Beranda Nasional Perbanyak Pintu Air di Muka Anak Sungai

Perbanyak Pintu Air di Muka Anak Sungai

203
0
BERBAGI

Palembang, BP

Selain transportasi dan kemacetan, masalah klasik yang selalu dihadapi warga Kota Palembang adalah banjir. Berapa kali walikota berganti, namun banjir di Kota Palembang tak kunjung tuntas.

Demikian terungkap dalam lanjutan diskusi yang digelar BP Group di ruang rapat Koran Harian BeritaPagi, Kamis (2/2), dengan salah satu bakal calon Walikota Palembang H Sarimuda dan pengamat sosial yang juga Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Drs Joko Siswanto, MSi.

Pria yang pernah melakukan penelitian akhir tentang banjir di Palembang saat kuliah S1 di Teknik Sipil Unsri ini mengatakan, harusnya di Palembang ditambah 43 kolam retensi untuk mencegah banjir. Dan ini pernah ia sampaikan di DPRD Palembang.

“Waktu paparan di DPRD Palembang lalu, saya katakan kita harus membangun kembali minimal 43 kolam retensi. Dijawab pasangan lain akan dibangun lebih banyak lagi. Tapi kenyataan sampai saat ini satu pun belum dibangun. Itu kajian saya secara ilmiah. Saya kaji ini bukan karena saya ngarang-ngarang. Saya buktikan dengan mengecek di lapangan. Daerah yang butuh dibangun kolam retensi ini untuk menampung kawasan yang memang digenangi air,” kata mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel itu.

Dibutuhkan ketegasan  dan konsistensi pemimpin Kota Palembang dengan aturan dan kondisi yang ada. “Jangan ada anak sungai berada di bawah ruko, ini tidak boleh. Contoh anak sungai yang di Bayas itu sekian meter tidak boleh dibangun. Kabarnya dibangun hotel. Padahal itu tidak bisa, itu jalur hijau  dan pertentangan ini harus tegas bagi  menjalankan amanah masyarakat. Ini tantangan ke depan nanti, banyak hal yang harus dibenahi,” katanya.

Dia mencontohkan kolam retensi yang menjadi tempat menampung air, namun di situ ditimbun untuk membangun rumah maka yang terjadi adalah banjir. Jika saban hujan banjir terus terjadi, seharusnya pihak-pihak terkait, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum segera dipanggil Walikota.

Semua pihak bersama-sama memecahkan masalah banjir, mana wewenang kota dan mana wewenang provinsi. Mari dipecahkan bersama-sama.

“Di Palembang ini harus dibangun pintu-pintu air di muka anak sungai. Jika permukaan air menyentuh titik maksimal, maka mesin pompa dinyalakan untuk menurunkan debit air. Kalau ini dilakukan, saya yakin Palembang tidak akan banjir,” katanya.

Dia menilai banjir yang terjadi di Kota Palembang ini salah satunya disebabkan Sungai Musi pasang, hujan turun, dan kolam retensi tergenang semua.

“Tapi jika pintu-pintu air itu segera dibangun semua   di muka anak–anak sungai, jika hujan turun, pasang naik, dia tidak masuk ke anak sungai karena terbendung dengan pintu air,” katanya .

Pengamat sosial yang juga Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Drs Joko Siswanto MSi melihat topografi di Palembang adalah kawasan rendah dan ini sudah risiko alam.

“Dari rumah panggung perilaku kita berubah menjadi rumah tembok dan beton yang mau tidak mau melawan alam dan untuk itu kita harus membangun teknologi. Kalau semua ditimbun airnya akan ikut. Akibatnya banjir tidak hilang-hilang,” katanya.

Mengenai banjir di Kota Palembang, dia menilai perlu adanya teknologi untuk mengatasi banjir. Meskipun banjir tidak sampai berhari-hari tapi membuat tidak nyaman.#osk