in

Australia vs Mesir: Pragmatisme yang bisa selamatkan wajah Asia

Australia vs Mesir: Pragmatisme yang bisa selamatkan wajah Asia

Jumat, 3 Juli 2026 07:47 WIB

Grafik ilustrasi pertandingan Australia melawan Mesir pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Jumat (3/7/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

Jakarta (ANTARA) – Setelah Jepang dihentikan Brasil, harapan Asia kini tertambat pada Australia, yang akan menghadapi Mesir dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, pada Sabtu (3/7) pukul 01.00 WIB.

Dari sembilan negara yang wakili Asia, hanya Jepang dan Australia yang lolos ke fase gugur, justru ketika Piala Dunia diperluas menjadi 48 tim.

Kini Australia menjadi tambatan Asia untuk mencapai 16 besar, babak yang sudah dua kali dicapai Socceroos, pada 2006 dan 2022.

Australia adalah satu dari empat tim Asia yang pernah bermain di babak yang kini setara dengan 32 besar itu. Tiga tim lain adalah Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Sejak bergabung dengan Asia (AFC) dari Oseania (OFC) pada 2006 Australia tak pernah absen dalam lima edisi terakhir Piala Dunia.

Australia juga bergabung dengan Asean (AFF) sejak 2013 sehingga Asia Tenggara sudah boleh mengatakan bahwa ada wakil mereka dalam putaran final Piala Dunia, bahkan sejak Piala Dunia 2014.

Jika Socceroos berpengalaman bermain di fase gugur, lain hal dengan Mesir yang baru kali ini mencapai babak itu setelah gagal pada 1990, 2018, dan 2022.

The Pharaohs sudah mencapai babak itu pada 1934 ketika Piala Dunia langsung diawali dari babak 16 besar dan diikuti 16 negara, termasuk Mesir yang memerdekakan diri dari Inggris pada 28 Februari 1922.

Asia berharap pengalaman panjang Socceroos membantu mereka mengalahkan Mesir yang lebih diunggulkan dalam memenangkan laga di Dallas itu.

Sebelum kickoff, posisi Australia dalam daftar peringkat FIFA adalah 28, di bawah Amerika Serikat (15) dan Turki (27) yang sama-sama berada di Grup D. Paraguay yang berperingkat 34 juga berada di grup ini.

Sedangkan Mesir yang berperingkat 26 satu grup dengan Belgia (9), Iran (22) dan Selandia Baru (86) di Grup G.

Sebelum fase grup mulai, Mesir memiliki kemungkinan memetik kemenangan terbesar dari Selandia Baru. Sedangkan Australia bisa mendapatkannya dari Paraguay, yang berperingkat jauh di atas Selandia Baru.

Fakta yang kemudian terjadi, Mesir mengalahkan Selandia Baru, sedangkan Australia ditahan seri oleh Paraguay.

Spirit dari mengalahkan Turki

Tapi Socceroos bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan Mesir, yakni menumbangkan tim yang memiliki peringkat di atasnya, yakni Turki.

Jika Mesir bisa membuat frustrasi Belgia dan Iran, maka Australia juga membuat hal sama terhadap AS, walau berakhir dengan kekalahan.

Namun AS menang dengan terpaksa mengandalkan sebuah gol bunuh diri dan satu gol yang baru disahkan oleh VAR setelah dianggap offside oleh hakim garis.

Kedua gol terjadi pada babak pertama, sedangkan pada babak kedua AS dimentahkan oleh tembok tebal sistem permainan Socceroos.

Fakta-fakta ini disajikan agar orang tidak menganggap remeh Australia, hanya karena tim ini tak memprioritaskan penguasaan bola.

Dalam urusan penguasaan bola, Australia menempati peringkat ke-42 dengan 33 persen, sedangkan Mesir di peringkat ke-22 dengan rata-rata 47 persen.

Tingkat probabilitas gol atau xG Australia juga jauh di bawah Mesir. The Pharaohs di peringkat ke-24 dengan xG 3,76, sedangkan Australia di peringkat ke-40 dengan 1,99.

Mesir juga mengungguli Australia dalam jumlah peluang gol. Jika Mesir menempati peringkat ke-16 dengan 48 peluang yang 13 di antaranya tepat sasaran, maka Australia berada di peringkat ke-39 dengan 26 peluang yang 11 di antaranya on target.

Mesir tak terkalahkan selama fase grup setelah melepaskan rata-rata empat tembakan tepat sasaran per satu pertandingan, sedangkan Australia rata-rata 2,5 tembakan on target.

Tapi salah besar jika Mohamed Salah cs meremehkan Australia, karena Socceroos memiliki kemampuan untuk mementahkan yang tadinya dianggap tidak mungkin, yakni mengalahkan Turki, dengan dua gol tanpa balas pula.

Sistem bermain Australia yang simpel dan pragmatis telah merepotkan banyak tim.

Socceroos bermain pragmatis dengan mengutamakan pertahanan rapat garis rendah, kerja fisik yang tinggi, dan serangan balik yang cepat.

Beda karena Salah dan Marmoush

Australia sangat disiplin dalam menyudutkan lawan ke area sayap yang kurang berbahaya dan sangat efektif dalam bertahan di dalam kotak penalti.

Socceroos akan membiarkan lawan asyik menyerang tapi begitu lawan kehilangan bola, mereka akan cepat berubah ke setelan menyerang dengan bertumpu pada kedua bek sayapnya, terutama Jordan Bos, dan Jackson Irvine di tengah, untuk mengeksploitasi ruang yang sudah terbuka.

Mereka lalu membidik penyerang bertubuh besar atau bahkan bek tengah tinggi perkasa yang bisa cepat berubah fungsi menjadi penyerang, seperti sering diperankan bek Harry Souttar, untuk mengeksekusi peluang gol dari serangan balik itu.

Gaya bermain ini sudah terbukti merepotkan Turki dan Paraguay, bahkan AS.

Mesir sendiri tak kalah pragmatis, karena sama-sama mengandalkan blok pertahanan garis rendah yang kokoh dan ketahanan fisik dalam menyerap tekanan lawan.

Begitu situasi defensif berubah menjadi ofensif, maka mereka akan cepat menyerang dengan mengandalkan kecepatan dan kreativitas Mohamed Salah dan Omar Marmoush.

Mesir tak tertarik mendominasi penguasaan bola di sepertiga terakhirnya, tapi sangat piawai mengeksekusi situasi bola mati di area itu.

Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk menyebut laga ini sebagai pertemuan dua tim pragmatis. Bedanya, Mesir dipenuhi lebih banyak pemain bintang, terutama Salah dan Marmoush, yang bisa cepat mengubah peluang sekecil apa pun menjadi kemenangan.

Mesir mungkin menjadi pemenang dalam laga ini, tapi kemenangan itu tak akan mudah didapatkan, seperti dialami AS pada fase grup.

Bila tak segera mencetak gol pada babak pertama, The Pharaohs akan berada dalam situasi sulit, yang bisa membuat mereka dihadapkan pada skenario adu penalti.

Tapi probabilitas Australia untuk bertemu Argentina atau Tanjung Verde di 16 besar juga tak bisa disebut rendah walau Socceroos kini berperingkat di bawah Mesir.

Fakta tim asuhan Tony Popovic itu bisa mengalahkan Turki dan menyulitkan AS pada babak kedua laga mereka di fase grup, menunjukkan Australia bisa menghentikan tim asuhan Hossam Hassan, yang memiliki xG di bawah Turki dan AS.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Australia vs Mesir: Pragmatisme yang bisa selamatkan wajah Asia

Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026

What do you think?

Written by Julliana Elora

Cubox: Curator Box from Korea!

De la Fuente puji Oyarzabal usai jadi bintang kemenangan atas Austria