in

Bonus Demografi Bisa Picu Ledakan Pengangguran

Perbaiki Pola Asuh dan Sistem Pendidikan

Bonus demografi Indonesia diperkirakan terjadi tahun 2030, dan berpeluang menjadi bencana demografi bila daya saing dan produktivitas generasi muda tidak disiapkan dari sekarang. Salah satu hal paling mendasar yang harus diperhatikan adalah, bagaimana pola asuhnya sejak dari kecil.    

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) RI, Harris Iskandar mengemukakan itu ketika menjadi keynote speaker dalam seminar parenting bertajuk “Keselarasan Pola Asuh antara Keluarga Satuan Pendidikan dan Masyarakat dalam Membentuk Karakter Anak,” di Auditorium Gubernuran Sumbar, Sabtu (5/8).  

Seminar tersebut digelar atas kerja sama Perguruan Islam Nibras Padang dan Yayasan Pendidikan Pencerdas Bangsa bekerja sama dengan Kemendikbud dan Pemprov Sumbar. Selain Haris, juga tampil sebagai narasumber Ketua Komisi Penyiara Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis, Buya Masoed Abidin, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Unand Dr Helmizar SKM M Biomed dan Raymond, dari BNN Sumbar. 

“Bonus demografi ditandai lebih banyaknya penduduk berusia produktif. Di satu sisi jelas menguntungkan Indonesia. Bahkan, Indonesia digadang-gadangkan masuk tujuh besar negara berekonomi terbesar di dunia. 

Namun bila tak disiapkan dari sekarang, hal tersebut malah jadi bencana demografi. Hal ini ditandai meledaknya pengangguran di mana-mana,” beber Harris dalam seminar yang dimoderatori Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Pencerdas Bangsa yang juga Konsultan Kemendikbud, Prof dr Fasli Jalal PhD.

Merujuk inilah, Harris menekankan pentingnya peranan keluarga dalam menumbuhkan karakter dan budaya prestasi anak. “Anak harus dibentengi dari pengaruh negatif pergaulan globalisasi, terutama perkembangan IT (teknologi informasi, red) yang sangat pesat dan tidak bisa dibendung,” ujar dia.

Di samping itu, sistem pendidikan di Indonesia masih perlu disempurnakan. “Lebih setengah anak SD hilang di tingkat SMA karena drop out, dan tidak melanjutkan sekolah karena terkendala biaya dan minat yang rendah,” terang dia. “Untuk itu, keluarga dan masyarakat harus dilibatkan sebagai mesin penggerak pendidikan anak,” tambah dia.

Pelibatan keluarga ini ditujukan untuk mewujudkan kerja sama dan keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tri sentra pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi anak.

Pentingnya pelibatan keluarga dalam pendidikan, karena keluarga merupakan pendidik pertama dan paling berpengaruh terhadap kehidupan anak. “Pelibatan keluarga dalam pendidikan dapat mengingkatkan perilaku positif, prestasi belajar, minat untuk melanjutkan pendidikan, mencegah dari tindak kekerasan dan pengaruh negatif lainnya,” jelasnya.

Sementara Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis menekankan pentingnya pendidikan keluarga dalam pembentukan karakter dan budaya prestasi anak. Terlebih sekarang banyak tayangan media berdampak negatif pada perkembangan anak. “Contohnya, tayangan kekerasan berdampak meningkatnya perilaku kekerasan pada anak,” ujar mantan Uda Sumbar ini dalam seminar yang dihadiri ratusan peserta itu.

Di sisi lain, Buya Masoed Abidin menyebutkan, parenting atau pengasuhan adalah kewajiban syar’i bagi umat Islam. “Al Quran menegaskan akan kewajiban kita menjaga diri dan keluarga,” tukas dia. “Ajaran Islam, pendidikan dimulai dengan kasih sayang, dan kasih sayang mulai didapatkan dalam pengasuhan,” tambahnya.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Unand, Dr Helmizar SKM MBiomed menekankan pentingnya pengasuhan sejak kehamilan. “Perlu diperhatikan gizi si ibu untuk pembentukan sel otak bayi,” sebutnya. “Kemudian, dilanjutkan dengan “menjujai” ketika bayi sudah lahir,” tambahnya. Menjujai adalah pola asuh Minangkabau sebagai media interaksi orangtua dengan anak, yaitu berupa stimulasi psiko-sosial.

Di bagian akhir, Raymond dari BNN Sumbar memaparkan ancaman penyalahgunaan narkoba bagi anak dan remaja. “Kita harus membangun komunikasi yang baik dengan anak,” ujarnya. “Karena, anak SD saja sekarang sudah banyak yang jadi korban penyalahgunaan narkoba,” imbuhnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Burhasman Bur yang hadir dalam kesempatan itu, mengingatkan perlunya disiapkan kemampuan anak didik yang tak hanya mengacu pada kemampuan literasi saja, seperti membaca, menulis dan berhitung. “Namun, juga kemampuan berkolaborasi, kompetisi, kecerdasan moral dan bersosialisasi,” ujar dia. 

Pengawas Perguruan Islam Nibras Syahrial Syam mengatakan seminar parenting ini sudah dua kali digelar pihaknya bersama Yayasan Pendidikan Pencerdas Bangsa. “Awalnya, kita hanya mengundang 400 peserta dari kalangan pendidik, bundo kanduang, Himpaudi dan Aisyiyah. Nyatanya, dihadiri 500 orang lebih,” sebutnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Menyongsong Reformasi Pengelolaan Dana Haji di Tangan Badan Pengelola Keuangan Haji

Di Malaysia Setoran Awal Haji Cukup Rp 4 Jutaan