in

Emiten Sarung Tangan Cetak Laba Bersih Rp65,49 Miliar

Penjualan sebesar 94,02 persen yang diperoleh oleh MARK pada kuartal III-2019 berasal dari pasar ekspor

JAKARTA – Emiten produsen cetakan sarung tangan, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) berhasil memperoleh peningkatan laba bersih pada kuartal III-2019 sebesar 11,32 persen menjadi 65,49 miliar rupiah, dibandingkan kuartal III-2018 sebesar 58,83 miliar rupiah. Peningkatan laba komprehensif ini juga diiringi dengan peningkatan penjualan pada kuartal III-2019 sebesar 11,13 persen atau menjadi 267,21 miliar rupiah, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 240,44 miliar rupiah.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/10), mengatakan penjualan yang diperoleh oleh MARK pada kuartal III-2019 sebesar 94,02 persen berasal dari pasar ekspor dan sisanya 5,98 persen pasar domestik. Nilai penjualan ekspor di kuartal III-2019 lebih besar 9,98 persen dari penjualan ekspor di periode sama tahun sebelumnya. Sementara kontribusi pasar ekspor pada triwulan III-2018 mencapai 95,10 persen dari total penjualan. “Ini menunjukkan Perseroan berhasil meningkatkan nilai penjualan ekspor sekaligus meningkatkan pasar baru domestik,” ungkapnya.

Pencapaian MARK tidak terlepas dari keberhasilan menjaga tingkat efisiensi seraya mempertahankan kualitas produk sesuai permintaan pelanggan. Hal ini dilihat dari margin laba kotor sebesar 44,18 persen dengan nilai 118,04 miliar rupiah. Nilai ini lebih baik dari pencapaian periode sama di tahun sebelumnya dengan pencapaian margin laba kotor sebesar 43,61 persen dengan nilai 104,85 miliar rupiah.

Berkah Perang Dagang

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok juga memberi berkah bagi industri sarung tangan karet, dengan kenaikan tarif impor yang diberlakukan AS kepada produk Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen yang efektif per 1 September 2019. Hal ini membuat industri sarung tangan karet berpotensi menggeser pasar sarung tangan Vinyl dan Nitrile produksi Tiongkok yang saat ini menguasai 44 persen impor sarung ke AS.

Saat ini, perusahaan pemasok sarung tangan terbesar secara global adalah negara Malaysia dengan 63 persen, diikuti Thailand 18 persen, Tiongkok 10 persen dan kontribusi langsung Indonesia hanya 3 persen. Perang dagang dengan tarif impor yang tinggi ke AS atas produk Tiongkok akan menggeser peta pasar sarung tangan AS.

“Pemasok utama sarung tangan AS akan bergeser dari Tiongkok ke Malaysia sebagai produsen sarung tangan karet terbesar di dunia. Secara tidak langsung hal ini akan menjadi sinyal positif,” tegas Ridwan.

Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai pada kuartal III-2019 berjalan, seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dengan total aset Perseroan meningkat 36,09 persen menjadi 432,86 miliar rupiah per 30 September 2019, dibandingkan dengan 318,08 miliar rupiah per 31 Desember 2018.

Aset lancar mengalami peningkatan 43,53 persen dengan nilai 232,73 miliar rupiah per 30 September 2019, dibandingkan dengan 162,14 miliar rupiah per 31 Desember 2018. Sementara peningkatan aset tidak lancar 28,35 persen dengan nilai 200,13 miliar rupiah per 30 September 2019, dibandingkan dengan 155,93 miliar rupiah per 31 Desember 2018. 

yni/AR-2

What do you think?

Written by Julliana Elora

Zarco pasang target finis 10 besar di Sepang

Menag: Banyak Mudaratnya, Sistem Khilafah Tidak Boleh ada di Indonesia