosnia dan lainya (1071–1491 H). Selain dakwah semakin luas, kegiatan ikutan dari dakwah adalah berdagang. 

Dakwah Islam yang menyebar ke luas di Jazirah Arab menyebabkan kegiatan perdagangan  dunia Arab juga ikut meluas. Islam menyebar luas, kegiatan perdagangan juga meluas dan membuat jejaring perdagangan tersendiri. Pedagang muslim Arab membuat rute perdagangan di sepanjang Pantai Timur Islam dan bagian Barat Sumatera di abad ke-7.  

Di wilayah Islam kegiatan penyebaran Islam bersandingan dengan kegiatan perdagangan. Dakwah disebarkan oleh pedagang Islam yang melakukan aktivitas perdagangan. Sampai kegiatan perdagangan itu ke daerah Aceh dan daerah di kawasan pantai timur Sumbar (Tiku, Kabupaten Agam). Khusus Sumbar, titik awal  kegiatan dakwah menyebar dari  daerah Pariaman, terus ke daerah-daerah lain seperti bunyi adagium, syarak mandaki.

Karakteristik Wisman Timteg

Awalnya tradisi traveling dalam tradisi Islam dikenal dalam bentuk ibadah haji, umrah dan ziarat. Ketiga ibadah ini di dalamnya terdapat unsur dan nilai traveling menuju tempat sama. Secara normatif tradisi berjalan ini dilakukan dengan tujuan agar sesuai dengan Islamic Theaching adalah historical, sosial, budaya, memperoleh pengetahuan, bersosialisasi dengan orang lainnya, dakwah, menikmati  ciptaan Tuhan (Surat Al Ankabut, 20), (Surat Al An’am 11), (Surat Muhammad 10).

Seiring  perkembangan dan perubahan waktu, bentuk traveling juga mengalami perkembangan. Traveling tidak hanya menuju titik daerah yang  sama sebagaimana awalnya, namun juga berkembang daerah-daerah lebih luas dengan tujuan beragam. Bahkan dengan kekuatan faktor ekonomi  yang dimiliki oleh muslim Timur Tengah (Timteg), Wisatawan telah mengarahkan traveling mereka ke banyak tempat dengan berombongan dalam waktu relatif lama.   

Menurut Kurniawan GW (2015), ragam karakteristik wisman Timur Tengah dapat dijelaskan: pertama, pelaku bisnis dan profesional. Mayoritas berasal dari Kota Jeddah, Madinah, Damam dan Riyadh. Tipenya, menyukai sesuatu yang simple dan serba cepat. Mereka disiplin, memperhatikan kualitas pelayanan  yang memuaskan. Kedua, wisatawan kelas menengah dan atas.

Tipe ini sangat selektif memiliki destinasi. Karena memiliki strata pendidikan lebih tinggi, mereka lebih mengedepankan apa yang dibutuhkan dibanding diinginkan. Ketiga, pemuda dan mahasiswa, gaya sederhana dan keuangan yang cukup. Perilaku ragam ini mengikuti trend dan mempertimbangan produk wisatawan yang terjangkau.

Agenda ke Depan 

Untuk dapat mengarap potensi wisman Timteg dengan baik, maka perlu beberapa hal yang diperhatikan. Pertama, membangun kembali jaringan dakwah Islam. Seperti diuraikan di atas, secara historis terdapat jaringan dakwah Islam Timur Tengah ke Sumbar. Jaringan tersebut telah menjadikan Islam masuk ke Minangkabau (Sumbar). 

Artinya  ada kontak dan jalinan hostoris muslim Timur Tengah dengan masyarakat Minangkabau. Inilah yang perlu dibangkitkan. Muslim Timteg tentu sangat ingin menapak tilas Islam Minangkabau dan jejak nenek moyang mereka dalam menyebarkan Islam di Minangkabau. 

Kedua, menyebarluaskan informasi tentang keindahan alam dan keragaman budaya Sumbar dengan baik yang disajikan dalam bentuk promosi menggunakan bahasa Arab. Kita memiliki beragama keindahan alam seperti; Ngarai Sianok, Pantai Mandeh, Ngalau, Air Terjung Lembah Anai dan Kelok Sembilan, serta lainnya. Hal ini merupakan sesuatu yang amat disukai orang Timur Tengah.  

Pengalaman penulis ketika dosen IAIN Bukittinggi meminta dan mengundang salah seorang pimpinan King  Saud University, Dr Ali Mahyus, untuk memberikan kuliah umum di kampus, beliau menanyakan apa yang ada di daerah Anda? Lalu, diceritakan tentang  indahnya alam Sumbar dengan Gunung Marapi, Singgalang dan air terjun, serta keindahan lainnya yang dapat dinikmati ketika melewati  BIM ke Bukittinggi.  

Akhirnya, dia memutuskan ke Bukittinggi. Dr Ali Mahyus sangat menyukai dan takjub keindahan alam Sumbar. Ke depan, perlu lokasi-lokasi pusat penyebaran dakwah dan tempat bersejarah Islam Sumbar dipromosikan secara luas sebagai destinasi napak tilas sejarah Islam di Sumbar. 

Ketiga, memahami karateristik orang Timur Tengah dalam traveling  dengan baik. Mereka tidak memisahkan nilai agama dalam traveling yang mereka lakukan. Mereka traveling dalam waktu relatif lama dan memboyong banyak anggota keluarga (family traveling). Untuk itu, infrastruktur seperti sarana toilet, taman, pantai, jalan-jalan dan tempat-tempat  wisata harus bersih. Kuliner dan produk wisata harus syariah compliance. Perilaku masyarakat harus ramah, sopan dan penuh persaudaraan, serta komunikasi yang baik menjadi urgen dalam melayani mereka. Semoga. (*)

LOGIN untuk mengomentari.