in

Dia ke Sana, Aku ke Sini, Sebuah Cerpen

Pagi cerah tanpa awan. “Ya iya jelaslah, namanya cerah ya ga ada awan”. “Eh belum tentu, kan ada tuh yang namanya cerah berawan”. “Hmm…” Sudah, kembali ketopik! Waktu itu, ada Dia. Anggap saja namanya Dia.

Di pagi cerah yang katanya tak berawan itu, si dia mencoba berjalan. Pergi ke sana. Ke tempat baru yang penulispun tidak tahu itu di mana. Eh, maaf, penulis khilaf, jadi masuk ke tulisan deh. Kuy balik lagi.

Dia berjalan ke arah sana. Mencari suatu pencerahan yang sudah cerah. Dia sudah berjalan, lalu lelah. Kalau lelah alias capek si Dia ini akan langsung duduk, lalu termenung. Nah, sekarang si Dia duduk.

Memantau ke kanan, lalu ke kiri. Lihat pemandangan. “Kayanya ga ada apa-apa nih”. Kata Dia sambil bersuara. Oh, ternyata Dia tidak mencari pemandangan, melainkan “pemandangan”. FYI, Dia ini cowok. Tinggi, kekar, perut abs, rupa juga memadai. Eh tapi ternyata jomblo. Duh sedihnya.

Sekian dulu untuk Dia. Sesuai judul, yuk kenalan sama Aku. Aku (bukan penulis) itu perempuan. Sangat cantik….. Setidaknya, itu yang dikatakan ibunya setiap pagi. Kalau Dia tadi pergi ke sana. Maka Aku ini berbeda. Aku akan tetap di sini. Ya di sini.
Aku adalah seorang pendiam. Tak banyak bicara, namun anggun kalau dilihat. Kaya cewek-cewek idaman gitu dah. Karena Aku pendiam, Aku tidak suka pergi ke mana-mana. Aku hanya suka diam di sini dan merenung (seperti Dia di sana).

Yang direnungkan beragam. Mulai dari hidupnya, orang tuanya, cita-citanya, sampai masa mudanya yang menjomblo selama 17 tahun. Eh tapi, baru saja, karena Dia, perenungannya bertambah. Ya si Dia itu mulai masuk dalam daftar perenungannya.

Semua bermula ketika Dia yang di sana datang ke sini untuk berbelanja. Aku (seorang pelayan toko tempat Dia berbelanja) melayani Dia ketika ingin membeli beberapa barang. Aku memandang wajah Dia. Dilihat dengan seksama lalu menarik kesimpulan, Dia ganteng!

Oh ternyata, Aku jatuh cinta kepada Dia pada pandangan pertama. Mirip seperti ftv-ftv harian di tipi-tipi itu. Itulah awal mula Aku mulai menaruh Dia dalam perenungan pribadi setiap harinya.

Eh ternyata, Diapun sama. Memandang Aku dengan seksama, melihat, menilik, menelaah. “Hmmmmm…… ni cewek siapa ya namanya?” Gumam Dia dalam hati. Dia gelisah, tak pernah terlihat cewek secantik Aku sepanjang hidupnya. Namun mungkin semesta belum merestui. Dia pulang ke rumah dan Aku tetap merenungi Dia yang membuatnya terpesona.

Akhirnya, Aku tetap di sini, menanti Dia kembali tetapi malah pergi ke sana dengan hanya merenung. Sekian cerpen tidak jelas dari penulis. Hal terpenting adalah jika memang suka, maka majulah! Jangan cuma mengagumi dari jauh, ga guna keles! Mulai biasakan bangun hubungan, mungkin saja orang yang kamu suka juga punya perasaan yang sama. Eh tapi, kalo ga ya resiko hehehe.

Tags: Cerpen, Cerpen Lucu

Loading…

What do you think?

Written by Julliana Elora

KONI Pasbar Beri Asuransi Atlet

Tantri Kotak : syarat nonton Kotak jangan panggil kami tante dan om