Beranda Nasional Perahu Kayu Lesung Ternyata Berasal Abad 18 di Era Kesultanan Palembang Darussalam

Perahu Kayu Lesung Ternyata Berasal Abad 18 di Era Kesultanan Palembang Darussalam

45
0
BERBAGI

BP/IST
Kepala Balar Sumsel Budi Wiyana saat mengunjungi Museum Bala Putra Dewa untuk melihat perahu kayu lesung, Rabu (12/2).

Palembang, BP

Terkait Perahu kayu lesung bersama dayung diserahkan Andi, warga Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Jakabaring ke Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa, Senin (10/2) dimana perahu dengan panjang sekitar tujuh meter ini memiliki lengkungan di bagian tengah dari sebatang pohon kayu yang besar.

Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)) memiliki penilaian sendiri.

“Itu sepintas enggak usah diteliti detil, kita sudah punya data-data sebelumnya , jadi dari ceritanya itu, itu baru pak, jadi kita dua tahun yang lalu nemukan kapal seperti itu mirip, kapal itu dibuat kayu utuh dilubangin dijadikan perahu,” kata Kepala Balar Sumsel Budi Wiyana mengakui kalau dirinya sudah mengunjungi Museum Bala Putra Dewa untuk melihat perahu tersebut, Rabu (12/2).

Untuk mengetahui dari zaman apa kapal itu ada menurut Budi perlu di dating dengan membawa kayunya ke laboratorium, sementara kayu itu utuh dan tidak mungkin di rusak.

“ Jadi dua tahun lalu di Komering kita menemukan kapal yang serupa dengan yang di museum , kapalnya sudah pecah, saya ambil kayu dari kapal yang pecah itu di Laboratorium Jakarta dan hasilnya kapal itu dari abad 18, di era akhir Kesultanan Palembang, waktu saya di komering itu kebetulan ada penduduk yang cerita, dia pensiunan pegawai negeri, orangtua bapak itu tahun 1960an itu masih buat kapal itu dan dia menyaksikan saat di SD bapaknya membuat perahu itu dan itu bahannya dari kayu rengas, kemungkinan perahu di Museum itu kayu rengas juga,” katanya.

Kapal kayu lesung tersebut menurut Budi bisa memuat 8 orang penumpang.

“ Panjang kapalnya hampir 7 meter dan lebarnya hampir 98,” katanya.

Budi mengapresiasi kalau nantinya kapal tersebut menjadi koleksi Museum Bala Putra Dewa .

“ Tapi bagusnya perahu itu di simpan dalam air supaya awet, nanti pihak museum bisa buat kotak isi air sehingga kapalnya bisa di simpan dalam air,” katanya.

Hal senada dikemukakan arkeolog dari Balar Sumsel , Retno Purwati memastikan Balar Sumsel tidak akan mengklaim itu sebagai perahu kuno, tanpa bukti uji laboratorium untuk pertanggalannya.

“Biasanya kami mengirim sampel untuk mengetahui usia suatu benda ke Batan, Jakarta, Museum Geologi Bandung atau Waikato, New Zealand,” katanya.

Dan alasan pihaknya meragukan kekunaan perahu tersebut dimana perahu sejenis dengan ukuran yang sama masih tampak lalu lalang di DAS Komering sampai tahun 1960an.

Bahkan, bentuk yang serupa dengan ukuran yang lebih kecil masih dibuat dan digunakan sampai saat ini di sungai-sungai di daerah pedalaman Sumbagsel.

“Perahu ini biasa digunakan untuk ke ladang, mancing atau menjala ikan di sungai. Bahkan, saat saya penelitian di DAS Batanghari tahun 1995, 1996 dan 1998, perahu jenis ini digunakan oleh anak-anak SD s untuk ke sekolah. Di Muarajambi, saat penelitian tahun kemarin, saat menyelusuri Sungai Jambi, saya memberhentikan perahu yang dikemudikan oleh seorang ibu dari ladang. Saya numpang perahunya untuk pulang ke basecamp,” katanya.

Selain itu menurutnya, berkaitan dengan pernyataan Kepala Museum Bala Putra Dewa yang menyatakan bahwa Balar Sumsel sedang mengobservasi perahu tersebut, menurutnya kurang tepat.

“Tadi, saya sudah bicara dengan kepala Balar Sumsel. Beliau menyampaikan tidak ada permintaan lisan maupun tertulis dari kepala museum untuk kami melakukan observasi. Yang ada, karena rasa penasaran, kepala Balar Sumsel, jam 9-11an tadi ke museum untuk mengecek keberadaan perahu tersebut. Setelah melihat perahu tersebut, justru prihatin, karena perahunya hanya diletakkan, tanpa ada perawatan kalay dibiarkan seperti sekarang, maka dalam waktu singkat perahu tersebut akan retak dan hancur,” katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi SP MSC yang ikut menerima langsung serahan perahu dan dayung antik itu mengatakan, benda yang ditemukan warga ini memiliki nilai sejarah yang kuat. Dengan penemuan Perahu Kuno membuktikan jika masyarakat dulu sudah mengenal teknologi transportasi air menggunakan pohon.

“Kita belum bisa memperkirakan usia perahu ini, nanti kita akan bekerjasama dengan Balai Arkeologi Sumsel untuk menghitung usia perahu ini. Meski begitu, penemuan ini spektakuler. Terlebih mereka secara ikhlas menyerahkan benda sejarah ini kepada museum. Tujuannya tiada lain untuk memulihkan sejarah kepada generasi muda,” jelasnya.

Aufa meyakini, perahu ini memiliki usia tua karena bahan yang digunakan bukan berupa papan melainkan batang pohon. Jenis batang pohon sendiri dinilai hampir mirip dengan kayu unglen karena semakin lama terendam air, semakin kuat. “Untuk memastikan kita tunggu hasil observasi dari Balai Arkeologi Sumsel,” katanya.

Sedangkan Kepala Museum Balaputradewa, H Chandra Amprayadi
Berjanji akan merawat Perahu Kano agar tidak aus termakan usia. Meski begitu, sebelum dipamerkan kepada masyarakat, pihaknya akan menunggu hasil observasi yang dilakukan Balai Arkeologi Sumsel.

“Dari hasil observasi itulah nantinya akan kita jelaskan kepada masyarakat terkait latar belakang perahu kuno. Kita berharap, penemuan ini bisa menambah wawasan pengunjung museum untuk mengenal peradaban masyarakat dulu,” katanya.#osk