Beranda Nasional Umat Islam Perlu Pemimpin Yang Menyatukan

Umat Islam Perlu Pemimpin Yang Menyatukan

251
0
BERBAGI

dediPara pembicara muhasabah dan istiqbal akhir tahun dari kiri: Prof Dr Yusuf Harahap, MSi, Ir H.Tifatul Sembiring, Dedi Sahputra (moderator), Prof Dr Hasyim Purba, SH, M.Hum, Shohibul Anshor Siregar, H.Sofyan Harahap, dan Prof Dr Syahrin Harahap, MA. ( Repro/WSP/A)

* Muhasabah & Istiqbal Akhir Tahun

MEDAN ( Bertia ) : Peristiwa 411 dan 212 merupakan momentum bangkitnya ghirah keIslaman umat Islam. Momentum ini mesti ditindaklanjuti dengan menyusun strategi dan menemukan pemimpin umat yang bisa menyatukan semua kekuatan yang selama ini tercerai berai.

Hal ini mencuat dari Muhasabah dan Istiqbal akhir tahun di Hotel Garuda Plaza Medan, Sabtu-Minggu (31/12-1/1) malam yang dilaksanakan MUI Sumut dan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sumut. Tampil sebagai pembicara Anggota DPR RI Ir H.Tifatul Sembiring, Guru Besar UIN SU Prof Dr Syahrin Harahap, MA, Guru Besar Fak.Hukum USU Prof Dr Hasyim Purba, SH, M.Hum, Ekonom Unimed Prof Dr Yusuf Harahap, MSi, Wapemred Hr.Waspada H.Sofyan Harahap, Dosen UMSU Shohibul Anshor Siregar, dan Dr Armin Nasution, MA.

Dalam acara yang dihadiri ketua MUI Sumut Prof Dr Abdullahsyah dan para tokoh ini, Tifatul menyatakan, ghirah dimaksud adalah rasa cemburu dan marah melihat Islam dilecehkan. “Ghirah ini muncul dari kasus Ahok yang menjadi terdakwa penista Islam,” kata Tifatul.

Dia menyebutkan, meski nama Habib Rizieq kemudian menjadi fenomena, namun yang sebenarnya berperan adalah para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Para ulamalah yang menggerakkan sehingga terjadi peristiwa 411 dan 212, yang Habib Rizieq merupakan salah satunya,” sebut Tifatul.

Untuk ke depan, sambungnya, MUI perlu pusat kajian dan dakwah Islam yang modern, yang dilengkapi sistem informasi modern tempat mengolah informasi-informasi yang bermanfaat bagi umat Islam,” ujarnya seraya menambahkan penting juga memiliki sarana media Islam kontemporer Islami yang menyebarkan konten-konten Islam. “Ulama mestilah aktif melindungi umat dari serangan-serangan pemikiran (ghazwul alfikri) dan perusakan akidah umat yang saat ini berlangsung secara massif,” katanya.

Sementara Prof Syahrin Harahap menekankan pentingnya strategi sebagai tindak lanjut dari peristiwa 411 dan 212. Strategi dimaksud adalah dengan menggelorakan jihad di berbagai sektor kehidupan. Dia menyebut jihad ekonomi bisnis, jihad media, diskriminsi positif, dan jihad kebudayaan.

Dia juga mengingatkan terjadinya Islamophobia pasca 212. “Pasca peristiwa 411 dan 212, umat Islam harus hati-hati pada munculnya Islamophobia, dan hati-hati pada gerakan Islam yang dibajak. Maka penting sekali untuk mengatur strategi pasca peristiwa 212 ini,” tandasnya.

Pada bagian lain Shohibul Anshor Siregar menandaskan, munculnya nama Habib Rizieq dari rangkaian peristiwa ini adalah suatu fenomena yang alami. Berbagai proses yang berlangsung kemudian seakan-akan mengerucut pada sosok Habib Rizieq sebagai sosok yang menjadi perhatian umat Islam.

Kenyataannya memang, pasca 212 ketika Habib Rizieq melakukan safari ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Medan dan Aceh, disambut dengan sangat antusias oleh umat Islam. Tidak jarang, dalam kunjungan dakwahnya tersebut, Habib Rizieq diusulkan sebagai pemimpin umat Islam yang menyatukan berbagai elemen dalam tubuh kaum Muslimin.

Hal senada disampaikan Prof Hasyim Purba. Menurutnya fenomena Habib Rizieq menempatkannya sebagai tokoh yang dipercaya umat Islam. Dari kunjungannya ke berbagai daerah, Habib Rizieq mendapat sambutan yang hangat dari umat Islam. “Habib Rizieq jangan dilemahkan oleh umat Islam. Justru harus didukung agar menjadi tokoh yang menyatukan umat,” tegasnya.

Pada bagian lain Prof Dr Yusuf Harahap memaparkan pentingnya ekonomi Islam menjadi mainstream di tengah model ekonomi sosial komunis yang telah mati, dan model liberal kapitalis yang sebenarnya sudah tak terpakai lagi. “Peristiwa 212 ini bisa menjadi momentum yang tepat untuk membangkitkan ekonomi Islam,” ujarnya.

H.Sofyan Harahap menyampaikan selama ini umat Islam tertinggal dan lebih banyak menjadi penonton dalam berbagai peristiwa yang terjadi. “Dengan peristiwa 212 ini kita harapkan menjadi momentum kebangkitan umat Islam,” tuturnya.

Sedangkan Dr Armin Nasution, MA berbicara tentang siapa sebenarnya yang dapat berbicara mewakili umat Islam. “Umat Islam-lah yang harus mewakili umat Islam sendiri, bukan pihak lain,” katanya.(WSP/m07/B)