Beranda Nasional Menyigi Iven Seni dan Budaya dalam Dunia Pariwisata Sumbar

Menyigi Iven Seni dan Budaya dalam Dunia Pariwisata Sumbar

254
0
BERBAGI

Berumur Panjang karena Berakar pada Masyarakat

Keberagaman seni dan budaya menjadi kekayaan tersendiri di Sumbar. Potensi ini disadari pemerintah setempat, bisa menjadi magnet dalam dunia pariwisata.

Tak pelak dalam beberapa tahun terakhir, Sumbar memiliki banyak iven seni dan budaya. Baik itu bersifat nasional maupun internasional. Seperti apa kondisinya?   

Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, hampir seluruhnya memiliki iven seni dan budaya. Paling tidak, dalam setahun ada satu iven yang dilaksanakan. 

Sekadar menyebut beberapa contoh, di Padang ada Festival Siti Nurbaya, Sawahlunto International Music Festival (Sawahlunto), Festival Langskisau (Pesisir Selatan), Festival Pesona Mentawai (Kepulauan Mentawai), Festival Pesona Maninjau (Agam), Payakumbuh Word Music Festival (Payakumbuh), Panggung Publik Sumatera (Padangpanjang) dan Pasa Harau Art & Culture Festival (Limapuluh Kota).

Iven-iven seni budaya itu ada yang mengangkat kekayaan seni musik etnik lokal Sumbar atau dunia, seni tari, teater, kuliner, adat dan budaya yang ada di Sumbar lainnya. Selain diselenggarakan pemerintah ada juga yang digelar oleh masyarakat. 

Hanya saja, dari sekian banyak iven seni budaya tersebut, tak banyak yang bisa bertahan lama dan secara konsisten dilaksanakan setiap tahunnya. Salah satunya adalah Pacu Jawi di Tanahdatar.

Iven ini terpusat di di empat kecamatan, Pariangan, Sungaitarab, Limokaum, dan Rambatan. Pelaksananya dilakukan secara bergilir. Pacu Jawi lahir ditengah masyarakat tani, yang merupakan bentuk syukur atas panen yang telah dilakukan, serta bersiap-siap menyambut masa cocok tanam selanjutnya.

Karena menjadi bahagian dari kebudayaan masyarakat dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi, Pacu Jawi dapat bertahan hingga saat ini.

Tak hanya itu, sejak beberapa tahun terakhir, Pacu Jawi pun sudah menjadi iven yang dilirik wisatawan. Baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Seperti yang terlihat pada iven pacu jawi yang dilaksanakan di Jorong  Kotohiling, Nagari Sungaitarab Kecamatan Sungaitarab, Sabtu (25/2).

Bahkan, iven yang rencana akan berakhir pada 18 Maret mendatang itu juga sempat menjadi lokasi syuting oleh artis Korea yang sengaja datang ke lokasi tersebut pada pekan lalu.

“Jadi sejak dahulunya memang sudah ada Pacu Jawi ini, di mana dari dahulu warga kita yang menggarap sawah masih menggunakan bajak tradisional dengan memanfaatkan tenaga hewan seperti kerbau dan sapi. Nah, terkadang setelah di bajak, kondisi air tidak mencukupi untuk bercocok tanam. Dari pada lahan yang telah diolah itu menjadi mubasir, maka nenek moyang dahulu menjadikan sawah yang telah dibajak untuk lokasi pacu jawi,” ucap Rasidin, 56, salah seorang tokoh masyarakat Kotohiling.

Kondisi tersebut terang Rasidin, terus bertahan hingga sekarang. Bahkan untuk saat ini iven tersebut justru semakin ramai diminati oleh masyarakat setempat hingga masyarakat luar daerah sekalipun.

“Jika dahulu hanya untuk sekadar pacu jawi begitu-begitu saja, sekarang lebih banyak manfaatnya. Dengan ramainya orang berdatangan, ekonomi masyarakat di sini juga meningkat, karena banyak turis yang berdatangan,” ungkapnya.

Selain Tanahdatar dengan Pacu Jawi, Pariaman juga punya iven yang selalu ditunggu masyarakat setempat dan wisatawan, yang penyelenggaraan bertahan sudah cukup lama. Yakni tabuik

Bagi warga dan perantau Pariaman, Muharram atau tahun baru Islam merupakan bulan yang dinanti-nanti kehadirannya. Pesta Budaya Tabuik pesta budaya yang sudah digelar sejak tahun 1915 ini akan digelar pada awal bulan itu.

Di awali dengan prosesi maambiak tanah, manabang batang pisang, maradai, turun panja, maatam, mangarak jari-jari, mangarak sorban, tabuik naik pangkek, maoyak tabuik dan puncaknya tabuik dibuang ke laut. 

Setiap prosesi tersebut sangat khidmat diikuti oleh masyarakat Pariaman, meski tahun ke tahun prosesinya tak mengalami perobahan, namun tak ada rasa jenuh bagi warga dan perantau Pariaman untuk menyaksikannya. 

Apalagi di setiap prosesi ditingkahi gendang tasa yang menghentak-hentak merasuk hingga ke jiwa. Puncaknya pada prosesi terakhir oyak tabuik dan tabuik di buang ke laut, maka ratusan ribu umat akan memadati Kota Pariaman. Tak terkecuali di sini wisatawan asing. 

Bahkan hujan lebat sekalipun seperti tahun lalu ternyata tidak menyurutkan langkah orang untuk pergi melihat tabuik. Tak salah tabuik merupakan masuk dalam satu dari tiga iven yang ada di Sumbar, sebagai iven nasional.

“Begitulah tabuik, sudah mengakar ke jiwa warga Pariaman. Sehingga sejauh manapun mereka merantau, yang pulang bulan tabuik itu wajib. Karena rasa memiliki terhadap budaya inilah yang membuat tabuik bertahan hingga saat ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Pariaman Effendi Jamal kepada Padang Ekspres kemarin.

Bagi perantau disaat tabuik itulah silaturrahmi terjalin. Perantau bersama-sama se-Indonesia bahkan luar negeri berjanji untuk pulang kampuang. Ada romantisme di pesta budaya tabuik, mengenang masa-masa di kampung hingga kemudian merantau dan berjuang di sana.

Bahkan di beberapa provinsi, warga perantau Piaman juga menggelar iven budaya tabuik di sana, meski demikian yang pulang di bulan tabuik itu wajib bagi mereka.

Namun saat ini tabuik tak hanya menjadi milik orang Pariaman. Ratusan ribu pengunjung yang mungkin tak ada pertalian darah dengan Pariaman sekalipun, merasa ingin melihat dan menyaksikan  bagaimana sebenarnya tabuik ini.

Puncaknya jutaan orang rela berdesak-desakan menyaksikan tabuik di buang kelauik yang dilakukan saat matahari mulai terbenam. Pada masa lalu, Pesta Budaya Tabuik itu dibiayai anak nagari, namun kemudian pemerintah turut membantu dengan dana hibah. 

Namun sejak 15 tahun terakhir, penyelenggaraan iven budaya ini sudah masuk dalam anggaran APBD. Untuk tahun 2017 yang akan digelar September mendatang, anggarannya mencapai kurang lebih Rp 800 juta.

Terpisaha, penulis buku Sejarah Tabuik, Asril Muchtar yang juga Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menyebut, warisan budaya tabuik ini telah berkembang sejak dua abad lalu. Ada dua tabuik, tabuik pasa dan subarang. 

Dalam perjalanannya tabuik pun pernah vakum pada masa penjajahan Jepang dan Masa pergolakan PKI. Kemudian dihupkan kembali di tahun 1980-an masa pemerintahan Bupati Anas Malik hingga saat ini. Tabuik kemudian menjadi ikon wisata Pariaman yang kemeriahan perayaannya tak banyak daerah yang mampu menandinginya. 

Mengapa tabuik kemudian mampu bertahan hingga saat ini, Asril berpendapat, karena tabuik adalah milik masyarakat nagari, budaya yang sudah ada sejak zaman dahulunya, bukan budaya yang baru dicari-cari. 

Meski awalnya tabuik di bawa dari luar Minangkabau, namun dalam perkembangannya sudah menjadi budaya yang tak dapat terpisahkan dengan warga Pariaman. Ia menjadi iven yang bertahan saat ini, karna peran masyarakat dan pemerintan melekat dalam mengeksiskan budaya ini.

“Budaya ini seakan tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat didukung peran pemerintah. Dan tabuik bukan budaya yang dicari-cari, ia bagian dari masyarakat Piaman,”ujarnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.