Beranda Nasional Menyulap TPSA Menjadi Hutan Kota yang Bersih

Menyulap TPSA Menjadi Hutan Kota yang Bersih

135
0
BERBAGI

Ada kisah menarik dari seorang pejabat pemerintah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Adalah M Bahrul Amiq, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo.

Selain sebagai birokrat, ternyata juga seorang peracik obat herbal. Keahliannya meramu tanaman obat ia pelajari secara otodidak.

Ketertarikannya terhadap obat-obatan herbal berawal saat ia mejadi Camat. seusai menandatangani surat keterangan tak mampu dari seorang warga, ia merenung dan berpikir panjang.

“Waktu itu datang seorang warga minta surat keterangan tak mampu untuk keperluan berobat.

Setelah itu saya berpikir, kalau hanya sekedar memberi tanda tangan, tukang becak pun bisa, saya harus bisa menolong lebih dari itu,” kata Amiq kepada Koran Jakarta saat bertandang ke rumah dinasnya beberapa waktu lalu.

Sembari menikmati kopi, kami pun terus ngobrol ngalor-ngidul. Amiq yang merupakan lulusan IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) angkatan II itu juga banyak bercerita tentang suka dukanya menjadi pejabat di instansi pemerintahan.

Setelah peristiwa kedatangan seorang warga minta surat keterangan tak mampu itu, ia pun kemudian belajar tentang bagaimana meracik tanaman obat. Usahanya tidak tidak sia-sia.

Kini, rumahnya seusai magrib selalu dipenuhi warga yang ingin berobat. Di pojok rumahnya disediakan tempat meracik tanaman obat. Ratusan orang datang setiap hari yang telah ditentukan sebagai waktu berobat. Semuanya tak dipungut bayaran alias gratis.

Menariknya , yang meracik obat sebagian besar adalah orang-orang yang pernah berobat, kemudian berniat ikut mengabdi.

Amiq sendiri yang mengajari langsung cara-cara meracik tanaman obat. “Saya namakan mereka laskar penyembuh,” kata Amiq sembari menyeruput kopi panasnya.

Namun, tiba-tiba Amiq mengajak ke sebuah tempat. Katanya tempat itu dulunya tempat pembuangan sampah akhir (TPSA). Tempat itu telah disulapnya menjadi hutan kota yang resik.
Kami pun sangat tertarik ajakan tersebut. Saya pun membayangkan seperti apa tempat itu. Jarang sekali itu terdengar.

Bersama Amiq, kami pun meluncur ke hutan kota yang disebutnya. Sayang, kami ke sana saat malam hari, coba jika siang hari, lebih jelas seperti apa karya dahsyat tersebut. Hanya beberapa menit, kami sudah sampai ke hutan kota yang dituju.

Suasana sangat sepi karena sudah malam hari. Penjaga taman datang tergopoh-gopoh membukakan palang pintu masuk. Setelah memarkirkan mobil, kami pun turun. Ternyata benar, meski di remang malam, masih terlihat jelas suasana resik di hutan kota yang diberi nama Tanjung Puri tersebut.

Jejeran pohon rindang menaungi jalanan di hutan kota yang luasnya sekitar dua hektare tersebut. Fasilitas pun cukup lengkap. Ada musala, gazebo, kursi-kursi, dan sebuah bangunan bergaya khas Jawa, yang didominasi bahan kayu.

“Dulunya ini tempat kumuh, bau. Maklum, tempat pembuangan sampah akhir. Tapi coba saya sulap. Awalnya banyak yang menyangsikan,” kata Amiq.

Setelah jadi, dan perlahan terus dipoles, kata Amiq, tempat yang dulunya banyak dihindari orang, kini jadi favorit warga untuk sekadar piknik. Bahkan, banyak instansi yang minta izin untuk menggelar acara di tempat ini.

Apa yang dibicarakan Amiq, memang bukan bualan. Koran Jakarta menyaksikan langsung betapa rindangnya hutan kota itu.

Sebuah ruang hijau yang memang layak jadi favorit bagi warga sekadar untuk tetirah di hari libur. “Kemarin, bahkan ada orang bule yang minta izin untuk menggelar pernikahannya di sini,” kata Amiq.

Amiq pun kemudian melanjutkan ceritanya lagi. Selain menyulap tempat pembuangan sampah jadi hutan kota yang resik, ia memang bertekad menjadikan Sidoarjo sebagai kota yang bersih.

Masyarakatnya harus sadar lingkungan. Di era dia, dibentuk polisi kebersihan. “Ya mirip kayak pasukan kebersihan di Jakarta. Tapi, kami bahkan lebih dulu membentuk itu,” katanya.

Yang menarik lagi adalah cara Amiq menghargai dan membuat nyaman pasukan kebersihannya. Di kantornya ada sanggar seni untuk mewadahi bakat pasukan kebersihannya, misalnya yang suka melukis atau menggambar.

Banyak sudah karya dari pasukan kebersihannya yang terpampang di sanggar tersebut. “ Ya, saya ingin bagaimana mereka itu bisa bekerja dalam suasana yang nyaman,” ujar Amiq.

Karya Amiq yang menarik lagi adalah soal penataan tempat pemakaman. Selama ini, area pemakaman selalu identik dengan tempat yang angker. Amiq pun menyulap itu, agar stigma area pemakaman sebagai tempat angker hilang. Kemudaian, ia tata sedemikian rupa.

Bahkan, dirinya sendiri yang merancang mulai dari gapura, pagar, sampai penataan di dalam makam. Salah satu karyanya terletak di dekat rumah pribadinya. Di sana ada area pemakaman yang cukup resik. agus supriyatna/E-3