in

Bunuh Diri dalam Kacamata Ilmu Sosial

Sumber gambar: duniaku.net

Oleh Muhammad Syawal*

Linkin Park, sebuah band terkenal yang bertempat di Amerika serikat, harus merelakan kepergian vokalis utamanya, Chester Bennington. Ia dikabarkan meninggal dunia dengan cara tak biasa (bunuh diri). Pihak kepolisian menemukannya dalam keadaan tak bernyawa pada kamis (20/7) pukul 09.00 pagi, yang berlokasi di kediamannya sendiri, Palos Verdes Estates di Los Angeles, Amerika Serikat (kumparan, 21/7/2017).

Kabar duka sang vokalis Linkin Park tersebut beredar cepat dan begitu menghebohkan jagad maya. Netizen pun ramai-ramai menyampaikan rasa belasungkawanya kepada vokalis yang berumur 41 tahun ini. Sebahagiannya dengan nada shock berujar, apa gerangan sang ayah dari 6 anak ini ‘memilih’ pergi dengan cara bunuh diri sedangkan dirinya sedang berada pada puncak karir yang begitu luar biasa.

Kematian Chester menambahkan deretan selebritas yang meninggal dengan cara bunuh diri. Sebelumnya pada Mei lalu, vokalis Audisoslave juga meninggal dunia dengan cara bunuh diri. Ini menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri bukan hal yang asing pada kalangan selebritas.

Ihwal bunuh dirinya Chester meninggalkan tanda tanya bagi publik. Besar dugaan, Chester mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri karena faktor kebahagiaan. Kehidupan Chester mulai terganggu semenjak ia menjadi pecandu narkoba. Sudah lama ia berjuang dalam melawan kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang dan alkohol tersebut. Sehingga ia mencari kedamaian abadi, meskipun dengan cara yang menyakitkan, (pikiran rakyat, 21/7/2017).

Bagi kita yang masih disinggahkan nikmat hidup sampai detik ini, tentunya kematian Chester mesti dijadikan sebuah pelajaran. Bahwa, profesi yang hebat, karir yang cemerlang, finansial yang mencukupi bukanlah jaminan terhadap sebuah kebahagiaan.

Tak terpungkiri memang, selama ini kasus bunuh diri sering dikaitkan dengan permasalahan hidup atau hidup seseorang yang bermasalah, seperti karena masalah finansial, masalah karir, masalah percintaan, atau masalah pergaulan. Namun, dalam ilmu sosial bunuh diri dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang melakukan bunuh diri tidak selamanya dikarenakan faktor finansial atau ekonominya, melainkan juga karena faktor sosiologis.
Dalam kacamata ilmu sosial, fenomena bunuh diri atau faktor bunuh diri seseorang sering dikaitkan dengan anomie. Anomie merupakan suatu perilaku tanpa arah ketika seseorang sudah merasa terasing dengan lingkungan sosialnya. Meskipun orang tersebut sedang berada pada tahap puncak karir, di mana kehidupannya didukung oleh finansial yang mumpuni, namun mereka tak pernah merasakan kebahagian dan selalu merasa asing dengan lingkungan sosial.

Emile Durkheim, seorang ilmuwan sosial memberikan pandangannya tentang bunuh diri dengan teori anomie. Menurutnya, anomie merupakan sebuah keadaan di mana manusia telah kehilangan pegangan nilai dan tujuan hidup dalam struktur sosial yang baru, sehingga timbul gejala-gejala seperti bunuh diri dan berbagai bentuk pelarian lainnya, misalnya minuman keras dan narkotika, (M.Dawan Rajarjo: 1993).

Dengan demikian, dalam mencermati kasus bunuh diri tidak bisa disimpulkan hanya dengan melihat kondisi individul semata, melainkan harus menelusuri kondisi psikologis dan sosiologis seseorang atau si pelaku.

Dewasa ini di negara manapun, mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dianggap sebagai perilaku yang tercela dan tidak dibenarkan. karena, sudah kodratnya mempertahankan hidup menjadi filosofi manusia. Mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri merupakan sebuah perilaku yang menyalahi kodrat manusia dan dianggap sebagai perilaku yang menyimpang. Artinya melakukan bunuh diri sama dengan melanggar nilai-nilai ataupun norma yang telah berkembang dan disepakati dilingkungan sosialnya.

*)Alumni Sosiologi FISIP Unsyiah. Aktivitas sehari-harinya mengabdi sebagai seorang pengajar di sebuah sekolah, dan meminati isu-isu sosial.

Komentar

What do you think?

Written by virgo

Dua Negara ikuti Lomba Dragon Boat di Festival Cisadane 2017

Fauzul dan Fazlina, Bocah Tangguh Lembah Seulawah