Beranda Nasional Semuanya Terdampak oleh Perang Dagang

Semuanya Terdampak oleh Perang Dagang

54
0
BERBAGI

Krisis global yang menyebabkan terjadinya perlambatan ekonomi dunia telah berimbas pada pertumbuhan perekonomian Indonesia pada triwulan III-2019 sebesar 5,02 persen year on year (yoy) atau melambat dibandingkan pada kuartal II-2019 yang mencapai 5,05 persen (yoy).

Namun demikian, Bank Indonesia (BI) menilai perlambatan ekonomi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga hampir di berbagai negara terma­suk Malaysia dan Singapura yang jauh lebih dalam perlambatan ekonominya.

Guna mengetahui antisipasi BI terhadap pelambatan ekonomi global, wartawan Koran Jakarta mewancarai Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di sela-sela fes­tival ekonomi syariah di Surabaya, Kamis (7/11). Berikut petikannya.

Bagaimana kondisi perekono­moan global?

Masalah global menjadi salah satu penyebab utama ekonomi dunia yang semuanya terdam­pak oleh perang dagang. Namun, dalam kondisi yang penuh tantangan tersebut, kita harus bersyu­kur ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen, memang melambat tapi patut kita acungkan jempol karena masih bisa tumbuh di atas 5 persen.

Apa penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga?

Pertumbuhan ekonomi Indo­nesia didukung oleh permintaan domestik yang tetap terjaga dan kinerja sektor eksternal yang menguat di tengah permintaan dan harga komoditas global yang masih meng­hadapi tekan­an. Dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpas­tian maka paparan angka ataupun indikator mak­roekonomi tidak cukup untuk bisa memberi keya­kinan dan gambaran optimisme yang utuh bagi pelaku usaha.

Jadi, bagaimana tantangan perekonomian global?

Tantangan perekonomian global semakin tidak mudah khususnya untuk 2019 sebab terus diliputi oleh ketidakpastian geopolitik dan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sehingga bank sentral juga akan terus mengantisipasi hal tersebut. Perlu sinergi bersama, perlu dijaga dan diketahui bahwa ekonomi kita tidak turun tajam. Itu menjadi penting.

Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatisipasi pelemahan ekonomi global?

Kami mengimbau kepada pemer­intah untuk terus memberikan stim­ulus bagi para pelaku usaha guna menjaga ketahanan serta tingkat keyakinan bagi mereka agar mampu memenuhi performa yang diharap­kan. Perlu dilakukan pendekatan yang lebih aktif dan persuasif kepada mereka serta stimulus usaha lainnya yang kiranya diperlukan,” katanya.

Bagaimana dengan kondisi perekonomian Jawa Timur?

Secara spasial capaian posi­tif tersebut tentunya tidak bisa terlepas dari kinerja perekonomian daerah yang cukup baik seperti di wilayah Jawa yang tumbuh 5,56 persen secara year on year, Sumatera tumbuh 4,49 persen, Kalimantan tumbuh 5,92 persen, dan Bali-Nusa Tenggara tumbuh 5,28 persen. Kami juga mengapr­esiasi perekonomian Jawa Timur pada triwulan III ini yang masih terjaga di angka 5,32 persen (yoy) meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 5,72 persen (yoy).

Bagaimana mengenai keuangan syariah?

Kami mengimbau para pelaku usaha industri keuangan syariah untuk memanfaatkan layanan kredit digital dalam mengem­bangkan bisnisnya agar sektor ekonomi syariah di Indonesia dapat meningkat.

Sekarang ini pertumbuhan kredit melalui platform digital hingga Agustus 2019 mencapai 105 persen secara year on year se­hingga diharapkan pelaku industri halal bisa turut memanfaatkan keberadaan platform perdagangan secara online (e-commerce) terse­but. Segmen e-commerce di Indone­sia sedang tumbuh signifikan jadi kita bicara apapun platrom digital naiknya satu atau satu setengah kali setiap bulan. selocahyo/AR-2