in

Cargill gandeng YIDH dorong produktivitas lahan ribuan petani swadaya di Sumsel dan Kalbar

Palembang (ANTARA) – Cargill bekerja sama dengan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau membantu peningkatan produktivitas lahan seluas 16.600 Hektare milik 8.900 petani swadaya perkebunan sawit di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Rilis pers diterima Antara, Kamis, ribuan petani itu dilatih praktik perkebunan yang baik sebagai bagian dari komitmen Cargill untuk mewujudkan produksi minyak sawit berkelanjutan oleh petani swadaya di Indonesia.

Kemitraan ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen petani swadaya dari rata-rata 14 ton tandan buah segar (TBS) per Hektare menjadi paling sedikit 20 ton/Hektare, dengan tetap menjunjung tinggi persyaratan lingkungan untuk sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan.

Perkebunan tersebut berlokasi di desa-desa sekitar PT Poliplant Sejahtera (PSA) Cargill dan PT Harapan Sawit Lestari (HSL) di Ketapang, Kalimantan Barat, serta PT Hindoli di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan mata pencaharian petani swadaya secara berkelanjutan dengan menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Selama dua tahun ke depan, Cargill dan YIDH akan bekerja sama dengan mitra pelaksana mereka yaitu Bentang Kalimantan dan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) untuk memberikan pelatihan tentang Praktik Pertanian yang Baik dan Prinsip- Prinsip Keberlanjutan.

Cargill telah menjalankan kemitraan serupa dengan 22.000 petani plasma di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Selain praktik pertanian yang baik, program ini juga akan memberikan pelatihan di bidang lain seperti pemetaan partisipatif, pengelolaan kawasan konservasi tinggi dan stok karbon tinggi serta pengelolaan limbah.

Para mitra akan memastikan bahwa pembukaan lahan baru tidak dilakukan dengan cara bakar serta tidak dilakukan di kawasan hutan atau lahan gambut.

Kemitraan ini juga mendukung Rencana Aksi Nasional Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia dengan meningkatkan kapasitas petani swadaya untuk mendapatkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Melalui ISPO, legalitas petani swadaya seperti Sertifikat Pendaftaran Budidaya (STDB) akan dipenuhi, sementara RSPO akan memastikan produktivitas petani dapat ditingkatkan untuk memenuhi prinsip dan kriteria keberlanjutan Standar Sertifikasi Petani Swadaya (RISS).

Fitrian Ardiansyah, Ketua Eksekutif Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH), mengatakan pihaknya sangat mendukung rencana aksi berkelanjutan ini karena merupakan komponen penting untuk pertumbuhan jangka panjang.

Komitmen ini memastikan bahwa semua kegiatan akan berdampak positif bagi wilayah Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

 

What do you think?

Written by Julliana Elora

Djokovic catatkan kemenangan ke-70 di Roland Garros

Cara minum kopi kekinian jadi lebih sehat menurut pakar