in

Aqua Dwipayana: Komunikasi Faktor Keberhasilan Proses Pembelajaran

Komunikasi menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran. Komunikasi yang baik menjadikan proses pembelajaran menarik dan menyenangkan. Karena itu pendidik harus mampu berkomunikasi secara efektif.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana saat menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Bung Hatta (UBH), Minggu (12/07/2020).

Dalam webinar yang mengangkat tema “Membangun Komunikasi Efektif dalam Rangka Mencapai Kesuksesan Proses Belajar Mengajar” itu, Aqua menegaskan, kunci sukses proses belajar mengajar ada pada penguasaan komunikasi informasi. Karena pentingnya penguasaan komunikasi tersebut, para pendidik dituntut harus mampu meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi.

Komunikasi menurut mantan wartawan senior ini bisa dipelajari. Kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan atau informasi serta cara penyampaiannya. “Bagaimana kita bisa memperkecil gangguan dari pesan yang akan kita sampaikan kepada penerima pesan. Kemudian bisa memberikan umpan balik. Karena itu perlu penggunaan bahasa yang baik,” tutur motivator nasional ini di webinar yang dimoderatori Dekan FTI UBH Hidayat dan host Dosen Prodi Teknologi Rekayasa Komputer dan Jaringan (TRKJ) UBH Budi Sunaryo.

Dia menyebut, ada beberapa aspek dalam komunikasi yang efektif. Pertama, persiapan diri atau bahan yang akan diajarkan.

Kedua memposisikan diri sebagai mitra, memperhatikan kearifan lokal dan budaya di sekitar, dan yang penting menghormati peserta didik. “Ketika kita menghormati peserta didik kita, maka mereka pun akan menghormati kita,” ujar Aqua.

Pendidik katanya harus mempunyai integritas. Seorang pendidik menjadi faktor yang terus disorot oleh peserta didik, karena itu pendidik harus menjadi teladan bagi peserta didiknya. “Guru itu tidak saja mengajar tapi juga membentuk karakter anak didiknya,” tegasnya.

Seperti diketahui, selama Covid-19 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menginstruksikan untuk pembelajaran daring. Menurut Aqua, harus ada kesiapan kedua belah pihak, baik pendidik maupun peserta didik. Pendidik selama ini sebagian besar tidak terbiasa mengajar secara daring, tapi dengan kondisi pandemi ini, mereka harus dipaksa melek teknologi. Termasuk kesiapan peserta didik, menyediakan paket internet dan lain sebagainya. Di lapangan banyak sekali kendala yang terjadi, tidak saja persoalan dari diri masing-masing tapi juga persoalan teknis, salah satunya kendala akses komunikasi atau internet.

Yang tidak kalah penting kata Aqua, dalam proses belajar mengajar, pendidik perlu memperhatikan psikologi peserta didik di masa pandemi Covid-19. Selama pembelajaran daring, pendidik harus kreatif dan tidak membebani peserta didik ketika di rumah. “Kurikulum yang digunakan harus sesuai situasi dan kurikulum yang berlaku,” ujarnya.

Kreativitas kata Aqua, adalah kunci sukses pembelajaran daring saat pandemi Covid-19. Kreatifitas pendidik itu sangat dibutuhkan. “Kita tidak bisa belajar biasa-biasa saja, tapi harus luar biasa tapi tetap menggunakan hati nurani,” tandasnya.

Kreativitas kata Aqua lagi, merupakan kunci sukses dari seorang pendidik untuk dapat memotivitasi peserta didiknya tetap semangat dalam belajar secara online dan tidak menjadi beban psikis. “Yakinlah segala hal positif dan kebaikan yang kita lakukan akan bermanfaat tidak saja kepada diri kita tapi akan ditiru orang lain,” tuturnya.

Aqua mengajak, tenaga pendidik mempunyai punya hati yang bersih dan punya komunikasi yang baik, sehingga peserta didik ikut tergerak dalam hal yang positif.

Aqua menambahkan, sebagai pendidik harus punya respek terutama kepada peserta didik. Jangan menganggap remeh mereka tapi justru membimbing mereka menjadi baik. Kemudian pendidik harus mempunyai empati, bagaimana bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Selanjutnya, bagaimana pendidik itu dapat didengarkan atau dipahami dengan baik. Lalu, ini yang sangat penting, pendidik harus menggunakan bahasa yang baik, sederhana dan terbuka saat berkomunikasi. “Terakhir adalah rendah hati dan tidak sombong,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UBH Prof Tafdil Husni, mengatakan pendidik dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang baik. “Kita sebagai pendidik atau pengajar mempunyai tanggung jawab memberikan informasi yang baik dalam pembelajaran. Apalagi kini diintesifkan pembelajaran daring untuk menekan penyebaran Covid-19,” katanya.

Dalam pembelajaran daring katanya harus ada interaksi antar pendidik dan peserta didik sehingga proses belajar dapat berjalan dengan baik. “Kita tidak ingin siswa kita terlihat sebagai robot saja,” ujarnya. (bis)

What do you think?

Written by Julliana Elora

Hari Minggu Pun Orangtua Siswa “Serbu” SMA Negeri

Weird Genius tak menyangka “Lathi” terpampang di Times Square