Beranda Nasional Perundingan di Ambang Kegagalan

Perundingan di Ambang Kegagalan

32
0
BERBAGI

Seorang narasumber di Inggris menyatakan bahwa perundingan antara Inggris dan UE di ambang kegagalan setelah Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan bahwa kesepakatan Brexit sangat tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompromi dari Inggris.

LONDON – Perundingan Brexit (keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa) antara London dan Brussels berada di ambang kehancuran pada Se­lasa (8/10) setelah Uni Eropa (UE) menuding Inggris bersi­kap keras kepala dan mengan­cam masa depan UE.

Kemungkinan itu mencu­at setelah Perdana Menteri In­ggris, Boris Johnson, berund­ing dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, via sambungan telepon dimana Merkel men­gatakan kesepakatan Brexit sangat tidak mungkin tercapai tanpa kompromi dari Inggris.

“Merkel memperingatkan bahwa kesepakatan apa pun pada dasarnya tidak mung­kin tercapai jika London ga­gal memberikan jawaban atas masalah perbatasan Irlandia dan mempertahankan Irland­ia Utara dalam serikat pabean UE,” kata seorang narasum­ber di Downing Street, sembari mengatakan perundingan an­tara kedua belah pihak seka­rang hampir hancur.

Sebelum Inggris menegas­kan akan meninggalkan UE pa­da 31 Oktober. PM Johnson, yang pernah mengatakan ia leb­ih suka mati di selokan daripa­da harus mengupayakan per­panjangan Brexit, mengajukan proposal baru pada pekan la­lu sebagai pengganti perjanjian yang diajukan pendahulunya, Theresa May, ke Brussels pada akhir 2018. Saat May berkuasa, ia tiga kali gagal mendapatkan persetujuan dari parlemen Ing­gris terkait proposal Brexit.

Pada bagian lain juru bicara Johnson menolak tuduhan dari Presiden Dewan UE, Donald Tusk, yang mengatakan bahwa Johnson telah memainkan per­mainan bodoh dengan saling menyalahkan.

Dalam cuitannya di media sosial, Tusk mengatakan bah­wa yang dipertaruhkan dalam hal ini adalah masa depan Ero­pa dan Inggris serta keamanan dan kepentingan rakyat kedua wilayah itu.

“Dia (Johnson) tidak ingin kesepakatan, dia tidak ingin perpanjangan, dia tidak ingin mencabut Brexit, quo vadis?” Tusk bertanya, menggunakan ungkapan Latin yang berarti “kemana tujuanmu?”

Saat ini antara London dan Brussels sebagian besar fokus pada masalah apa yang terjadi selanjutnya ketika pertemuan puncak UE dilaksanakan pe­kan depan dan siapa yang akan disalahkan atas Brexit yang berpotensi tanpa kesepakatan.

Persiapan Irlandia

Sementara itu Menteri Keuangan Irlandia pada Selasa diwartakan akan menyajikan anggaran 2020 dalam kerang­ka mengantisipasi terjadinya Brexit tanpa kesepakatan. Ang­garan yang disusun itu merin­ci cara-cara untuk menjaga bis­nis tetap lancar serta membuka kemungkinan keuangan neg­ara kembali defisit jika Inggris meninggalkan UE dalam ke­adaan kacau.

Dengan Inggris dijadwalkan keluar dari UE hanya dalam ti­ga pekan lagi, Menteri Keuan­gan Paschal Donohoe, bulan la­lu mengambil keputusan untuk mengambil langkah mengantisi­pasi keadaan terburuk. Donohoe menginginkan Irlandia meng­hindari perluasan pemotongan pajak serta peningkatan pengel­uaran dalam beberapa tahun ter­akhir ini agar dapat menyisihkan dana bagi dunia usaha.

Irlandia dianggap paling rentan di antara para anggota UE dalam wacana Brexit kare­na negara itu memiliki hubun­gan perdagangan erat dan ber­bagi perbatasan darat dengan Inggris Raya. Pemerintah Ir­landia telah memperingatkan bahwa pertumbuhan ekono­mi bisa nyaris terhenti tahun depan, menyebabkan 80.000 orang bisa kehilangan peker­jaan jika Inggris keluar dari UE.

“Pemisahan tanpa kesepak­atan akan memunculkan gon­cangan besar pada perekono­mian pedesaan. Kalangan yang paling rentan kehilangan peker­jaan adalah mereka yang ting­gal di daerah-daerah yang pel­uangnya lebih sedikit, kurang lapangan pekerjaan yang lay­ak serta pendapatan yang ren­dah,” pungkas kepala ekonomi Irish Business and Employers Confederation’s (IBEC), Gerard Brady. SB/AFP/Ant/I-1