in

Cerita Mustafa Abubakar yang Sempat Dimarahi Megawati (1)

Mobil dengan nomor plat Bl 11 bergerak dari teras Hermes Hotel melintasi jalan-jalan di Banda Aceh, Aceh Besar menuju Meulaboh. Di mobil milik wakil ketua DPRA, Sulaiman Abda itu duduk lelaki kelahiran Pidie, 15 Oktober 1949, yaitu Dr. Ir. Mustafa Abubakar.

Di luar langit terlihat cerah. Cerita pun mengalir dari Gubernur yang mengemban tugas selama 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, dan 1 hari di Aceh.

“Seorang guru putri dari Sekolah Modal Bangsa mengingatkan bahwa tugas saya di Aceh adalah 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, dan 1 hari, dan itu benar adanya,” kata Menteri Negara BUMN semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu (5/11).

Salah satu tugas berat sosok yang akrab disapa Pak Mus itu adalah terkait implementasi MoU Helsinki dalam wujud RUUPA. Ia berkisah saat sempat dimarahi Megawati terkait RUUPA sebagai turunan dari MoU Helsinki.

“Saat bertandang di markas PDIP itu rombongan kami sempat dimarahi, marah betul Ibu Mega. Asal muasal marahnya terkait MoU Helsinki, yang turunannya adalah RUUPA,” cerita Pak Mus.

Mega dikisahkan menggugat keberadaan MoU Helsinki. Rasa kebangsaannya tersentuh dan rombongan dari Aceh yang dipimpin Pelaksana Tugas Harian Gubernur Aceh, Mustafa Abubakar dimarahi Megawati. Megawati disebut mempertanyakan kenapa untuk kepentingan dalam negeri harus diselesaikan di luar negeri.

“Kami sabar disepanjang Ibu Mega bicara menggugat proses penyelesaian Aceh yang dilakukan di luar negeri,” tambah Pak Mus.

Lalu, saat rombongan Aceh pamit, Pak Mus meminta agar Ibu Megawati bersedia berfoto bersama dengan alasan sudah datang dari jauh-jauh dan sangat ingin berfoto bersama dengan Presiden RI ke-5. Pada saat itu, Megawati disebut masih dalam suasana batin yang marah dan nyaris menolak foto bersama.

“Ibu, bagi kami ibu Mega adalah ibu kami semua,” cerita Pak Mus menyentuh hati Megawati seraya mengingatkan hubungan historis Aceh dengan Soekarno, ayah dari Megawati.

“Rupanya, sentuhan historis itu menyentuh hati Ibu Megawati. Tiba-tiba Ibu Megawati luluh, dan seketika memanggil Sutradara Ginting dan memesan agar membantu semua proses yang dibutuhkan Aceh terkait pengesahan RUUPA,” cerita Pak Mus mengisahkan perintah tegas Megawati kepada Sutradara Ginting untuk membantu mewujudkan kepentingan Aceh melalui UUPA.

Pak Mus mengakui bahwa perintah Megawati itu membuat keberadaan PDIP di DPR RI sangat membantu proses pembahasan dan pengesahan RUUPA. “Sangat maksimal dukungan PDIP dalam pembahasan dan pengesahan,” sebut Mustafa Abubakar.

Mobil masih melaju hingga kami bertemu hujan lebat di atas Gunung Kulu dan Gunumg Paro. Cerita masih mengalir dari soaok yang sudah menerbitkan buku berjudul ‘Berani Tidak Populer’ yang diluncurkan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Jumat (13/11) 2009.

Komentar

What do you think?

Written by Julliana Elora

Hendri Septa BBus (Acc) MIB, Bergerak dan Berdaya Bersama Orang Muda

Novanto Mengadu Soal Meme, LBH Pers: Jangan Tipis Kuping