Beranda Nasional Mendesak Rekayasa Biofisik Hulu DAS Kampar

Mendesak Rekayasa Biofisik Hulu DAS Kampar

155
0
BERBAGI

Lebih kurang dua dekade lalu dari penelusuran tentang kualitas Daerah Aliran Sungai (DAS) di nagari tertua di Sumbar Maek atau dikenal juga dengan sebutan Mahat. Di daerah yang terhampar pada sebuah lembah dataran tinggi di kelilingi bukit seluas 25.445 Ha, inilah tempat berhulunya DAS Mahat atau bagian hulu DAS Kampar yang alirannya berakhir di ujung Waduk  PLTA Kotopanjang. 

Dulunya, menurut asal muasal Nagari Maek, kawasan ini dikenal dengan hutannya yang subur dan air mengalir sangat jernih. 
Namun sewaktu tim menelusuri menyigi biofisik hulu DAS Mahat, ternyata kondisinya sekarang ini sudah jauh berbeda. Bukit-bukit yang mengelilingi Nagari Maek ini, hutannya tidak lagi seperti subur dan lebat. Namun, sudah terbuka dan banyak ladang gambir. Namun, hebatnya miliaran rupiah uang beredar setiap bulan berkat jual beli gambir.

Heboh, banjir dan longsor Kecamatan Pangkalan Koto Baru beberapa waktu lalu, sejatinya buntut meluapnya sub-sub DAS Batang Manggilang, Batang Samo, dan Batang Mahat yang bermuara ke waduk PLTA Kotopanjang. Batang Mahat sendiri bermuara ke Batang Kampar. Setelah dibangun waduk tersebut, maka muara Batang Mahat (DAS Mahat) berpindah ke arah hulu Desa Tanjung Balit berjarak 30 km. Hal ini berarti bahwa muara Batang Mahat hanya tinggal 10 km dari jembatan Pangkalan Koto Baru. 

Berpindahnya muara Batang Mahat mempengaruhi kecepatan aliran sungai menjadi lebih lambat yang terjadi pada sepanjang 10 km dari waduk PLTA Kotopanjang. Akibatnya, terjadi penumpukan sedimen dan menyebabkan dasar sungai menjadi semakin landai. Pada lokasi tersebut terjadi beberapa kali banjir, di mana banjir tersebut hampir terjadi setiap tahun dengan tinggi muka banjir adalah 10 cm sampai dengan 20 cm atau di atas elevasi jalan raya nasional.

Sedangkan Waduk Kotopanjang berada dalam Hulu DAS  Kampar dengan luas keseluruhan 333.087 Ha. Di mana, hulu DAS Kampar ini terdiri dari 2 sub DAS, yaitu: Sub DAS Mahat atau disebut juga Sub DAS Kampar Kiri, dan lainnya Sub DAS Kampar Kanan. Air yang diminum pada Waduk Koto Panjang berasal dari kedua sub DAS tersebut. 

Apabila kedua sungai tersebut debitnya turun, maka jumlah air waduk pun akan turun berakibat pula terhadap penurunan kemampuan air untuk memutar turbin dan juga pola hidrograf sungai pada DAS ini juga akan mempengaruhi stabilitas ketersediaan suplay air untuk Waduk PLTA Kotopanjang.

Pembangunan Waduk PLTA waktu lalu tersebut sudah pasti mempengaruhi kawasan Sub DAS Mahat dan Sub DAS Kampar Kanan, baik terhadap hutan lindung, maupun hutan produksi terbatas dan juga akan meningkatkan perkembangan perkebunan, tegalan, sawah, kebun campuran dan pemukiman. Lahan yang sering terbuka tersebut akhirnya menyebabkan meningkatnya sedimentasi. Berdasarkan hal tersebut, dapat diperkirakan debit sedimen yang sampai ke waduk PLTA Kotopanjang akan selalu meningkat. 

Kalau proses kekritisan Hulu DAS  Kampar tidak dapat ditekan, kondisi ini berdampak kepada pendangkalan waduk PLTA Koto Panjang. Hulu DAS Kampar merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem kawasan sekitar waduk PLTA Koto Panjang. Kelestarian lingkungan waduk dipengaruhi oleh keserasian seluruh komponen biofisik Hulu DAS Kampar. Semakin tinggi intensitas pemanfaatan ruang sekitar waduk di DAS Mahat dan DAS Kampar Kanan, plus adanya ketidakseimbangan pemanfaatan lahan di daerah resapan, pada gilirannya tentu terjadi perubahan kondisi biofisik lingkungan waduk. 

Oleh karena itu, pengelolaan DAS Mahat dan DAS Kampar Kanan perlu dilakukan secara totalitas, sehingga diharapkan dapat mempertahankan kontinuitas jumlah dan kualitas input air ke waduk sekaligus memitigasi ancaman banjir dan longsor, serta memperkecil hanyutan sedimentasi.

Dari analisis erosi dan sedimentasi yang terjadi pada DAS Mahat, dapat diestimasi dampaknya terhadap pendangkalan Waduk PLTA Kotopanjang. Seperti diketahui bahwa potensi debit sedimen tertimbang dari DAS Mahat adalah 2166,327 ton per hari  dengan hanyutan sedimen 1.624 ton per hari dan dari DAS Kampar Kanan potensi debit sedimen tertimbang 4.094,739 ton per hari dan hanyutan sedimen 3.071,054 ton per hari. Sedangkan untuk total hulu DAS Kampar, potensi sedimentasi adalah 6261,066 ton/hari dan hanyutan debit sedimen adalah 4695,800 ton/hari yang hanyut sampai ke Waduk PLTA Koto Panjang.  

Hasil kajian ini hampir 20 tahun yang lalu dan tentu kondisi ini kini semakin parah karena telah terjadi dinamika perobahan tata guna lahan dan lingkungan biofisik dan tentu kondisi ini akan meningkatkan degradasi lahan pada Hulu DAS Kampar. 

Dari analisis erosi dan sedimentasi yang terjadi pada di DAS Mahat, dapat diestimasi dampaknya terhadap pendangkalan Waduk PLTA Kotopanjang.  Seperti diketahui bahwa potensi debit sedimen tertimbang dari DAS Mahat adalah 2166,327 ton per hari  dengan hanyutan sedimen 1.624 ton per hari dan dari DAS Kampar Kanan potensi debit sedimen tertimbang 4.094,739 ton per hari dan hanyutan sedimen 3.071,054 ton per hari. Sedangkan untuk total hulu DAS Kampar, potensi sedimentasi adalah 6.261,066 ton/hari dan hanyutan debit sedimen adalah 4695,800 ton/hari yang hanyut sampai ke Waduk PLTA Kotopanjang.

Hasil kajian hampir 20 tahun lalu ini, tentu kondisi kekiniannya semakin parah karena sudah terjadi dinamika perubahan tata guna lahan dan lingkungan biofisik. Dan, tentu kondisi ini akan meningkatkan degradasi lahan pada Hulu DAS Kampar. 

Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan kondisi lingkungan DAS secara terjadwal untuk mengantisipasi secara tepat perubahan karakteristik lingkungan yang akan mempengaruhi kontinuitas debit sungai dan peningkatan sedimentasi. Kondisi DAS merupakan salah satu faktor penting dalam kajian sumber daya air, karena terkait fluktuasi debit air sungai dan tingkat sedimentasi. 

Kajian dilakukan dengan menganalisis fungsi lahan hutan dan formasi lahan hutan sebagai evaluasi akhir untuk suatu DAS. Di mana, fungsi lahan hutan dalam DAS adalah, pertama kawasan lindung yaitu Hutan Suaka Alam (HSA) dan Hutan Lindung (HL). Huta-hutan ini harus bebas dari segala bentuk pemanfaatan/kegiatan ekonomi. 

Kedua, kawasan eksploitasi yaitu hutan produksi terbatas (HPTs), hutan produksi tetap (HPT), hutan produksi konversi (HPK) dan areal penggunaan lain (APL), merupakan kawasan yang boleh dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi.

Komposisi lahan hutan tersebut merupakan dasar untuk menentukan perubahan kondisi DAS. Perubahan kondisi DAS ini terutama disebabkan oleh sebagian kawasan lindung menjadi kawasan eksploitasi, karena beberapa faktor. Hal ini diikuti oleh beberapa perubahan formasi kawasan hutan perubahan vegetasi/tegakan hutan, sehingga biofisik DAS menjadi terganggu.

Sedangkan DAS yang mengayomi PLTA Kotapanjang memiliki luas total 333.087 ha, terdiri dari Sub DAS Kampar Kanan seluas 217.839 ha (65,40%), Sub DAS Mahat seluas 115.248 ha (34,60%). Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan hutan kedua Sub DAS tersebut mengilustrasikan komposisi kawasan yang harus dijaga, terdiri dari kawasan lindung (hutan suaka alam dan hutan lindung) dengan luas 214.173 ha (64,30%), dan kawasan eksploitasi dengan luas 118.914 ha (35,70%). 

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kawasan lindung lebih dominan dari pada kawasan eksploitasi. Namun bila dilihat analisis penutup tajuk dengan formasi rapat, lebih dari 60% di kawasan lindung ternyata luasnya hanya 22,14% dengan penutup tajuk vegetasi lebih dari 60%. Sedangkan selebihnya dalam formasi tutup vegetasi kecil dari 60%. Artinya, hutan sudah mengalami penurunan kualitas walaupun peruntukan tata ruang masih terdata luas tersebut, namun tidak lagi berkualitas.

Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk melakukan rekayasa biofisik DAS Mahat dan DAS Kampar Kanan untuk memitigsi bencana banjir, longsor dan kekeringan, serta untuk menjamin keberlajutan sumber daya air  untuk waduk Kotopanjang. (*)

LOGIN untuk mengomentari.